![]() |
| Darjonesia Dances Festival 2026 (foto ist.) |
Damariotimes.
Pengungkapan seni tari kontemporer saat ini tidak lagi sebatas peragaan
estetika gerak yang elastis, melainkan sebuah pertaruhan gagasan intelektual
dan spiritual di atas panggung. Dalam konstelasi sembilan proposal pertunjukan
tari yang diajukan, terlihat lanskap ekspresi yang beragam—mulai dari
transendensi spiritual, kesadaran ekologis, pencarian eksistensial, hingga kritik
sosio-politik. Analisis ini secara kritis membedah visualisasi tampilan
koreografi, relevansi konsep terhadap struktur penyajian visual, serta
bagaimana rekam rekam jejak berkesenian para koreografer mewujud menjadi karya
pertunjukan yang matang.
1.
Dialektika Tubuh Spiritual dan Ekologis
Tasawuf (Iing Sayuti) & Surya Timur (Noriko)
Pada
karya Tasawuf, Iing Sayuti menawarkan bentuk penyajian yang sangat intim
dan minimalis. Koreografi ini mengandalkan konsep pelepasan ego demi menyatu
dengan nilai keilahian. Relevansi konsep ini diwujudkan melalui visualisasi
pertunjukan yang meditatif. Penggunaan iringan instrumen Tarawangsa dan Kidung
Cirebon mempertegas atmosfer sakral, sementara gerak tubuh berangsur hening
untuk mencerminkan proses meluruhkan eksistensi diri. Pengalaman Iing Sayuti
sebagai penari solo sekaligus koreografer memungkinkan dirinya memusatkan
energi kinetik tanpa terdistraksi oleh dinamika kelompok.
Sebaliknya,
Noriko membumikan kesadaran spiritual menjadi aksi ekologis dalam Surya
Timur. Visualisasi panggung sangat ditentukan oleh pemanfaatan artefak
budaya—topeng Noh Jepang. Topeng ini berfungsi sebagai medium puitis
yang menampung keputusasaan makhluk hidup sekaligus ungkapan rasa syukur
terhadap alam semesta. Musik elektro-akustik karya Dmitry Soul memberikan ritme
yang mendukung kontemplasi. Kehadiran Noriko sebagai penari berlatar budaya
lintas negara memperkuat relevansi karya ini; kesadaran akan krisis ekologi
global diterjemahkan melalui disiplin ketat teknik gerak topeng tradisional
Jepang.
2.
Metafora Eksistensial dan Penjelajahan Somatik
Andai,
Rumah tanpa Tapi (Galih
Puspita Karti) & Ni-Ti-Teni (Patry Eka Prasetya)
Galih
Puspita Karti menampilkan kecerdasan tekstual melalui metafora biologis
kelomang (umang-umang) pada Andai, Rumah tanpa Tapi. Relevansi
antara konsep dan tampilan visual panggung mewujud pada penggunaan jeda (pause)
dan keheningan di sela-sela dramaturgi gerak. Gerak tubuh yang rapuh, lunak,
dan terus berpindah posisi mengimitasi gestur kelomang yang kehilangan
cangkang. Latar belakang akademis Galih (M.Sn.) terlihat jelas dari
kemampuannya menerjemahkan konsep kerentanan psikologis menjadi kosakata gerak
kontemporer yang terstruktur tajam.
Di
sisi lain, Patry Eka Prasetya menyajikan kritik tubuh secara gamblang lewat
karya Ni-Ti-Teni (Wutuh Seng Sempal). Tampilan koreografi ini tidak
mengejar estetika presisi yang molek, melainkan menampilkan bentuk-bentuk gerak
patah, canggung, dan distorsif. Hal ini sangat relevan dengan latar belakang
teoritisnya mengenai "tubuh yang gagal memenuhi ekspektasi luar".
Rekam jejak Patry yang kaya—mulai dari breakdance, pendidikan formal
STKW Surabaya, hingga jam terbang menari 12 jam nonstop—memberikan basis
somatik yang kokoh. Pengalaman lapangannya menjamin bahwa ketegangan fisik yang
dihadirkan di atas panggung adalah sublimasi dari memori krisis yang dialami
langsung oleh tubuh sang penari.
3.
Lokalitas, Tradisi, dan Narasi Perlawanan
Kalilan (Yoga Achmad Subagyo) & Jattah (Calvin Desta
Nanda Saputra)
Karya
Kalilan milik Yoga Achmad Subagyo memperlihatkan struktur koreografi
yang eksplisit dan sistematis. Dibangun dalam format duet, pertunjukan ini
memadukan estetika tari Remo, Jaranan, dan ritus Tiban
Kediri yang dikemas secara kontemporer. Relevansi visual ditunjukkan lewat
kontras dinamika: dari adegan keheningan perenungan, diakhiri dengan hentakan
kaki (seblak/gedrug) bertempo tinggi yang mengekspresikan kepasrahan
batin (kalilan). Pemilihan instrumen slompret dan vokal Jawa
memperkuat lokalitas gagasan. Rekam jejak Yoga dalam mengeksplorasi tari
tradisi Jawa Timuran menjadikannya piawai dalam merangkai adegan emosional
tanpa kehilangan pijakan akar budayanya.
