Menelaah Proposal Aura Yoga Aulia Tentang Praktik Embodied Learning di Dimar Dance Theatre di Pameran Data Mahasiswa Magister S2 Pendidikan Seni UNNES Semarang

 



Aura Yoga Aulia tampilkan pameran data rencana penelitiannya (Foto ist.)


Damariotimes. Dalam panggung pertunjukan tari, penonton sering kali terpukau oleh keindahan visual, kerumitan koreografi, atau megahnya tata lampu. Namun, di balik riuh rendah tepuk tangan penonton, ada sebuah proses sunyi yang luput dari perhatian: bagaimana seutas gerak, rasa, dan energi berpindah dari tubuh seorang guru ke dalam urat nadi para penarinya?

Selama ini, riset dan dokumentasi seni tari di Indonesia lebih banyak sibuk membedah hasil akhir di atas panggung atau membahas dampak sosialnya di media sosial. Sangat jarang ada kajian yang mau masuk ke dalam ruang latihan yang berkeringat, guna melihat bagaimana tubuh bekerja sebagai "perpustakaan berjalan" yang menyimpan dan membagikan pengetahuan. Celah sunyi inilah yang coba dibongkar oleh Aura Yoga Aulia melalui sebuah kajian mendalam terhadap praktik tari kontemporer karya Dian Bokir di Dimar Dance Theatre.

 

Tubuh Bukan Sekadar Alat Peniru

Di bawah arahan koreografer Dian Bokir, sanggar Dimar Dance Theatre menjadi laboratorium yang menarik. Di tempat ini, seni tari tidak diajarkan secara konvensional atau sekadar meniru gerakan secara mekanis layaknya robot. Konsep yang diterapkan di sini sangat erat dengan apa yang disebut sebagai embodied learning sebuah pendekatan pembelajaran di mana tubuh tidak dianggap sebagai alat pasif, melainkan sebagai pusat dari penciptaan pengetahuan itu sendiri.

Dalam keseharian di sanggar, proses transformasi estetika terjadi ketika idiom-idiom tari tradisional, seperti jaranan, tidak sekadar ditarikan ulang secara kaku sesuai pakem lama. Dian Bokir membongkar, mereinterpretasi, dan mengolah kembali ingatan gerak tradisi tersebut ke dalam bentuk kontemporer yang lebih segar.

Proses ini melibatkan apa yang sosiolog Michael Polanyi sebut sebagai tacit knowledge atau pengetahuan implisit sebuah jenis pengetahuan yang melekat pada rasa, otot, dan pengalaman, sehingga tidak bisa dijelaskan lewat kata-kata atau buku teks. Satu-satunya cara untuk memindahkannya adalah melalui interaksi langsung antar-tubuh: pengamatan yang jeli, tiruan yang berulang-ulang (imitasi), pendalaman rasa (internalisasi), hingga akhirnya gerak tersebut menyatu dengan karakter unik sang penari.

 

Membedah Konsep Ketubuhan Dian Bokir

Menariknya, arah penelitian ini sempat didiskuksikan secara bersama  Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. dalam sebuah pameran data bertajuk “Titik Temu: di kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES) pada akhir Mei 2026. Beliau melontarkan pertanyaan mendasar yang menguji arah kompas riset ini: Apakah Dian Bokir diposisikan sebagai subjek yang dibongkar konsep pengolahan ketubuhannya, atau dia hanya dijadikan media/alat untuk melatih keterampilan motorik siswa sekolah?. Atas pertanyaan tersebut, peneliti memang harus memutuskan, bahwa: Dian Bokir adalah subjek utama yang konsep ketubuhannya dibongkar. Sang koreografer bukan sekadar guru tari yang memberikan instruksi "tangan kanan ke atas, kaki kiri ke depan." Lebih dari itu, Dian Bokir adalah seorang pemikir tubuh. Pengalaman hidupnya, caranya merespons ruang, serta keputusannya dalam meramu energi tradisional menjadi kontemporer adalah inti dari ilmu yang sedang diteliti. Penari-penari di Dimar Dance Theatre tidak sedang menjalani kelas olahraga sekolah formal, melainkan sedang menyelami dan menyerap filosofi ketubuhan yang ditawarkan oleh sang maestro.

 

Mengapa Kajian Ini Penting?

Secara teoretis dan praktis, mendokumentasikan proses latihan di sanggar komersial atau komunitas independen seperti Dimar Dance Theatre memiliki urgensi yang besar bagi dunia pendidikan seni di Indonesia: (1) Repositori Budaya yang Hidup: Tradisi lisan dan gerak di Indonesia rawan punah jika tidak didokumentasikan secara sistematis. Kajian seperti ini membantu membekukan proses yang cair tersebut ke dalam teks akademik yang bisa dipelajari generasi mendatang, (2) Evaluasi untuk Pendidikan Formal: Gaya pembelajaran embodied (berbasis pengalaman tubuh utuh) ini bisa menjadi masukan berharga bagi guru-guru seni di sekolah formal. Pembelajaran tari di sekolah sebaiknya mulai mengurangi metode hafalan ujian yang kaku, dan mulai membebaskan siswa untuk mengenali, merasakan, dan mengeksplorasi tubuh mereka sendiri.

Melalui pendekatan yang humanis dan mendalam, riset terhadap Dimar Dance Theatre ini mengingatkan tentang tari kontemporer, yaitu  tari kontemporer bukan hanya ditujukan untuk menciptakan tren estetika yang tampak modis di atas panggung. Tari Kontemporer adalah rantai warisan budaya yang hidup, bergerak, dan terus dinegosiasikan dari kulit ke kulit, dari rasa ke rasa, dan dari tubuh ke tubuh. Jika hal ini yang diperjuangkan untuk digali secara ilmiah, maka sudah selayaknya memiliki prediksi kualitas hasil penelitian yang memberikan sumbangan penting.

 

Penulis: R.Dt.

 

Posting Komentar untuk "Menelaah Proposal Aura Yoga Aulia Tentang Praktik Embodied Learning di Dimar Dance Theatre di Pameran Data Mahasiswa Magister S2 Pendidikan Seni UNNES Semarang"