![]() |
| Lalu Suryadi Mulawarman, S,Sn.,M.M. dan karyanya |
Damariotimes.
Industri tekstil kini terus bergerak mencari solusi atas berbagai tantangan
lingkungan global, mulai dari ancaman polusi, masalah kesehatan, hingga
pemanasan global. Berangkat dari kesadaran tersebut, hadir sebuah inovasi
terbarukan yang menggabungkan eksplorasi bahan alam, seni kriya, dan seni
pertunjukan melalui karya bertajuk Serat Kambut. Karya ini menjadi wujud
nyata dari pengembangan produk tekstil ramah lingkungan (sustainable dan
eco-friendly) yang memanfaatkan limbah serat rempah sebagai bahan dasar
pembuatan benang hingga diolah menjadi kain. Inovasi benang rempah ini
sekaligus menjadi langkah konkret dalam mendukung program pemerintah Indonesia,
Spice Up The World, yang mempopulerkan kekayaan rempah Nusantara ke
panggung dunia.
Proses
pembuatan kain dalam proyek ini menggabungkan teknik-teknik bernilai seni
tinggi, mulai dari lukis, cap, hingga teknik sesek khas lokal. Limbah rempah
yang diolah menjadi serat alami terbarukan tersebut dibentuk menjadi benang,
lalu ditenun dan dihias hingga melahirkan helaian kain berkarakter kuat.
Pendekatan ini tidak hanya menawarkan strategi inovasi baru di dunia busana dan
tekstil (fashion in textile), tetapi juga membawa pesan mendalam tentang
pentingnya menjaga keseimbangan alam melalui pemanfaatan limbah organik menjadi
karya seni yang bernilai estetik dan ekonomis tinggi.
Gagasan
dan narasi artistik yang kuat ini kemudian dihidupkan ke atas panggung
pertunjukan oleh SakSak Dance Production. Di bawah arahan koreografer Lalu
Suryadi Mulawarman, S.Sn., M.M., ide tentang serat dan tekstil terjemahkan
ke dalam bahasa gerak yang dinamis. Penampilan seni gerak ini dibawakan secara
apik oleh dua penari, yaitu Aliyya Andarin Prasetya dan Baiq Shaqina
Putri Maharani, yang memperagakan respons tubuh terhadap material, tekstur,
dan makna filosofis di balik benang rempah tersebut.
Keberhasilan
penggarapan karya ini tidak lepas dari rekam jejak panjang sang koreografer.
Pria yang akrab disapa Surya ini lahir di Mataram pada 20 Mei 1970 dan
berdomisili di Kekalik, Nusa Tenggara Barat. Berbekal latar belakang pendidikan
di bidang seni tari dan manajemen, seniman berkebangsaan Indonesia ini terus
konsisten mengeksplorasi potensi seni budaya serta isu-isu lingkungan lokal
lewat wadah SakSak Dance Production. Melalui karya Serat Kambut, Lalu
Suryadi Mulawarman bersama timnya berhasil mempertemukan seni kriya tekstil
berkelanjutan dan seni pertunjukan dalam satu harmoni yang mengedukasi
sekaligus memukau.
Reporter: R.Dt.

Posting Komentar untuk "Inovasi Benang Rempah dan Narasi Keberlanjutan dalam Karya “Serat Kambut” di DARJONESIA Sidorajo Jawa Timur"