Calvin
Desta Nanda Saputra melalui Jattah menghadirkan narasi kritik sosial
terhadap keserakahan manusia. Koreografi ini mentransformasikan dorongan
instingtual "makan" menjadi gerakan mekanis yang saling memangsa.
Relevansi konsep terlihat pada transisi bentuk gerak dari tarian naluriah yang
alamiah menuju ekspresi agresif bagai mesin penggiling. Pengalaman Calvin yang
tumbuh di ekosistem Reog Ponorogo, ditambah pengalaman internasional (International
Mask Festival) dan karya terdahulunya (Chess dan Tilas),
memberikannya kepekaan dramaturgi yang kuat. Ia mampu memimpin kelompok penari
muda untuk menampilkan performa bertenaga tinggi yang menggambarkan ekosistem
yang terganggu.
4.
Inovasi Material, Filosofi Kembalinya Jiwa, dan Kritik Sosio-Politik
Serat
Kambut (Lalu Suryadi), Bar Ngerong
(Irfan Gepeng), & Roh di Antara Riuh (Benny Krisnawardi)
Lalu
Suryadi Mulawarman menghadirkan pendekatan interdisipliner yang unik
dalam Serat Kambut. Pertunjukan ini menggabungkan seni pertunjukan
dengan fashion dan kesadaran lingkungan. Tampilan visual koreografi
didominasi oleh eksplorasi material benang limbah rempah yang diaplikasikan
pada busana penari SakSak Dance Production. Relevansi gerak berfokus pada
artikulasi tekstur kain, lekukan tubuh, serta pencahayaan yang menonjolkan
estetika material. Latar belakang Lalu (S.Sn., M.M.) memperlihatkan perpaduan
antara kriya seni dan manajemen budaya yang visioner.
Sementara
itu, Irfan Gepeng menawarkan koreografi bersuasana perenungan dalam Bar
Ngerong. Gagasan tentang "pulang ke asal" diterjemahkan ke dalam
pola lantai melingkar dan gerakan-gerakan terikat yang berulang (repetitif).
Didukung oleh 10 personel (penari, pemusik luar kota, dan penata cahaya),
tampilan panggung mengandalkan permainan bayangan dan intensitas pencahayaan
untuk menciptakan kesan ruang yang dalam. Rekam jejak Irfan sebagai koreografer
independen tercermin dari keberaniannya menyajikan alur dramatik yang lambat
namun intens.
Sebagai
penutup, Benny Krisnawardi menyajikan koreografi protes sosial yang megah lewat
Roh di Antara Riuh. Visualisasi panggung diisi oleh pergerakan ansambel
tujuh penari yang mengombinasikan kelugasan gerak tubuh, hentakan ritmis, dan
olah vokal organik. Relevansi antara konsep dan tampilan panggung terwujud
dalam visualisasi sosok "Ibu Pertiwi" yang didera keprihatinan atas
hiruk-pikuk pertikaian bangsa. Portofolio Benny yang sangat matang—mulai dari
keterlibatan di Indonesia Dance Festival (IDF), penggarapan karya kolosal
panggung stadion, hingga juara tingkat nasional—menjadi jaminan atas keutuhan
komposisi kelompok dan penyampaian pesan yang tajam kepada penonton.
Kesimpulan
Sembilan
proposal koreografi ini menunjukkan tingkatan kematangan seni yang luar biasa.
Koreografer tidak hanya bertindak sebagai perancang gerak, melainkan sebagai
pemikir budaya yang menggunakan tubuh sebagai medium kritik, kepasrahan, dan
inovasi. Relevansi antara gagasan tulisan dan bentuk yang diproyeksikan di atas
panggung dibuktikan melalui ketepatan pemilihan instrumen musik, eksplorasi
material, desain tata cahaya, serta dramaturgi gerak. Pengalaman dan rekam
jejak masing-masing koreografer menjadi pondasi utama yang mengubah abstraksi
konsep menjadi sebuah pertunjukan tari kontemporer yang utuh dan bernilai
estetis tinggi.
Pengamat Darjonesia Sidoarjo: Prof.
Dr. Robby Hidajat, M.Sn.

Artikel ini mengulas sembilan proposal tari kontemporer di Darjonesia Dances Festival 2026 yang mengangkat isu spiritualitas hingga kritik sosial. Ulasan tersebut memperlihatkan bagaimana rekam jejak para koreografer berhasil mentransformasikan gagasan konseptual menjadi pertunjukan panggung yang matang.
BalasHapus