![]() |
| pembelajaran luar kelas bukan memintah siswa belajar di luar kelas (foto ist.) |
Damariotimes.
Pembelajaran seni tari di perguruan tinggi kerap kali terjebak dalam
dinding-dinding studio yang tertutup dan kaku; padahal hakikat seni pertunjukan Nusantara
berakar kuat dari interaksi langsung dengan alam dan masyarakat. Pembelajaran
luar kelas atau outdoor learning
hadir sebagai paradigma pedagogis yang mengembalikan tari ke habitat aslinya.
Pendekatan ini memindahkan proses kreatif dari ruang latihan konvensional
menuju lingkungan alam, situs budaya, maupun ruang publik. Dalam konteks mata
kuliah Seni Tari, pembelajaran luar kelas adalah metode pengalaman langsung (experiential learning) yang
merangsang kepekaan estetis, kepekaan kinestetik, serta kesadaran ruang
mahasiswa secara holistik.
Secara filosofis, pembelajaran tari di luar kelas berpijak
pada landasan konstruktivisme dan fenomenologi tubuh. Fenomenologi tubuh
memperlakukan tubuh penari sebagai subjek yang mengada dan merasakan dunia
secara langsung. Ketika mahasiswa menari di atas tanah, pasir, atau di bawah
naungan pepohonan, tubuh mereka merespons tekstur, angin, dan kontur alam
secara intuitif. Hal ini sejalan dengan pandangan filosofis Ki Hadjar Dewantara
mengenai konsep "Tri Niti" dan pentingnya mendekatkan anak didik
dengan alam serta budayanya sendiri. Bagi Ki Hadjar Dewantara, alam adalah guru
terbesar tempat manusia mempelajari keseimbangan, irama, dan harmoni, yang
seluruhnya merupakan inti utama dari seni tari.
Tinjauan historis menunjukkan bahwa tradisi tari
tradisional di Indonesia pada mulanya lahir dan berkembang di ruang terbuka.
Tari-tarian agraris seperti Tari Zapin, Tari Kecak, hingga berbagai jenis Tari
Reog dan Sintren tidak dirancang untuk dipentaskan di atas panggung bingkai (proscenium stage) bernuansa
kaku, melainkan di pelataran desa, halaman pura, atau lapangan terbuka tempat
warga berkumpul. Pergeseran tari menuju ruangan tertutup baru terjadi secara
masif pada era modernisasi dan formalisasi pendidikan seni. Oleh karena itu,
menerapkan pembelajaran luar kelas dalam mata kuliah Seni Tari merupakan upaya
merekonstruksi akar sejarah tersebut, membawa mahasiswa kembali merasakan tentang
tradisi lokal mengolah gerak tubuh bersinergi dengan ruang geografisnya.
Tokoh pendidik dan pakar seni tari Indonesia, seperti
Bagong Kussudiardja dan Sardono W. Kusumo, telah lama memperjuangkan pembebasan
tubuh seni dari keterbatasan dinding studio. Sardono W. Kusumo, melalui
berbagai karya sisa eksplorasinya di alam terbuka seperti hutan kelapa sawit
hingga situs budaya kuno, membuktikan bahwa ruang luar memberikan energi
kreatif yang tidak bisa direplikasi oleh studio tari. Dalam tataran teori
pendidikan global, konsep ini diperkuat oleh pemikiran John Dewey mengenai Experience and Education, yang
menekankan pentingnya interaksi nyata antara pembelajar dan lingkungannya
sebagai syarat mutlak terciptanya pengalaman belajar yang bermakna.
Secara sosial kultural, pembelajaran seni tari di luar
kelas memperkuat kepekaan sosial serta keterikatan mahasiswa terhadap komunitas
tempatan. Masyarakat Indonesia memiliki struktur sosial berprinsip gotong royong
dan kebersamaan, tempat ekspresi seni berfungsi sebagai perekat sosial dan
ritus komunal. Ketika proses latihan atau koreografi dilakukan di ruang publik
atau situs adat, mahasiswa tidak hanya belajar teknik gerak, tetapi juga
menyerap nilai-nilai sosial, kearifan lokal, serta sejarah lisan yang hidup di
masyarakat sekitar. Proses pembelajaran ini mengubah mahasiswa dari kondisi penari
yang terisolasi menjadi seniman yang berakar kuat pada dinamika kebudayaan
masyarakatnya sendiri.
Implikasi akademis dari penerapan pembelajaran luar kelas
pada mata kuliah Seni Tari mencakup peningkatan kemampuan improvisasi, ekspresi
emosional, dan pemahaman keanekaragaman budaya secara nyata. Mahasiswa belajar
merespons gangguan lingkungan seperti perubahan cuaca, arah angin, atau
perhatian penonton awam sebagai bagian dari proses estetis yang dinamis.
Melalui referensi filosofis, historis, serta sosial kultural yang terintegrasi
ini, pembelajaran luar kelas berhasil menjembatani teori tari ilmiah dengan
realitas kebudayaan Nusantara, menjadikan seni tari sebagai media belajar yang
hidup, adaptif, dan berjiwa manusiawi.
Penulis: R.Dt.

senang sekali dengan pembelajaran seni di luar kelas,karena bisa belajar dengan sejuk dan bisa melatih kepekaan dengan alam juga
BalasHapus