Rantai Kehidupan dan Keserakahan Manusia dalam Karya Tari "Jattah"

 

Calvin Desta Nanda Saputra (Foto ist.)


Damariotimes. Di tengah pusaran tradisi tari Jawa yang kental dari tanah kelahirannya di Ponorogo, Calvin Desta Nanda Saputra kembali menegaskan langkahnya dalam peta seni pertunjukan kontemporer lewat karya terbarunya yang bertajuk "Jattah". Mahasiswa Sendratasik Universitas Negeri Surabaya ini, yang sebelumnya sukses mengeksplorasi bahasa gerak personal melalui karya "Chess" dan "Tilas", kini mematangkan embrio pemikirannya menjadi sebuah pertunjukan yang sarat makna konseptual dan filosofis. Dalam pementasan kali ini, Calvin dibersamai oleh ketujuh anggota timnya—Irfantyo Mahardika, Ferdiansyah Nurcahyo, Khalis Geofany Surya Putra, Try An-Nafi’u Adha Wijaya, Abim Bambang, Erza Funta, serta Cheryne Aprilia Najwa—yang dijadwalkan hadir untuk menjalani proses artistik sejak Minggu, 6 September 2026 hingga kepulangan mereka pada Senin, 7 September 2026.


"Jattah" karya Calvin Desta Nanda Saputra (foto ist.)

Karya berjudul "Jattah" ini berangkat dari pengamatan mendalam terhadap realitas yang sangat dekat dengan keseharian manusia, yakni kebutuhan dasar untuk bertahan hidup yang berakar pada fenomena "makan". Dari pemenuhan naluri paling elemental tersebut, lahir simpul-simpul hubungan, pembagian hak hidup, batas-batas moral, dan perputaran hukum alam yang menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, pertunjukan ini memotret fenomena menggetarkan ketika naluri bertahan hidup yang alamiah bergeser menjadi mesin penggiling yang ganas. Pemenuhan kebutuhan pokok acap kali terdistorsi menjadi hasrat tak terbatas untuk menguasai dan memiliki lebih dari yang porsi yang seharusnya.

Melalui eksplorasi gerak yang ekspresif, "Jattah" menjadi cermin abstrak yang menyoroti batas antara rasa pertimbangan moral dan hakikat kedaulatan setiap makhluk hidup. Pertunjukan ini menegaskan sebuah kritik sosial bahwa ancaman terbesar terhadap keberlangsungan alam bukanlah rantai makanan itu sendiri, melainkan keserakahan manusia yang mengganggu tatanan hukum kehidupan. Ketika masyarakat mulai alpa dan kehilangan kesadaran akan pentingnya menjaga fungsi ekosistem secara seimbang, pergeseran nilai tersebut perlahan menuntun alam menuju keruntuhan. Karya ini menghadirkan perenungan mendalam bahwa tari bukan sekadar olah tubuh visual, melainkan media kritik, penanda identitas, dan bentuk dedikasi berkesenian yang menyuarakan pentingnya menjaga keseimbangan perputaran hukum alam.

 

Reporter : R.Dt.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posting Komentar untuk "Rantai Kehidupan dan Keserakahan Manusia dalam Karya Tari "Jattah""