Pendidikan Seni di Persimpangan Antara Keterampilan Kerja dan Kebebasan Ekspresi

 



persimpangan pembelajar seni (sumber AI)


Damariotimes. Orang sering terjebak dalam dikotomi yang melelahkan ketika berbicara soal pendidikan seni di sekolah. Di satu sisi, seni dianggap sebagai bekal skill agar anak didik memiliki daya tawar di pasar kerja, menjadikannya seolah-olah "kursus keterampilan" untuk menghasilkan pekerja kreatif yang siap pakai. Di sisi lain, seni diposisikan sebagai ajang kompetisi, di mana prestasi dan piala menjadi tolok ukur utama keberhasilan seorang siswa. Kedua jalur ini, meski tampak berbeda, sebenarnya bermuara pada satu masalah yang sama: siswa justru dijadikan objek untuk mencapai target-target pragmatis yang jauh dari esensi seni itu sendiri.

Dalam kerangka tersebut, seni kehilangan ruh kejati diriannya. Ketika seni hanya dipandang sebagai alat untuk mencari nafkah atau mengejar prestasi kompetitif, guru seni sedang mendegradasi seni menjadi sekadar komoditas. Siswa dipaksa untuk menguasai teknik—seperti cara memegang kuas dengan trampil, menghafal notasi musik, atau menggerakkan tubuh sesuai standar dan pakem; semua itu bukan untuk mencari kedalaman makna, melainkan demi mencapai standar eksternal yang ditentukan oleh kurikulum atau juri. Paradigma ini memperlakukan siswa sebagai "alat" yang harus dipoles agar "mengkilap" di mata industri atau papan skor perlombaan. Akhirnya, alih-alih membentuk manusia yang kritis dan peka, guru seni justru melanggengkan sistem yang mekanistik dan dehumanis.

Persoalan ini sebenarnya adalah antitesis dari apa yang butuhkan di abad ke-21. Jika ingin meninjau kembali estetika seni pertunjukan, orang harus berani keluar dari jeratan utilitarianisme tersebut. Pendidikan seni yang sesungguhnya seharusnya bukan soal mencetak lulusan yang mahir secara teknis untuk pasar tenaga kerja, bukan pula tentang siapa yang paling piawai memenangkan panggung kompetisi. Pendidikan seni yang ideal merupakan proses dialektis, tentang studio proses seni di sekolah menjadi ruang bagi siswa untuk memanusiakan dirinya. Artinya, seni harus dikembalikan pada fungsinya sebagai cara untuk memahami realitas sosial, mengeksplorasi emosi, dan membangun empati.

Kolaborasi antara keterampilan teknis dan kebebasan berekspresi sebenarnya dapat dicapai jika orang mampu mengubah fokus diskursusnya. Menguasai keterampilan memang penting, namun keterampilan itu hanyalah "bahasa". Masalahnya, selama ini terfokus pada kesibukan mengajari siswa "tata bahasa" seni, tetapi melarang mereka untuk "berbicara" tentang apa yang benar-benar mereka rasakan atau alami di lingkungannya. Orang perlu menempatkan penonton—yang dalam konteks sekolah adalah teman sebaya, guru, dan komunitas; sebagai episentrum. Ketika karya seni diproduksi tidak untuk dinilai oleh juri atau dijual ke pasar, melainkan untuk dibagi dan didiskusikan bersama, saat itulah seni menjadi entitas sosial yang hidup.

Menjadikan seni sebagai ruang "sosio-estetik" berarti mengubah ruang kelas atau aula menjadi tempat negosiasi. Siswa yang belajar tari, misalnya, tidak lagi sekadar menghafal koreografi untuk lomba, tetapi belajar tentang tubuhnya yang mampu merespons isu-isu sosial yang ada di sekitarnya. Di sini, prestasi tidak lagi diukur dari medali, melainkan dari kedalaman dialog yang tercipta. Inilah tantangan besar ke depan: bagaimana melepaskan pendidikan seni dari belenggu industri dan kompetisi, lalu mengembalikannya sebagai alat pembebasan. Guru seni harus berani mendefinisikan ulang bahwa keberhasilan pendidikan seni tidak terletak pada seberapa hebat siswa "menjual" kemampuannya, melainkan seberapa mampu mereka menggunakan seni untuk mengenali diri sendiri dan merawat kemanusiaan di tengah dunia yang makin asing.

Pada akhirnya, orang harus sadar bahwa jika pendidikan seni terus-menerus terjebak dalam orientasi kerja dan kompetisi, pembelajar seni yang mahir secara teknis, akan tetapi  "buta" secara estetis dan sosial. Mengubah paradigma ini menuntut keberanian untuk tidak lagi menjadikan siswa sebagai objek produksi, melainkan sebagai subjek yang merdeka untuk menafsirkan dunianya sendiri melalui karya yang dilahirkan melalui kata hatinya.

 

Konteributor : Sirojul Munir

 

Posting Komentar untuk "Pendidikan Seni di Persimpangan Antara Keterampilan Kerja dan Kebebasan Ekspresi"