Pemanfaatan Mop Papua dalam Penulisan Naskah Drama Pendek melalui Studi Etnopedagogi sebagai subjek penelitian Tesis S2 Pendidikan Seni di UNNES Semarang

 



Anastasia Vitria Rilend dan poster rencana penelitiannya (Foto ist.)


Damariotimes. Damariotimes. Semarang, tgl 29-30 Mei 2026. Diselenggarakan Pameran Data bertajuk “ Titik Temu” dengan narasumber Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. dari Universitas Negeri Malang. Dalam pameran data tersebut menyuguhkan kerja intelektual yang mengagumkan mengenai kekayaan budaya Nusantara. Makalah yang disajikan untuk merespon pameran data tersebut “Membaca proposal tesis mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Seni Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES)”. Daripada itu dikemukakan hasil evaluasi terhadap sebelas proposal penelitian yang berfokus pada seni tari dan seni pertunjukan yang mencerminkan upaya kolektif dalam menyeimbangkan antara kajian tekstual seni yang adiluhung dengan implementasi praktis di dunia pendidikan. Melalui pisau analisis yang mencakup ketepatan pendekatan, aplikasi teori, kelayakan akademik, serta perumusan strategi peningkatan kualitas, tulisan ini membedah kontribusi ilmiah para mahasiswa baik dalam ranah teoritis maupun aplikatif.

Salah satu Proposal penelitian magister yang diajukan oleh Anastasia Vitria Rilend mengangkat diskursus yang sangat krusial mengenai dekolonisasi kurikulum seni pertunjukan melalui pengintegrasian tradisi lisan lokal. Penilaian mendalam terhadap dasar rasional menunjukkan bahwa proposal ini memiliki pijakan argumentasi yang sangat kuat dan kontekstual. Kesenjangan empiris yang dipaparkan menggambarkan realitas paradoks di SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire, di mana institusi yang secara geografis dan kultural berada di jantung kebudayaan Papua justru mengadopsi materi teater yang bersifat universal-konvensional dan berorientasi luar Barat atau nasional. Rasionalisasi ini menjadi valid karena menempatkan tradisi lisan Mop bukan sekadar sebagai produk hiburan rakyat semata, melainkan sebagai media diskursif yang kaya akan struktur dramatik, satir politik, kontrol sosial, dan nilai pedagogis. Dengan merumuskan tujuan untuk menganalisis peluang serta tantangan integrasi ini secara komprehensif, arah riset ini berhasil memosisikan dirinya sebagai upaya kritis untuk merevitalisasi teater pendidikan. Penelitian ini tidak hanya bertujuan mendokumentasikan, melainkan merekonstruksi tradisi tutur lokal menjadi instrumen pembelajaran formal yang emansipatif bagi siswa di tanah Papua.

Aspek kebaruan atau inovasi riset dalam proposal ini memancarkan potensi akademik yang sangat signifikan bagi pengembangan keilmuan pendidikan teater. Letak inovasi utamanya berada pada peleburan domain sastra lisan komunal khas Papua dengan metodologi penulisan naskah drama modern berbasis kelas melalui lensa etnopedagogi. Selama ini, kajian mengenai Mop Papua cenderung mandek pada ranah antropologi budaya murni atau linguistik kebahasaan. Inovasi yang ditawarkan peneliti berhasil mendobrak batas sektoral tersebut dengan memindahkan Mop ke dalam ranah pedagogi seni pertunjukan praktis, transformatif, dan terukur. Proses konversi dari struktur cerita tutur bebas yang spontan menjadi teks lakon tertulis yang memiliki hukum-hukum dramatik—seperti plot, penokohan, konflik, dan resolusi merupakan sebuah lompatan metodologis dan kreatif yang segar. Peneliti menawarkan sebuah model pembelajaran teater kontekstual yang menjembatani pengetahuan kultural bawaan siswa dengan keterampilan literasi dramatik formal, yang selama ini jarang disentuh dalam riset kurikulum teater sekolah menengah atas.

Evaluasi terhadap kerangka teoretis yang diajukan menunjukkan penggunaan landasan konseptual yang relevan, namun memerlukan penajaman akademis untuk standar strata magister. Penggunaan pendekatan etnopedagogi sebagai pisau analisis utama sudah sangat tepat karena mampu membongkar bagaimana kearifan lokal ditransformasikan menjadi praksis pendidikan. Kendati demikian, teori pendukung yang mengatur tentang dramaturgi dan transformasi struktural dari tradisi lisan ke teks tertulis belum dieksplorasi secara mendalam di dalam proposal ini. Untuk meningkatkan bobot ilmiah tesis ini, peneliti wajib mengintegrasikan teori dramaturgi kontekstual, seperti teater rakyat atau dramaturgi pascakolonial, guna menganalisis bagaimana estetika humor dan satir dalam Mop dipertahankan ketika dialihkan ke dalam bentuk teks drama Barat yang kaku. Teori kreativitas seni dan teori resepsi budaya juga perlu disematkan guna membedah bagaimana siswa kelas X memproses, menginternalisasi, dan mereproduksi nilai-nilai sosiokultural Mop ke dalam naskah drama pendek mereka tanpa kehilangan esensi orisinalitas budayanya.

