Semiotika Semiotis-Struktural terhadap Fenomena Narasi Binatang Mitos dalam Dapur Sinematik TikTok

 





Mitos baru dalam layar ponsel anda (foto ist.)


Damariotimes. Perkembangan media sosial berbasis durasi pendek, khususnya platform TikTok, tidak hanya meredefinisi lanskap hiburan digital, tetapi juga mereproduksi representasi budaya dan pembentukan kognitif massa secara masif. Salah satu fenomena yang kian menonjol adalah kemunculan konten film mikro berseri yang menghadirkan sosok binatang mitos berpakaian, memiliki kemampuan berbahasa manusia, serta bertindak sebagai figur domestik layaknya seorang ibu atau anggota keluarga. Secara visual, fabel digital ini mungkin tampak sebagai bentuk hiburan imajinatif yang tidak berbahaya. Namun, melalui kacamata semiotika struktural, struktur naratif yang tersaji secara berulang dalam format virtual ini merepresentasikan penanaman kembali (re-enchantment) logika mistik yang beroperasi secara sistematis dalam ruang kognitif sosial masyarakat kelas bawah.

Dalam analisis semiotika struktural, tanda tidak pernah berdiri bebas dari tatanan ideologis yang melatarbelakangnya. Fenomena binatang mitos yang berartikulasi seperti manusia menghadirkan hubungan penanda (signifier) dan petanda (signified) yang sangat kompleks. Di satu sisi, terdapat penanda visual-verbal berupa wujud fisik binatang mitos seperti naga, rubah ekor sembilan, atau siluman yang disandingkan dengan gestur pengasuhan, pakaian domestik, serta bahasa verbal yang penuh kasih sayang. Di sisi lain, muncul petanda konseptual yang menggabungkan daya gaib kuno (mythical power) dengan perlindungan domestik (maternal protection). Penggabungan dua elemen yang bertolak belakang ini melahirkan mitos tingkat kedua (second-order semiotic system), di mana kekuatan gaib tidak lagi ditakuti sebagai entitas yang asing, melainkan dimestikasi menjadi sosok penolong yang akrab. Melalui pengulangan ritmik dalam algoritma film mikro berseri, simulasi ini beroperasi sebagai mekanisme naturalisasi. Struktur naratif tersebut menyusup ke dalam lanskap keseharian penonton dan secara bertahap menghapus batas antara realitas objektif dan alegori mistis, sehingga menjadikan mitos supranatural sebagai sesuatu yang sah dan diterima secara emosional.

Virtualitas pada hakikatnya adalah simulakrum, sebuah ilusi yang dibentuk oleh rangkaian piksel dan penggalan gambar. Namun, ketika ilusi tersebut dikemas dalam format micro-drama berseri yang mengikat secara emosional, virtualitas bertransformasi menjadi sarana pembentukan kognitif sosial (social cognitive shaping). Masyarakat kelas bawah (subaltern) yang secara struktural tertekan oleh realitas ekonomi menjadi konsumen utama dari penikmatan narasi ini. Dalam kerangka strukturalis, narasi fabel mistik berfungsi sebagai instrumen eskapisme yang mereset persepsi penonton terhadap realitas. Mitos tentang penolong gaib berbentuk binatang yang hadir membenahi kemiskinan atau penderitaan tokoh utama bekerja sebagai opiat kognitif. Realitas ketimpangan sosial yang keras secara tidak sadar ditekan dan digantikan oleh harapan semu bahwa keajaiban dari luar realitas dapat hadir menyelamatkan hidup mereka.

Impak paling mendasar dari fenomena ini adalah lahirnya kembali logika mistik (mythical logic) di tengah era masyarakat digital. Logika mistik ini perlahan menggeser kesadaran kritis dari pemikiran kausalitas-rasional menuju kepasrahan yang bersifat fatalistik. Ketika narasi penolong ajaib diinternalisasi secara berulang, timbul erosi kesadaran kritis di mana masalah kesengsaraan hidup tidak lagi ditafsirkan sebagai akibat dari eksploitasi ekonomi atau kegagalan sistem sosial, melainkan sebagai ujian nasib yang hanya bisa diselesaikan secara supranatural. Tokoh penolong berbentuk binatang mitos tersebut menjadi sublimasi figur juru selamat (messianic figure) yang membuat masyarakat mengidamkan entitas gaib sebagai pengentas kemiskinan. Kondisi ini pada akhirnya melenyapkan orientasi masa depan. Harapan masa depan yang seharusnya berakar pada aksi kolektif, pendidikan, dan mobilitas sosial tergeser oleh fantasi pasif, sehingga masyarakat terjebak dan hidup dalam lingkaran harapan yang tidak pasti (uncertain hope) yang terus diperbarui setiap kali episode baru diunggah.

Fenomena film mikro berseri di TikTok ini pada akhirnya menjadi sebuah situs artikulasi ideologi baru yang memanfaatkan struktur mitos kuno. Pembacaan semiotika struktural memperlihatkan bahwa teks virtual ini memproduksi sistem makna yang mengalienasi masyarakat kelas bawah dari realitas objektif mereka. Dengan memelihara ilusi keajaiban dan mengsubstitusi tindakan nyata dengan harapan mistis, media sosial berhasil mengukuhkan pasivitas kelas. Memahami fenomena ini membutuhkan kacamata kritis baru untuk melihat bagaimana teknologi paling modern sekalipun dapat dipergunakan untuk menghidupkan kembali pemikiran paling arhaik demi menjinakkan kesadaran kritis manusia.

 

Penulis : R.Dt.

 

Posting Komentar untuk "Semiotika Semiotis-Struktural terhadap Fenomena Narasi Binatang Mitos dalam Dapur Sinematik TikTok"