![]() |
| salah satu proposal yang banyak diminati pengunjung (Foto ist.) |
Damariotimes.
Pameran data proposal tesis Magister Pendidikan Seni Universitas Negeri
Semarang yang diselenggarakan pada tanggal 29-20 Mei 2026 menjadi ruang krusial
untuk menguji sejauh mana riset pascasarjana mampu keluar dari jebakan
formalitas akademik. Salah satu yang dibahas adalah proposal milik Mira
Fauziyah yang berjudul Desain Culturally Responsive Teaching pada Tari Wiji
Asih melalui Media Video untuk Meningkatkan Kepedulian Lingkungan Siswa Sekolah
Menengah Pertama Negeri dua belas Semarang. Dalam sesi diskusi, narasumber
Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. memberikan
catatan tentang epistemologi riset seni pertunjukan. Beliau menegaskan bahwa penelitian
pengembangan di bidang pendidikan seni tidak boleh sekadar memindahkan objek
estetis ke dalam kelas, melainkan harus menguji kekuatan dan kerentanan
struktur edukatif koreografis tersebut secara empiris sejak dalam kandungan
konseptualnya.
Kelemahan
paling fatal dalam bab satu proposal Mira Fauziyah terletak pada klaimnya
sebagai penelitian pengembangan, namun gagal menghadirkan analisis Strengths,
Weaknesses, Opportunities, Threats (SWOT) atau analisis kekuatan, kelemahan,
peluang, dan ancaman pada bagian latar belakang masalah. Dalam metodologi
penelitian pengembangan yang presisif, analisis tersebut berfungsi sebagai
eksinriset atau analisis kontekstual eksternal yang melandasi urgensi
penciptaan produk. Latar belakang proposal ini terjebak pada narasi normatif
akademis mengenai krisis lingkungan dan keagungan konsep pembelajaran berbasis
tubuh. Peneliti melompati fase krusial mengenai alasan SMP N 12 Semarang, yang notabene sudah berstatus
Sekolah Adiwiyata, memiliki celah kerentanan sehingga membutuhkan intervensi
berupa Tari Wiji Asih.
Tanpa
kehadiran analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman, argumentasi
peneliti menjadi rapuh karena ketiadaan pemetaan masalah yang jelas. Peneliti
menyebutkan adanya sisa perilaku siswa yang abai terhadap tanaman, namun tidak
membedah apakah kelemahan itu bersumber dari kejenuhan model Adiwiyata yang
administratif atau keterbatasan ruang ekspresi motorik siswa. Selain itu,
ancaman aktualisasi produk juga tidak diukur, terutama mengenai apakah kehadiran
materi tari baru justru akan membebani kurikulum seni budaya yang sudah ada di
sekolah tersebut. Ketidakhadiran eksinriset ini menyebabkan hilangnya kompas
dalam menentukan arah hasil penelitian pengembangan, sehingga produk Tari Wiji
Asih dan media videonya rawan menjadi produk pesanan akademis yang lahir dari
asumsi subjektif peneliti, bukan dari kebutuhan objektif medan empiris.
Melihat
rumusan masalah yang diajukan yang menggunakan pola empat tahap yaitu analisis
kebutuhan, perancangan, implementasi, dan hasil, peneliti tampak mengonstruksi
model pengembangan sistematis, namun rancangan ini mengalami kerancuan
epistemologis antara teori pendidikan Culturally Responsive Teaching dan teori
seni pertunjukan embodied learning. Peneliti terlalu longgar dalam
mengoperasinalisasikan pendekatan Culturally Responsive Teaching pada tari
kreasi baru. Pendekatan ini idealnya merespons kebudayaan yang sudah hidup pada
subjek didik, sementara Tari Wiji Asih adalah tari bentukan baru yang berbasis
ide pertanian perkotaan garapan peneliti sendiri. Di sini terjadi kerancuan
apakah tari ini merupakan respons terhadap budaya siswa, atau peneliti sedang
memaksakan sebuah produk estetis baru atas nama budaya lokal Semarang. Peneliti
memerlukan pisau analisis teori ekokoreologi atau ekopedagogi seni untuk
memperkuat argumen mengapa tubuh yang menari dengan gestur menanam dan merawat
otomatis mampu mengonversi kesadaran kognitif siswa menjadi perilaku ekologis
sehari-hari.
