![]() |
| Winkie, harus terjun mendalami kontestualitas tari Bapang (Foto ist.) |
Damariotimes.
Pameran Data berjudul “Titik Temu” yang diselenggarakan pada hari Jumat-Sabtu,
29-30 Mei 2026. Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. salah satu narasmber mencarmati
dua belas proposal bidang pendidikan seni tari dan seni pertunjukan, salah satu
proposal penelitian yang berjudul "Makna Simbolik Gerak Tari Topeng Bapang
dalam Representasi Karakter Antagonis Wayang Topeng Malang" usulan dari Winkie, salah satu mahasiswa adal Malang Jawa
Timur. Pada dasarnya, menyimpan usulan dan ide penelitian memiliki potensi
akademik yang besar, namun masih terjebak dalam ruang konseptual yang terlalu
tekstual. Berdasarkan catatan kritis dari reviewer Prof. Dr. Robby Hidajat,
M.Sn., kelemahan paling mendasar dari draf ini terletak pada kegagalan peneliti
dalam menangkap fenomena empiris yang sedang terjadi di masyarakat. Peneliti
terlalu asyik membedah sejarah normatif dari era Kanjuruhan hingga Majapahit,
serta membatasi masalah pada aspek teknis sanggar, tanpa menyadari sebuah
anomali edukatif yang masif di wilayah Malang Raya. Kealpaan ini membuat latar
belakang kehilangan urgensinya, karena kesenjangan yang ditawarkan masih
bersifat teoritis-klasik dan belum menyentuh dinamika sosiologis masyarakat
penyangga kebudayaan di Malang.
Catatan
krusial dari Prof. Robby Hidajat menyoroti fenomena yang sangat kontradiktif:
Tari Bapang, yang secara struktural merepresentasikan karakter antagonis
(berwajah merah, berhidung panjang, bermata melotot, dan berwatak ugal-ugalan),
justru menjadi materi tari yang paling fenomenal dan massal diajarkan kepada
siswa sekolah dari tingkat SD hingga SMP se-Kota dan Kabupaten Malang. Paradoks
sosiologis inilah yang gagal ditangkap sebagai novelty atau pembaharuan oleh peneliti. Mengapa karakter
yang melambangkan amarah dan sifat antagonis justru diinternalisasikan secara
masif kepada anak-anak, atau siswa sekolah? Apakah ada potensi pembentukan
karakter antagonis terselubung pada siswa, ataukah ada kecenderungan sosiologis
lain seperti simplifikasi estetis demi pencapaian rekor atau sekadar daya tarik
gerak yang dinamis? Kesenjangan antara teks tari (karakter antagonis) dan
konteks sosial (edukasi anak-anak) merupakan gap penelitian yang sangat jelas, namun luput dari
analisis latar belakang proposal yang diajukan oleh Winkie.
Kelemahan
di latar belakang tersebut secara otomatis berdampak pada ketidakselarasan
dengan metodology dan teori yang diajukan. Jika peneliti hanya menggunakan
pendekatan semiotika gerak yang bersifat tekstual untuk membedah makna simbolik
gerak seperti adeg wolo atau pancat silat, penelitian ini
hanya akan berakhir sebagai kamus gerak yang repetitif dari penelitian
terdahulu. Ketika batasan masalah mempersempit ruang lingkup hanya pada gerak
tanpa mengaitkannya secara dialektis dengan subjek penarinya yaitu anak-anak
sekolah—maka relevansi teori representasi karakter menjadi dangkal. Teori yang
digunakan seharusnya tidak hanya berhenti pada semiotika visual, tetapi wajib
dikawinkan dengan sosiologi seni atau psikologi perkembangan untuk menjawab
mengapa simbol antagonis ini diadopsi secara massal oleh institusi pendidikan
dasar.
Berdasarkan evaluasi tersebut, rumusan perbaikan yang harus
dilakukan oleh peneliti adalah merombak total orientasi latar belakang dan
rumusan masalah. Peneliti harus menggeser fokus dari sekadar "perbedaan
durasi belajar di sanggar" menjadi "kontekstualisasi karakter
antagonis Tari Bapang dalam ruang edukasi formal anak usia dini". Rumusan
masalah ketiga yang semula hanya menanyakan makna simbolik gerak secara umum,
perlu ditajamkan untuk mengeksplorasi bagaimana makna antagonis tersebut
direspon, ditransmisi, dan diinterpretasikan oleh para siswa SD-SMP di Malang
Raya. Peneliti juga harus berani memperluas batasan masalah agar tidak
memenjarakan analisis pada ruang steril sanggar, melainkan membuka ruang pada
fenomena pembelajaran massal di sekolah.
Melalui rekonstruksi ini, kebaruan penelitian tidak lagi
sekadar mengklaim "belum ada yang meneliti makna simbolik Bapang",
melainkan menawarkan perspektif kritis yang segar mengenai negosiasi nilai
moral dalam seni tradisi di era modern. Karakter Bapang tidak lagi dilihat
sebagai entitas statis di atas panggung Wayang Topeng Malang, melainkan sebagai
sebuah teks budaya yang dinamis dan sedang bertabrakan dengan realitas
pembentukan karakter generasi muda. Perbaikan ini akan mengubah proposal yang
awalnya biasa-biasa saja menjadi sebuah kajian seni pertunjukan yang visioner,
aplikatif, dan memiliki kontribusi nyata bagi kebijakan pendidikan seni di
Malang Jawa Timur.
Penulis : R.Dt.

Posting Komentar untuk "Evaluasi Kritis atas Pembaharuan dan Metodologi Proposal Seni Tradisi Wayang Topeng Bapang di Malang Jawa Timur"