Tubuh, Realitas, dan Protes Sosial: Membedah Gagasan 9 Koreografer Dirjonesis Dances Festival 2026

 






Jadwal Pertunjukan Hari Pertama: Minggu, 6 September 2026

Rangkaian penyajian koreografer pada Darjonesia Dances Festival – Sidoarjo Jawa Timur; hari pertama dibuka oleh Yoga Kameswara (Yoga Achmad Subagyo) asal Kediri dengan karyanya yang berjudul Kalilan. Koreografi duet ini mengawinkan estetika tari Remo, Jaranan, dan ritus Tiban Kediri yang dikemas secara kontemporer. Lewat kontras dinamika—mulai dari keheningan perenungan hingga hentakan kaki bertempu dengan posisi tegak (seblak/gedrug) yang diiringi slompret dan vokal Jawa—Yoga mengeksplorasi kepasrahan batin. Secara sosial, konsep kalilan (keikhlasan/kepasrahan) menjadi antitesis yang sangat relevan di tengah masyarakat modern yang sering kali mengalami burnout akibat obsesi untuk terus mengontrol kehidupan.

Selanjutnya, Patry Eka Prasetya dari Sidoarjo membawakan karya Ni-Ti-Teni (Wutuh Seng Sempal). Berbekal latar belakang breakdance hingga pengalaman menari 12 jam nonstop, Patry menyajikan pergerakan tubuh yang patah, canggung, dan distorsif. Pendekatan somatik ini menggali konsep "tubuh yang gagal memenuhi ekspektasi luar". Karya ini menghadirkan kritik sosial yang tajam terhadap maraknya penyeragaman standar tubuh (body image) di media sosial, di mana tubuh manusia sering dipaksa memenuhi standar estetika luar hingga mengabaikan luka dan trauma psikologis di dalamnya.

Eksplorasi berlanjut pada karya Lalu Suryadi Mulawarman dari Mataram melalui Serat Kambut. Karya interdisipliner yang melibatkan SakSak Dance Production ini memadukan seni pertunjukan, fashion, dan eksplorasi material benang limbah rempah pada busana penari. Visualisasi panggung yang menonjolkan tekstur kain dan artikulasi tubuh ini menyentuh isu realitas sosial terkait fast fashion dan krisis lingkungan. Koreografer secara cerdas menunjukkan bagaimana kriya seni dan kesadaran ekologis dapat berpadu menjadi bentuk wacana kritis di atas panggung pertunjukan.

Pertunjukan hari pertama ditutup oleh Benny Krisnawardi dari Jakarta melalui karya ansambel Roh di Antara Riuh. Melibatkan tujuh penari dengan keutuhan komposisi kelompok yang matang, karya ini menggabungkan kelugasan gerak, hentakan ritmis, dan vokal organik untuk memvisualisasikan sosok "Ibu Pertiwi" yang didera keprihatinan. Dalam konteks realitas sosial saat ini, karya Benny hadir sebagai jeritan kebangsaan yang sangat kuat merespons fenomena polarisasi politik dan konflik sosial yang kian mengikis rasa empati serta kebersamaan bangsa.

 

Jadwal Pertunjukan Hari Kedua: Senin, 7 September 2026

Hari kedua rangkaian penyajian koreografer pada Darjonesia Dances Festival – Sidoarjo Jawa Timur; Diawali oleh koreografer asal Surabaya, Irfan Gepeng, dengan karya perenungan bertajuk Bar Ngerong. Melalui pola lantai melingkar, gerakan repetitif, dan permainan intensitas pencahayaan bersama sepuluh personelnya, Irfan menerjemahkan gagasan tentang "pulang ke asal". Karya ini menyentuh kedalaman realitas tentang alienasi atau keterasingan manusia modern. Di tengah peradaban perkotaan yang serba mekanis dan digital, karya ini menjadi pengingat atas kerinduan mendasar manusia untuk kembali menemukan keheningan dan akar budayanya.

Kemudian, Iing Sayuti dari Indramayu menghadirkan suasana meditatif lewat karya solo Tasawuf. Dengan iringan instrumen Tarawangsa dan Kidung Cirebon, tubuh penari berangsur hening untuk mencerminkan proses pelepasan ego demi menyatu dengan nilai keilahian. Di tengah maraknya budaya narsisme digital dan pamer eksistensi di media sosial saat ini, pendekatan spiritual yang diusung Iing memberikan ruang kontemplasi yang kuat tentang pentingnya meluruhkan ego pribadi.

Pencarian eksistensial dilanjutkan oleh Galih Puspita Karti dari Jogjakarta melalui karya Andai, Rumah tanpa Tapi. Galih menerjemahkan konsep kerentanan psikologis menggunakan metafora biologis kelomang (umang-umang) yang kehilangan cangkang, yang diwujudkan lewat gerak tubuh rapuh serta permainan jeda (pause) di panggung. Koreografi ini merefleksikan realitas sosial generasi muda saat ini yang kerap mengalami prekaritas—rasa tidak aman, krisis hunian (housing crisis), serta ketidakpastian masa depan di tengah perubahan zaman yang serba cepat.

Berikutnya, penari lintas negara asal Jepang, Noriko Maragishi, menyajikan karya bertajuk Surya Timur. Dengan disiplin teknik topeng Noh tradisional Jepang yang dipadukan dengan musik elektro-akustik karya Dmitry Soul, Noriko membumikan kesadaran spiritual menjadi aksi ekologis. Karya ini membedah krisis iklim global secara mendalam, menggambarkan keputusasaan makhluk hidup sekaligus harapan akan kelestarian alam, yang mempertegas bahwa isu lingkungan hidup merupakan tanggung jawab kolektif lintas batas negara.

Sebagai penutup festival, Calvin Desta Nanda Saputra dari Ponorogo menampilkan karya bertenaga tinggi bertajuk Jattah. Berbekal pengalaman dalam ekosistem Reog Ponorogo, Calvin mentransformasikan dorongan instingtual "makan" menjadi gerakan mekanis yang saling memangsa bagai mesin penggiling. Koreografi ini menjadi metafora dan kritik sosial yang sangat menohok terhadap keserakahan sistem kapitalisme eksploitatif, di mana manusia dan alam sering kali dikorbankan demi memuaskan kebuasan ekonomi yang merusak ekosistem kehidupan.

 

Penulis: Prof. Dr. Robby Hiadajat, M.Sn.

 

Posting Komentar untuk "Tubuh, Realitas, dan Protes Sosial: Membedah Gagasan 9 Koreografer Dirjonesis Dances Festival 2026"