Pada
aspek metodologi, spesifikasi produk yang ditampilkan pada bagian akhir
proposal menunjukkan lompatan konseptual. Peneliti mengklaim menggunakan
pendekatan Educational Design Inquiry, tetapi instrumen validasi produk dari
ahli materi seni, ahli media, maupun ahli pedagogi belum tersistematisasi dalam
latar belakang maupun identifikasi masalah. Peneliti belum menjawab tentang pengukuran
bahwa video tari tidak sekadar menjadi
media tontonan melainkan tuntunan gerak yang dihayati oleh tubuh siswa.
Untuk
menindaklanjuti kritik Prof. Dr. Robby Hidajat dan menyelamatkan kualitas
ilmiah proposal ini, beberapa langkah penyempurnaan mutlak dilakukan secara
deskriptif. Pertama, peneliti harus
menyisipkan analisis SWOT secara naratif pada latar belakang masalah untuk membedah
peta empiris di SMP N 12 Semarang. Peneliti harus menunjukkan secara jelas
bahwa peluang status Adiwiyata dapat berkoalisi dengan kekuatan karakteristik
generasi digital siswa untuk mengikis kelemahan pembelajaran tari yang selama
ini mekanistik. Kedua, perjelas model
penelitian pengembangan yang diadopsi dengan menghubungkan fase analisis
kebutuhan secara linier dengan hasil eksinriset di awal. Ketiga, lakukan penajaman parameter kepedulian lingkungan secara
operasional agar indikator keberhasilan tidak sekadar didasarkan pada observasi
permukaan, melainkan pada skala psikologis atau sosiologis yang jelas dalam
konteks ekspresi estetis.
Meskipun
menyisakah celah metodologis, proposal Mira Fauziyah memiliki distingsi dan
kebaruan yang sangat kuat. Jika disempurnakan, data dari penelitian ini tidak
hanya berakhir sebagai tesis yang berdebu di rak perpustakaan, melainkan sangat
potensial dikonversi menjadi artikel jurnal bereputasi nasional maupun
internasional. Artikel pertama dapat dikembangkan dengan fokus pada kajian
embodied ecological learning, yang membahas redesain pembelajaran tari berbasis
Culturally Responsive Teaching untuk siswa urban dengan menitikberatkan pada
reposisi tubuh dalam merepresentasikan gestur pertanian perkotaan sebagai
antitesis pembelajaran tari teknis performatif. Artikel kedua dapat diarahkan
pada digitalisasi eco-dance, yang mengkaji efektivitas video pembelajaran Tari
Wiji Asih dalam mengonstruksi kesadaran ekologis siswa Adiwiyata dengan fokus
pada eksperimentasi media visual digital dalam menjembatani transfer nilai
estetis dan ekologis pada generasi muda.
Proposal
Mira Fauziyah memuat draf inovasi yang berani karena mencoba mengawinkan
ekologi, teknologi visual, dan kelenturan tubuh koreografis dalam satu helai
napas pembelajaran yang tanggap budaya. Namun, sebuah karya penelitian
pengembangan tingkat magister menuntut ketatnya eksinriset dan analisis
kebutuhan yang jujur. Dengan menginjeksikan analisis kekuatan, kelemahan,
peluang, dan ancaman secara deskriptif pada latar belakang masalah serta
merapikan batas-batas teoretis antara pedagogi dan koreografi sesuai arahan
narasumber pameran data, riset ini akan bertransformasi dari sekadar laporan
proyek kosmetis menjadi sebuah kontribusi nyata bagi perkembangan ekopedagogi
seni pertunjukan di Indonesia.
Penulis: R.Dt.

Posting Komentar untuk "Evaluasi Kritis Desain Culturally Responsive Teaching Tari Wiji Asih di Universitas Negeri Semarang"