Dedikasi dr. Dian Agung Anggraeny Membasuh Luka dengan Cinta Kasih


dr.Dian Agung Anggraeny; dokter cantik yang bekerja dengan hati (Foto ist.)


Damariotimes. Di sebuah sudut Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, berdiri sebuah Klinik Dian Agung Kusuma Wijaya. Tempat ini  menjadi saksi bisu atas perjalanan kemanusiaan seorang dokter cantic, bernama dr. Dian Agung Anggraeny. Sejak pertama kali membuka praktik pada tahun 2008, beliau telah menanamkan nilai-nilai pengabdian yang jauh melampaui transaksi medis dengan uang. Perempuan kelahiran 14 Februari 1977 ini bukanlah sosok dokter biasa yang terpaku pada tarif layanan kesehatan. Selama lima belas tahun, beliau  praktik telah mengukir kisah unik yang membuatnya dikenal luas dengan julukan "Dokter Sayur". Julukan ini lahir dari rahim kepeduliannya yang mendalam terhadap warga kurang mampu, dr. Dian sering kali menerima pembayaran pengobatan berupa sayuran atau hasil bumi dari pasiennya, bahkan memberikan pelayanan cuma-cuma bagi mereka yang benar-benar tidak memiliki biaya.



dr. Dian di bayar dengan hasil bumi pasiennya (Foto ist.)



Bagi dr. Dian, kebahagiaan sejati dapat tidak ditemukan dalam tumpukan materi, melainkan terpancar dari senyum orang-orang yang berhasil disembuhkan dari derita penyakitnya, hatinya selalu berdoa, selain obat dan suntikan yang menjadi sarana untuk pasiennya menjadi sehat kembali. Pedoman hidupnya sangat jelas, bagi dr. Dian Agung Anggraeny; bahwa kehilangan keuntungan materi bukanlah kerugian, asalkan orang mampu dapat merajut tali persaudaraan yang baru dengan sesama manusia. Jiwa sosial yang begitu kental ini rupanya merupakan warisan luhur dari kedua orang tuanya yang juga merupakan tenaga medis juga. Beliau tumbuh besar dengan melihat teladan sang ayah yang seorang perawat dan ibu yang seorang bidan. dr. Dian belajar sejak dini bahwa menolong orang yang membutuhkan bantuan medis adalah kewajiban moral yang harus dijalankan tanpa pamrih. Sebagai keturunan keluarga ningrat yang menjunjung tinggi budi pekerti, baliau  tidak pernah membatasi pergaulannya dan senantiasa mampu manjing ajer-ajer, atau membaur dengan sangat luwes di berbagai lapisan masyarakat.



dr. Dian (sebelah kanan), menyertai Cak Marsam Hidayat di rumah Abah Kirun (Foto ist.)


Dedikasi dr. Dian tidak hanya berhenti di ruang praktik kliniknya yang selalu dipadati pasien. Beliau  sering kali melakukan "blusukan" ke daerah-daerah pelosok demi memberikan pemeriksaan kesehatan gratis dan menyelenggarakan program sunat massal tanpa biaya bagi warga prasejahtera. Kerja keras dan empati yang luar biasa ini akhirnya mengantarkan dirinya meraih penghargaan Women Of The Year pada tahun 2023. Namun, di balik kesibukannya yang luar biasa, dr. Dian tetap menyisihkan waktu untuk merawat akar budaya Jawa yang dicintainya. Sebagai Bendahara Dewan Kesenian Kabupaten Malang dan Ketua II Pamong Kebudayaan Jawa Timur, beliau  menjadi jembatan yang menghubungkan dunia kesehatan dengan pelestarian tradisi, memastikan bahwa nilai-nilai kerukunan dan kebersamaan tetap hidup di tengah masyarakat.

Salah satu bukti nyata ketulusan hatinya terlihat pada bulan Maret 2026, tepat di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Bersama Cak Marsam Hidayat, dr. Dian turut menyukseskan gerakan "Gusur" atau Gugah Saur yang diinisiasi oleh maestro seni pertunjukan H. Sakirun atau Abah Kirun. Tanpa menghiraukan lelah, beliau  rela menempuh perjalanan menuju Madiun pada pukul dua belas malam demi mengambil bingkisan hari raya dan paket sembako untuk didistribusikan kepada para pelaku seni Ludruk di Malang. Baginya, bingkisan tersebut adalah bentuk perhatian besar dari seorang maestro kepada para seniman tradisional yang sedang berjuang. Tanpa bantuan dr. Dian yang sigap mengantarkan Cak Marsam Hidayat malam itu, amanah seratus paket sembako dari Abah Kirun mungkin tidak akan sampai tepat waktu diterima oleh para seniman.

Langkah dr. Dian Agung Anggraeny adalah manifestasi dari seorang pejuang kemanusiaan sejati yang patut diteladani. Melalui tangannya, seni pertunjukan Ludruk Malang menemukan kembali momentum kebersamaannya, di mana seniman tua dan muda bisa berkumpul dan bersatu di rumah Cak Marsam Hidayat untuk menata masa depan yang lebih baik. Ketulusan dr. Dian dan kedermawanan Abah Kirun telah menjadi perekat sosial yang luar biasa, membuktikan bahwa cinta kasih dan empati dapat menyatukan kembali kepingan-kepingan perjuangan seni yang sempat terserak. Pada akhirnya, dr. Dian seorang yang pekerjaannya menyembuhkan raga saja, akan tetapi juga menjadi kegembiraan seniman menjelang hari raya Idul Fitri tahun 2026 ini.

 

Kontributor : Cak Marsam

 

2 komentar untuk "Dedikasi dr. Dian Agung Anggraeny Membasuh Luka dengan Cinta Kasih"

  1. sangat mulia sekali pengabdian beliau sebagai dokter membatu orang kurang mampu

    BalasHapus
  2. Artikel ini menginspirasi tentang pengabdian seorang doktor dalam bidang pendidikan atau seni, menunjukkan komitmen luar biasa.

    BalasHapus