Ditinjau dari aspek metodologi, riset ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan paradigma etnopedagogi yang diaplikasikan di SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire. Meskipun rancangan ini mampu memotret dinamika kelas secara mendalam, metode yang dijabarkan saat ini masih tergolong sangat elementer dan cenderung menyerupai skripsi strata satu. Deskripsi metode belum memperlihatkan bagaimana teknik analisis data teater atau etnografi dilakukan secara rigid. Peneliti membatasi subjek pada siswa kelas X dan tokoh budaya Mop, namun belum merinci alur intervensi pedagogis atau desain instruksional pembelajaran penulisan naskah tersebut. Peneliti perlu mengelaborasi metode observasi partisipatif dan teknik analisis isi terhadap karya naskah drama siswa. Hal ini penting agar metodologi tidak hanya sekadar menginventarisasi faktor pendukung dan penghambat saja, melainkan mampu mengurai secara sistematis proses kognitif dan estetis siswa dalam mentranslasikan Mop Papua ke dalam media seni pertunjukan.

Secara umum, kualitas kelayakan proposal ini berada pada kategori yang cukup baik, namun berada pada ambang batas minimum untuk sebuah tesis magister pendidikan seni. Kekuatan utamanya terletak pada orisinalitas pemilihan objek materiil berupa Mop Papua dan tingginya nilai urgensi sosiokultural di wilayah Nabire. Namun, kelemahannya terletak pada kedalaman analisis penyajian data yang masih bersifat permukaan dan mekanistik. Judul pameran data yang diajukan, yaitu "Mop Papua di Kelas: Pemetaan Tantangan dan Peluang Integrasi Budaya Lokal dalam Pembelajaran Teater di SMAN 1 Plus KPG Nabire", mengindikasikan bahwa penelitian ini masih terjebak pada pola riset evaluatif-deskriptif makro, belum menyentuh inti terdalam dari keilmuan pendidikan seni pertunjukan itu sendiri, yaitu proses estetis, transformasi dramaturgis, dan efektivitas pedagogi seni di ruang kelas.

Guna meningkatkan gred dan kualitas akademik proposal ini agar layak disebut sebagai tesis S2 Pendidikan Seni Pertunjukan yang prestisius, beberapa usulan perbaikan mendasar wajib dilakukan oleh peneliti. Langkah pertama yang paling radikal adalah mereorientasi metode penelitian dari kualitatif-deskriptif murni menjadi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaboratif atau Penelitian dan Pengembangan (R&D). Dengan mengubah metode menjadi riset pengembangan, peneliti ditantang untuk menciptakan sebuah model pembelajaran, modul, atau panduan penulisan naskah drama berbasis Mop Papua yang divalidasi oleh ahli materi dan ahli pedagogi. Transformasi metodologis ini akan secara otomatis menaikkan gred penelitian dari sekadar memetakan tantangan menjadi menghasilkan solusi edukatif yang konkret dan dapat direplikasi oleh guru teater lain di seluruh tanah Papua.

Usulan perbaikan kedua menyangkut penajaman fokus pada rumusan masalah dan tujuan penelitian. Peneliti harus menggeser pertanyaan penelitian dari sekadar mendata faktor kendala dan pendukung makro menuju aspek mikropedagogi dan estetika teater. Rumusan masalah harus diubah untuk mengeksplorasi bagaimana struktur dramaturgi Mop Papua diadaptasi oleh siswa ke dalam bentuk drama pendek, dan bagaimana proses tersebut memengaruhi peningkatan kecerdasan kultural serta kreativitas estetik siswa. Selain itu, analisis hasil akhir tidak boleh hanya sekadar menilai naskah drama secara tekstual, melainkan harus membedah aspek nilai etnopedagogi yang tertanam di dalam struktur dialog dan konflik naskah yang ditulis siswa. Melalui rekonstruksi teoretis, metodologis, dan analitis yang mendalam ini, proposal Anastasia Vitria Rilend di bawah bimbingan Prof. Agus akan memiliki kualitas akademik yang tinggi, berdampak luas bagi pelestarian kebudayaan Papua, dan sepenuhnya layak untuk dipertahankan dalam sidang tesis magister seni.

 

Penulis : R.Dt.

Posting Komentar untuk "Pemanfaatan Mop Papua dalam Penulisan Naskah Drama Pendek melalui Studi Etnopedagogi sebagai subjek penelitian Tesis S2 Pendidikan Seni di UNNES Semarang"