![]() |
| Tari Bapang secara massal digelar untuk pembukaan Gebyar Talenta Siswa SDK Cor Jesu Kota Malang (foto ist.) |
Damariotimes. MALANG; 6 Juni 2026. Suasana pagi di Lingkungan Sekolah Dasar Katolik
(SD K) Cor Jesu Malang, yang terletak di Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 55, Kota
Malang, mendadak riuh dan penuh warna dan kegembiraan. Ratusan pasang mata,
mulai dari para siswa hingga orang tua yang hadir, tampak terpaku menatap area
tengah halaman sekolah. Hari itu, SDK Cor Jesu Malang menggelar pementasan
hasil belajar siswa yang bertajuk "Gebyar Talenta",
sebuah ajang tahunan untuk merayakan kreativitas, seni, dan potensi luar biasa
para peserta didik.
Acara yang dinanti-nantikan ini dibuka dengan sebuah pertunjukan
yang sangat spektakuler: Tari Bapang Massal yang melibatkan
tidak kurang dari 70 siswa. Hentakan kaki yang serempak, kibasan
selendang, dan topeng khas tokoh Bapang dengan hidung panjangnya yang ikonik
seketika menyihir penonton. Gemuruh tepuk tangan dari para orang tua murid
langsung memecah keheningan begitu formasi ratusan penari cilik ini mulai
bergerak dinamis memenuhi area pementasan.
Eksotisme Tari Bapang:
Dari Panggung Tradisi ke Pementasan Sekolah
Tari Bapang di wilayah Malang Raya, tarian ini merupakan salah
satu identitas budaya yang sangat populer. Eksistensi Tari Bapang yang dikenal
hari ini tidak lepas dari sejarah panjang pada tahun 1990-an, di mana tarian
ini berhasil direkonstruksi kembali oleh dua maestro seni, Chattam AR
dan Taslan Harsono. Berkat kerja keras mereka, struktur gerak dan estetika
Tari Bapang diselamatkan dan dihidupkan kembali hingga menjadi konsumsi estetis
masyarakat modern.
Secara karakteristik, Tari Bapang tergolong dalam jenis tari Gagah
Sabrang. Penampilannya sangat unik dan mudah dikenali. Dalam pakem cerita
aslinya, Bapang sebenarnya adalah seorang adipati atau patih dari pihak Raja
Klana Sewandana yang berasal dari Kerajaan Sabrang (luar Jawa). Konteks sejarah
dalam kisah Topeng Malang menggambarkan bahwa Kerajaan Sabrang ini senantiasa
bertikai dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, seperti Kerajaan Jenggala maupun
Kediri. Dalam pertikaian abadi tersebut, sosok Bapang berada di pihak "lawan"
atau pihak luar Jawa.
Pergeseran Makna dan
Representasi Satria yang Gagah Berani
Menariknya, seiring berjalannya waktu dan masifnya pengenalan
budaya di institusi pendidikan, interpretasi terhadap tokoh Bapang mengalami
adaptasi nilai. Pada pementasan-pementasan yang dibawakan oleh siswa sekolah di
Kota maupun Kabupaten Malang termasuk dalam acara Gebyar Talenta di SDK Cor Jesu
ini sosok Bapang selalu dipublikasikan dan dicitrakan sebagai seorang
satria yang gagah berani, berwatak tegas, jujur, dan penuh semangat.
Anak-anak tidak lagi melihatnya sebagai musuh dari luar, melainkan
sebagai simbol keteguhan sikap, keberanian, dan energi kepemudaan yang membara.
Watak dinamis dan ekspresif dari gerak Tari Bapang dianggap sangat cocok untuk
memupuk rasa percaya diri dan menumbuhkan karakter yang kuat pada diri siswa
sejak usia dini.
"Melihat anak-anak menari dengan begitu kompak dan
bersemangat memberikan getaran tersendiri. Tari Bapang mengajarkan mereka
tentang ketegasan dan keberanian," ujar salah satu orang tua siswa yang
hadir dengan penuh rasa bangga.
Perhatian Khusus dari
Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn.
Fenomena pergeseran makna dan popularitas Tari Bapang di kalangan
pelajar ini rupanya memantik perhatian khusus dari akademisi dan pengamat seni
budaya terkemuka, Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. staf pengajar
dari Universitas Negeri Malang. Beliau memandang bahwa antusiasme anak-anak
dalam menarikan Bapang harus dibarengi dengan pemahaman literasi yang benar
agar mereka tidak kehilangan akar historisnya.
Sebagai bentuk kepedulian yang nyata, Prof. Robby Hidajat menulis
sebuah buku khusus yang mengupas tuntas tentang Tari Bapang, dengan judul: Tari
Topeng Bapang: Warisan Budaya Tak Benda Wayang Topeng Asmarabangun Desa
Kedungmonggo Kabupaten Malang. Buku Ini diterbitkan oleh Media Nusa Creatve
(MNC) Malang. Kehadiran buku ini menjadi jembatan ilmu yang sangat krusial.
Tujuannya sangat mulia: agar para siswa sekolah yang pernah menarikan tarian
tersebut tidak hanya sekadar menggerakkan tubuh di atas panggung, tetapi juga
dapat memahami secara jelas karakteristik, biografi tokoh, nilai
filosofis, serta pola-pola gerak yang pakem.
Melalui edukasi berbasis literasi ini, SDK Cor Jesu Malang juga
berharap pementasan Gebyar Talenta bukan sekadar ajang pamer bakat visual
belaka. Pementasan 70 siswa ini adalah proses belajar multidimensi di mana
anak-anak mempraktikkan olah tubuh, sekaligus menyerap nilai-nilai sejarah dan
karakter luhur yang terkandung di dalamnya.
Gebyar Talenta: Wujud
Nyata Merdeka Belajar
Setelah pembukaan yang menghentak lewat Tari Bapang massal, acara
Gebyar Talenta SD K Cor Jesu Malang dilanjutkan dengan berbagai penampilan
bakat lainnya, mulai dari paduan suara, musik modern, drama, hingga pameran
karya seni rupa hasil belajar siswa selama satu tahun akademis.
Kepala Sekolah SDK Cor Jesu Malang menyampaikan bahwa sekolah
berkomitmen penuh untuk memberikan ruang seluas-luasnya bagi ekspresi anak.
Memilih Tari Bapang sebagai gong pembuka adalah wujud nyata dari upaya sekolah
dalam melakukan nguri-uri (melestarikan) budaya lokal Malang
di tengah gempuran era digitalisasi.
Acara yang berlangsung hingga siang hari ini sukses besar. Orang
tua pulang dengan senyum bangga, sementara para siswa pulang membawa pengalaman
berharga. Melalui Gebyar Talenta 2026, SDK Cor Jesu Malang telah membuktikan
bahwa pendidikan modern dan kelestarian tradisi dapat berjalan beriringan
secara harmonis, melahirkan generasi muda Kota Malang yang tidak hanya cerdas
secara akademis, tetapi juga berkarakter gagah, tegas, dan berbudaya layaknya
sang penari Bapang.
Reporter : R.Dt.


Posting Komentar untuk "Mengguncang Panggung Gebyar Talenta: Ketika 70 Siswa SDK Cor Jesu Malang Menghidupkan Kembali Tari Bapang Massal"