![]() |
| logo tampilan Irfan Gepeng (Foto ist.) |
Damariotimes. Setiap jejak langkah
manusia sejatinya merupakan perjalanan yang perlahan mengikis jarak dari tempat
asalnya. Manusia kerap melangkah jauh, mengarungi dinamika kehidupan yang
dipenuhi keinginan yang ingin dicapai, riuh perjalanan, hingga tumpukan kegelisahan
yang mengendap di dalam dada. Namun, di balik seluruh pengembaraan yang
terkesan tanpa batas itu, muncul kesadaran hening bahwa makna terdalam dari
eksistensi tidak terletak pada seberapa jauh jarak yang berhasil ditempuh.
Kehidupan justru menuntun manusia untuk memahami bahwa sejatinya, setiap
perjalanan adalah rangkaian proses halus untuk kembali.
Dalam ruang batin yang sunyi, manusia
selalu membutuhkan ceruk untuk mengendapkan seluruh riak emosi. Tempat itu
hadir sebagai ruang pemulihan bagi luka-luka yang tergores selama perkelanaan,
sekaligus menjadi wahana untuk memperbarui kesadaran diri yang sempat terkikis
oleh kepenatan dunia. Dalam siklus kehidupan yang terus berputar tanpa pernah
benar-benar menyentuh garis akhir, mengembara sejauh apa pun hanyalah alur
melingkar. Pada akhirnya, setiap langkah akan selalu ditarik kembali menuju Ngerong—sebuah
titik muasal yang pada hakikatnya tak pernah sungguh-sungguh ditinggalkan,
melainkan senantiasa memanggil untuk dipulangkan.
Esensi kepulangan ini ditegaskan
sebagai siklus kehidupan yang senantiasa terbuka. Sebuah titik akhir tidak
pernah benar-benar menjadi penutup, melainkan jeda bernapas untuk menyambut
awal yang baru. Setiap kali kaki melangkah pulang, di situlah lahir kesempatan
untuk hadir kembali dengan jiwa yang lebih utuh dan segar. Karya ini memandang
bahwa kepulangan bukanlah bentuk penyerahan diri atau kekalahan, melainkan proses
spiritual dan emosional untuk mengakar kembali pada muasal kesadaran manusia.
Melalui olah gagasan dan kedalaman
visi artistik sang koreografer, Irfan Gepeng, narasi kepulangan ini diwujudkan
secara utuh ke atas panggung pementasan. Struktur pertunjukan ini didukung oleh
empat orang penari yang mengartikulasikan gejolak pengembaraan dan kepulangan
melalui bahasa tubuh yang ekspresif. Harmonika rasa semakin diperkuat oleh
dentuman musik dari dua orang pemusik luar kota yang menghadirkan lanskap audio
nan magis. Di balik layar, sinergi yang utuh dari tiga orang kru serta tata
pencahayaan presisi dari seorang lighting man membangun atmosfer
pertunjukan yang mampu memindahkan makna mendalam dari konsep Ngerong
langsung ke hadapan penikmatnya.
Karya seni pertunjukan yang sarat makna
filosofis ini ditampilkan pada ajang Darjonesia Dances Festival yang
diselenggarakan di Dewan Kesenian Sidoarjo, Jawa Timur, pada tanggal 6–7
September 2026. Kehadiran pementasan ini di panggung festival tersebut menjadi
momentum penting untuk mempertemukan permenungan tentang hakikat kepulangan
diri dengan apresiasi luas dari para penikmat seni pertunjukan.
Reporter: R.Dt.

Posting Komentar untuk "Kesadaran dalam Lingkar Kepulangan: Menyelami Kedalaman "Bar Ngerong" di Darjonesia #1 Sidoarjo Jawa Timur 2026"