![]() |
| Tari yang membangkitkan rasa kepedulian lingkungan (Sumber AI) |
Damariotimes.
Kecenderungan penelitian pengembangan atau Research and Development di
bidang pendidikan seni sering kali terjebak dalam lingkaran setan yang disebut
sebagai tautologi estetis. Fenomena ini terjadi ketika peneliti menciptakan
produk seni baru, memasukkannya ke dalam kurikulum pembelajaran, lalu mengklaim
secara sepihak bahwa produk tersebut berhasil meningkatkan aspek nonseni peserta
didik, tanpa pernah menguji secara kritis hubungan kausalitas eksternal di luar
ruang estetika tersebut. Pameran data proposal tesis Magister Pendidikan Seni
Universitas Negeri Semarang pada akhir Mei dua ribu dua puluh enam menjadi
cermin penting untuk membedah problem ini. Melalui proposal berjenis penelitian
pengembangan dengan pendekatan Culturally Responsive Teaching melalui
media video untuk siswa sekolah, peneliti ditantang untuk melihat sejauh mana
sebuah desain pedagogis seni benar-benar bertumpu pada kebutuhan empiris
objektif, bukan sekadar pelarian romantis peneliti atas nama inovasi budaya.
Dalam
kacamata metodologi penelitian pengembangan yang ketat, kegagalan mendasar dari
model tautologi estetis ini bermula dari lemahnya jangkauan eksinriset atau
ekstrinsik riset pada tahap analisis kebutuhan. Jika merujuk pada sistematika
pengonstruksian model pengembangan instruksional oleh Walter Dick, Lou Carey,
dan James Carey, langkah awal yang paling krusial adalah mengidentifikasi
tujuan pembelajaran berdasarkan kebutuhan riil di lapangan, bukan berdasarkan
keinginan artistik peneliti. Tahap ini menuntut hadirnya analisis konteks yang
objektif. Sebuah model pengembangan wajib menempatkan analisis kekuatan,
kelemahan, peluang, dan ancaman sebagai fondasi awal di dalam latar belakang
masalah.
Tanpa
peta analisis yang jujur ini, urgensi penciptaan produk menjadi manipulatif.
Peneliti sering kali berasumsi bahwa siswa mengalami krisis kepedulian
lingkungan hanya karena mereka tidak menari. Padahal, pada sekolah yang telah
menyandang status Adiwiyata, masalah ekologis mungkin tidak lagi berada pada
level ketidaktahuan kognitif, melainkan pada kejenuhan regulasi administratif.
Ketidakhadiran analisis konteks yang mendalam menyebabkan produk seni yang
dikembangkan berdiri di atas menara gading, terputus dari problem nyata yang
dihadapi oleh subjek didik di lapangan.
Kerancuan
ini merembet pada wilayah teoretis ketika pendekatan Culturally Responsive
Teaching dari Geneva Gay diadopsi secara longgar. Pendekatan pembelajaran
yang tanggap budaya sejatinya menuntut guru untuk menggali, merespons, dan
merayakan kebudayaan asli yang telah mengakar dan dihidupi oleh siswa dalam
keseharian mereka sebagai modalitas belajar. Namun, dalam banyak kasus
penelitian pengembangan seni, terjadi pembalikan logika yang rancak. Peneliti
menciptakan sebuah tarian kreasi baru yang dikonstruksi sendiri, lalu memberi
label lokalitas seperti aktivitas pertanian perkotaan masyarakat Semarang, dan
kemudian memaksa siswa untuk mengonsumsinya atas nama pembelajaran berbasis
budaya. Ini adalah bentuk penjinakan estetis. Siswa tidak sedang merespons
budaya mereka sendiri, melainkan sedang merespons agenda estetis peneliti. Di
sinilah letak tautologinya, seni diposisikan sebagai obat bagi penyakit budaya
yang definisinya pun ditentukan sepihak oleh si pencipta seni.
Sebagai
pembanding atas kegagalan konseptual ini, kita dapat meninjau contoh penelitian
pengembangan yang dipandang berhasil dalam memecahkan kebuntuan serupa, seperti
proyek pengembangan kurikulum tari ekologis berbasis komunitas yang
dikembangkan oleh Susan Wright. Penelitian tersebut berhasil karena tidak
memaksakan bentuk tari baru bentukan peneliti, melainkan menggunakan metode Educational
Design Research dari Jan van den Akker untuk menguji bagaimana struktur
gerak tradisional yang sudah dipahami masyarakat lokal diartikulasikan kembali
oleh siswa untuk merespons krisis air di lingkungan mereka.
Alur
perencanaan dalam penelitian yang berhasil tersebut mengikuti sistematika
kelayakan produk yang sangat ketat. Alur dimulai dari fase investigasi awal
melalui analisis kebutuhan sosiologis dan ekologis masyarakat sekitar, disusul
dengan fase perancangan purwarupa materi yang mengintegrasikan budaya lokal
asli. Selanjutnya, masuk ke fase evaluasi formatif dan sumatif yang melibatkan
pengujian berulang di lapangan, hingga akhirnya mencapai fase semi-sistematis
untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan instruksional yang valid, praktis, dan
efektif.
Oleh
karena itu, penyempurnaan metodologi penelitian pengembangan seni harus diarahkan
pada integrasi teoretis yang kuat antara ekopedagogi dan ekokoreologi, yang
dimediasi oleh teknologi visual seperti video pembelajaran. Media video tidak
boleh hanya diposisikan sebagai alat demonstrasi gerak mekanis atau pengganti
kehadiran guru di depan kelas. Dalam kerangka Educational Design Inquiry,
video harus dirancang sebagai medium refleksi visual yang mampu menjembatani
pengalaman tubuh siswa saat melakukan gerak menanam atau merawat tanaman dengan
kesadaran ekologis yang abstrak.
Proses
pengujian produk pun tidak boleh berhenti pada validasi ahli materi seni
mengenai keindahan gerak atau ahli media mengenai kualitas penyuntingan gambar.
Desain eksperimentasi atau uji coba lapangan harus mampu membuktikan secara
empiris melalui instrumen pengukuran perilaku yang sahih bahwa proses belajar
berbasis tubuh tersebut benar-benar melahirkan perubahan perilaku nyata pada
siswa dalam merawat lingkungan sekolah mereka.
Membongkar
tautologi estetis ini justru akan membuka jalan lebar bagi hasil penelitian pengembangan
untuk dikonversi menjadi artikel jurnal ilmiah yang layak huni dan bereputasi
tinggi. Potensi pertama dapat diarahkan pada penulisan artikel yang berfokus
pada reposisi tubuh dalam ruang kelas urban, di mana gestur pertanian perkotaan
dibahas bukan sebagai pencapaian koreografis pertunjukan, melainkan sebagai
bentuk perlawanan terhadap kejenuhan ruang belajar digital yang verbalistik.
Potensi artikel kedua dapat membedah efektivitas desain pesan visual dalam
video tari ekologis, yang secara spesifik mengukur bagaimana rangsangan audio
visual mampu memicu keterlibatan emosional dan tanggung jawab sosial siswa
secara simultan. Dengan orientasi penulisan yang kritis dan analitis seperti
ini, luaran penelitian magister tidak akan terjebak sebagai dokumen
administratif semata.
Penulis: R.Dt.

Posting Komentar untuk "Tautologi Estetis dalam Inovasi Pedagogis: Evaluasi Kritis Desain Culturally Responsive Teaching Berbasis Penelitian Pengembangan Seni"