![]() |
| cafe Gikejab yang unik (Foto ist.) |
Damariotimes.
Kota Malang tidak pernah kehabisan cara untuk memanjakan para pencinta kuliner
dan pemburu suasana unik. Di tengah hiruk pikuk kawasan Lowokwaru yang dikenal
sebagai pusat aktivitas mahasiswa, terselip sebuah permata tersembunyi yang
menawarkan pengalaman melampaui sekadar tempat makan biasa. Terletak di Jalan
B. Kecilung Nomor 28, Kafe Golekan hadir sebagai destinasi yang memadukan
estetika vintage, kehangatan
rumah, dan sentuhan misteri yang memikat. Nama "Golekan" sendiri
diambil dari bahasa Jawa yang berarti boneka, sebuah nama yang secara harfiah
menggambarkan jiwa dari tempat ini.
Lahir pada Desember 2022, Kafe Golekan bukan sekadar bisnis
yang direncanakan di atas kertas formal, melainkan sebuah perwujudan kasih
sayang dan janji. Ibu Lusi, sang pemilik, mendirikan kafe ini untuk menjalankan
wasiat mendiang suaminya yang berpesan agar koleksi boneka mereka dikelola
menjadi sebuah usaha yang bermanfaat. Apa yang bermula dari hobi mengoleksi
sejak tahun 2010 kini bertransformasi menjadi ruang publik yang artistik. Meski
berada di area Soehat yang ramai, kafe ini justru menawarkan ketenangan yang
kontras. Tersembunyi di tengah pemukiman penduduk yang sunyi, suasana di
sekitar kafe memberikan privasi bagi siapa saja yang ingin melarikan diri
sejenak dari kebisingan kota.
Memasuki lantai pertama, pengunjung akan disambut oleh
atmosfer yang dramatis dan penuh karakter. Lantai ini difungsikan sebagai
galeri seni yang menampung lebih dari seribu boneka dengan rentang usia yang
mengagumkan, mulai dari koleksi antik tahun 1890 hingga boneka era 90-an
seperti Annabel. Di sini, pengunjung seolah ditarik melintasi lorong waktu. Bau
wewangian semerbak yang khas berpadu dengan pencahayaan redup, menciptakan
kesan mistis sekaligus magis. Boneka-boneka dengan ekspresi wajah yang
unik—beberapa di antaranya terlihat sangat nyata dan sedikit
menyeramkan—terpajang rapi di rak-rak kayu tua dan sudut-sudut ruangan. Bagi
pencinta fotografi atau mereka yang menyukai hal-hal anti-mainstream, galeri ini adalah surga. Setiap
sudutnya menawarkan narasi visual yang kuat, di mana benda-benda mati seolah
memiliki jiwa yang mengawasi dalam diam.
Naik ke lantai kedua, suasana berubah menjadi lebih hangat
dan santai. Inilah jantung dari aktivitas kulinernya. Kontras dengan lantai
pertama yang intens, lantai kedua dirancang untuk memberikan kenyamanan
maksimal bagi pengunjung yang ingin berbincang lama atau sekadar membaca buku.
Terdapat sebuah perpustakaan kecil yang menyediakan berbagai literatur, mulai
dari novel hingga buku ilmu pengetahuan, menjadikannya tempat yang sangat ramah
bagi mahasiswa maupun keluarga. Interiornya masih mempertahankan elemen kayu
dan barang antik, namun dengan pencahayaan yang lebih terang dan nyaman di
mata. Di lantai ini pula, pengunjung dapat memesan aneka hidangan dengan harga
yang sangat bersahabat, berkisar antara Rp5.000 hingga Rp30.000 saja.
Salah satu daya tarik yang tidak boleh dilewatkan adalah
menu kulinernya yang sederhana namun berkesan. Tahu krispi dan pisang goreng
menjadi primadona di sini. Berbeda dengan tempat lain, tahu krispi di Kafe
Golekan menggunakan bahan dasar tahu susu, menghasilkan tekstur yang sangat
lembut di dalam namun tetap renyah dan gurih di luar. Sambil menikmati kudapan,
pengunjung sering kali ditemani oleh beberapa ekor kucing yang berkeliaran di
dalam kafe. Keberadaan kucing-kucing ini bukan tanpa alasan; Ibu Lusi
mempercayai bahwa hewan menggemaskan ini mampu menjadi media untuk menetralkan
energi negatif. Menariknya lagi, kafe ini sangat terbuka bagi pengunjung yang
ingin membawa hewan peliharaan mereka sendiri, menciptakan suasana kekeluargaan
yang inklusif.
Bagi
mereka yang merindukan udara segar Kota Malang, lantai ketiga menawarkan konsep
semi-outdoor yang menyegarkan.
Dengan penataan tempat duduk lesehan yang fleksibel dan sebuah ayunan yang
ikonik, lantai ini menjadi tempat favorit untuk menikmati senja atau malam
hari. Dari sini, pengunjung bisa melihat pemandangan sekitar dengan hembusan
angin yang sejuk, menjadikannya ruang ideal untuk diskusi ringan atau sekadar
merenung. Musik pop kekinian yang diputar secara lembut mengiringi setiap
momen, menjaga agar suasana tetap relevan dengan selera anak muda masa kini
tanpa menghilangkan identitas klasiknya.
Ibu Lusi sendiri dikenal sebagai sosok yang sangat ramah.
Beliau sering kali berbagi cerita mengenai perjuangannya mendapatkan koleksi
boneka langka, mulai dari berburu ke kolektor lokal hingga memesan dari luar
negeri. Bagi beliau, boneka-boneka ini bukan lagi sekadar pajangan, melainkan
investasi dan bagian dari sejarah hidupnya. Pelayanan yang santai namun sopan
dari para staf semakin memperkuat kesan bahwa berkunjung ke Kafe Golekan terasa
seperti bertamu ke rumah seorang kawan lama yang memiliki selera seni tinggi.
Pada akhirnya, Kafe Golekan bukan hanya tentang rasa
makanan di lidah, tetapi tentang pengalaman sensoris yang menyeluruh. Ia adalah
ruang di mana hobi, sejarah, dan kreativitas bertemu dalam harmoni yang unik.
Bagi siapa saja yang berada di Malang, meluangkan waktu antara jam 4 sore
hingga 11 malam untuk mengunjungi rumah boneka ini akan memberikan kenangan
yang sulit dilupakan—sebuah perjalanan singkat menuju dunia yang antik, tenang,
dan penuh cerita.
Kontributor: Wahida
Jannati F.P.

Posting Komentar untuk "Kafe Golekan yang menyimpan Memori Ditengah Kehangat Secangkir Kopi"