Transformasi Gender dan Keberlanjutan Tradisi Tari Rangguk dalam Pameran Data Mahasiswa S2 Magister Pendidikan Seni UNNES


data yang dipamarkan pada kegiatan Pameran Data Pendidikan Seni "Titik Temu" (Foto ist.)


Damariotimes. Jumat, 29 Mei 2026. Pameran Data Pendidikan Seni bertajuk "Titik Temu" di gelar oleh mahasiswa program S2 Magister Pendidikan Seni UNNES Semarang, dalam perhelan tersebut membicarakan tentang kebudayaan yang lestari, hal ini tentunya  bukanlah entitas statis yang kaku, melainkan sebuah identitas yang mampu bertumbuh dan beradaptasi bersama perkembangan zaman tanpa pernah kehilangan jati diri aslinya. Esensi inilah yang tercermin kuat dalam proposal tentang Tari Rangguk, sebuah seni pertunjukan tradisional pusaka masyarakat Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Sebagai warisan budaya yang lahir dan berkembang dalam tradisi komunal, Tari Rangguk memiliki akar kebudayaan yang sangat kuat serta nilai historis yang mendalam. Pada awal kemunculannya, kesenian ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan pengikat solidaritas sosial, melainkan juga memegang peranan krusial sebagai media dakwah dalam menyebarkan ajaran agama Islam di wilayah tersebut. Melalui ketukan ritmis instrumennya, tarian ini merepresentasikan identitas lokal yang sarat akan nilai kebersamaan, gotong royong, serta penguat tali persaudaraan antarwarga.

Melihat kilas balik sejarahnya, Tari Rangguk telah melewati gelombang perubahan zaman yang sangat menarik, khususnya dalam konteks keterlibatan gender para penarinya. Merujuk pada catatan historis dalam dokumentasi pameran, pada awal masa perkembangannya di sekitar tahun 1935, Tari Rangguk merupakan kesenian yang sepenuhnya dibawakan oleh kaum laki-laki. Dominasi pria dalam tarian ini mencerminkan struktur sosial dan kebutuhan estetika massa pada era tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan sosial, dan derasnya arus modernisasi, pergeseran signifikan mulai terjadi pada dekade 1950-an. Peran penari secara bertahap mulai beralih dan bergeser ke kaum perempuan. Perubahan pandangan masyarakat terhadap kesetaraan gender dan keterlibatan ruang publik membuat tarian ini mengalami metamorfosis, hingga pada era kontemporer saat ini, Tari Rangguk justru lebih lumrah dan banyak dimainkan oleh penari perempuan. Fenomena pergeseran peran ini memicu ruang diskusi akademis yang mendalam mengenai proses transisi tersebut terjadinya fungsi praktis tari yang berubah di masyarakat, serta sejauh mana pergeseran gender ini memengaruhi dinamika struktur penyajian estetis di atas panggung. Pertanyaan ini menjadi menari untuk dijadikan titik awal di latar belakang, dan dengan semangat untuk menemukan sebabnya.

Secara visual dan struktural, transformasi gender ini turut memengaruhi tata busana dan perlengkapan yang dikenakan di atas panggung. Ketika dibawakan oleh penari laki-laki, busana tradisional yang dikenakan cenderung lebih bersahaja namun gagah, meliputi ikat kepala, baju teluk belango, serta kain songket khas yang disebut tehat. Sementara itu, ragam busana untuk penari perempuan tampil lebih semarak dan penuh detail hiasan, yang terdiri atas penutup kepala bernama kuluk, baju kuhong (baju kurung), kalung, selendang, pendain (ikat pinggang), dan dipadukan pula dengan kain songket tehat. Terlepas dari perbedaan busana tersebut, identitas utama Tari Rangguk tetap melekat pada properti wajibnya, yaitu rapano atau rebana. Ketukan ritmis dari rapano yang dipukul langsung oleh para penari, berpadu harmonis dengan alunan musik iringan dari kombinasi gendang, rebana statis, dan gong, menghasilkan atmosfer pertunjukan yang magis sekaligus dinamis. Kekayaan tarian ini juga terpancar dari kompleksitas ragam geraknya yang sangat kaya, meliputi puluhan gerak spesifik seperti gerak rangguk, niti pamatang, slang, nylang, beriang, mangkoa, hingga nikong yang masing-masing gerakannya memperlihatkan ketangkasan dan kelembutan yang menyatu.

Sebagai upaya menjaga agar pusaka nonbendawi ini tidak punah digilas waktu, sinergi dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk menjaga keberlangsungannya. Langkah-langkah strategis pelestarian kini aktif digalakkan melalui penguatan sanggar-sanggar seni lokal, penyelenggaraan festival budaya Kerinci secara berkala, pengintegrasian seni tradisional ke dalam kurikulum pendidikan, serta dokumentasi budaya yang masif. Salah satu bentuk nyata dari upaya dokumentasi dan kajian akademis ini tertuang dalam proyek pameran data pendidikan seni bertajuk "Titik Temu" yang diinisiasi oleh mahasiswa Magister Pendidikan Seni Universitas Negeri Semarang (UNNES), Alvin Pratama Ramadhan, melalui pameran kolaboratif dan ruang dialog terbuka semacam ini, seni tradisi seperti Tari Rangguk tidak lagi dipandang sebelah mata sebagai dokumen usang masa lalu, melainkan diposisikan sebagai ruang ekspresi yang hidup, reflektif, bermakna, dan terus bertransformasi menjadi sumber inspirasi ilmiah yang berharga bagi generasi muda di masa depan. Waktu diskusi dengan narasumber, Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. dari Universitas Negeri Malang, ada sesuatu yang perlu dijelaskan, pertama: fenomena teranformasi gender itu sendiri, sehingga dapat dilihat adanya motivasi, dan dampak sosial yang terjadi pada pelaku seni, atau masyarakat penyangganya, kedua keterkaitan dengan disiplin pendidikan seni belum menjadi bagian yang dielaborasikan. Sesuatu yang dipaparkan, masih bersifat informative, belum menemukan permasalahan yang mendasar. Tentunya hal ini dapat digali lebih mendalam, sehingga target kelayakan dan kepantasan sebagai penelitian setingkat magister pendidikan seni dapat dicapai.

 

Penulis : R.Dt.

 

Posting Komentar untuk "Transformasi Gender dan Keberlanjutan Tradisi Tari Rangguk dalam Pameran Data Mahasiswa S2 Magister Pendidikan Seni UNNES"