Strategi dan Solusi Peningkatan Kualitas Proposal Tesis Magister Pendidikan Seni UNNES 2026

 

Damariotims. Semarang, 29 Mei 2026. Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. mendapatkan kehormatan di undang untuk memberikan sumbang pikiran dalam acara Pameran data pada prodi Magister Pendidikan Seni UNNES Semarang.

Laporan pelaksanaan kegiatan tersebut, Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. menyampaikan hasil pengamatannya dengan topik: Membaca Proposal Penelitian Magister Pendidikan Seni Unnes Semarang 2026.Sebelas proposal tesis mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Seni Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES) tahun 2026 memberikan gambaran yang kaya mengenai pemetaan epistemologis seni pertunjukan di Nusantara. Evaluasi akademik yang dilakukan oleh Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. menunjukkan bahwa secara umum seluruh proposal memiliki kelayakan substantif yang tinggi. Karya-karya tersebut berhasil menangkap keragaman budaya lokal, mulai dari keanggunan tari Melayu di Riau, eksotisme tradisi Lampung, keunikan topeng Malang, dinamika gender di Kerinci, ritus Karo, hingga tradisi lisan Mop di Papua. Kendati demikian, guna mencapai standar publikasi ilmiah tingkat magister yang bereputasi, masih terdapat beberapa celah krusial yang memerlukan perbaikan dan solusi alternatif, baik dari aspek administratif, ketepatan metodologis, maupun harmonisasi antara kajian seni murni dengan ilmu pendidikan.

Celah pertama yang paling mendasar adalah masalah ketertiban administratif pada draf orisinal mahasiswa. Beberapa proposal, seperti karya Sri Murwati, Dinasti, Winkie, dan Alvin, belum mencantumkan identitas nama mahasiswa secara eksplisit pada lembar dokumen judul utama atau scope penelitian. Masalah ini tampak sederhana tetapi berdampak fatal pada akuntabilitas dan ketertelusuran dokumen dalam sistem manajemen akademik. Solusi mutlak untuk perbaikan ini adalah penerapan standardisasi kelengkapan naskah yang ketat sebelum proposal masuk ke meja penguji. Mahasiswa wajib melengkapi atribut formal secara baku, meliputi nama lengkap, Nomor Induk Mahasiswa (NIM), peminatan, dan tahun akademik, sebagaimana yang telah dilakukan dengan sangat rapi oleh Stepen Pedro Ginting, Mira Fauziyah, dan Anastasia Vitria Rilend.

Tantangan kedua yang mendominasi sebagian besar proposal kualitatif adalah kecenderungan terjebak dalam analisis sosiologi atau antropologi murni. Pada proposal Sri Murwati, Dinasti, Winkie, dan Alvin, fokus kajian sangat kuat pada pembongkaran makna simbolik, dekonstruksi karakter, dan transformasi gender teks tari. Namun, jembatan konseptual menuju kontribusi praktis pendidikan seni di lembaga formal maupun nonformal masih sangat lemah. Jika tidak diperbaiki, riset-riset ini akan kehilangan jati dirinya sebagai tesis kependidikan seni.

Solusi alternatif untuk mengatasi kelemahan ini adalah mewajibkan mahasiswa menyusun bab khusus atau sub-bab rekomendasi pedagogi yang konkret. Sri Murwati dan Dinasti harus mampu mentransformasikan nilai kesantunan komunal dan identitas Saibatin menjadi matriks adaptasi kurikulum atau bahan ajar kontekstual di sekolah. Winkie dapat mengarahkan analisis karakter antagonis Topeng Bapang menjadi media refleksi kritis atau katarsis untuk pendidikan moral siswa. Sementara itu, Alvin harus mempertegas bagaimana transformasi gender Tari Rangguk memengaruhi model pewarisan dan metode pembelajaran tari tradisi di lembaga nonformal. Melalui penajaman ini, analisis kebudayaan tidak akan berhenti sebagai dokumen sejarah, melainkan menjelma menjadi instrumen edukasi yang hidup.

Masalah ketiga berkaitan dengan ketidakjelasan fungsi teknologi dan metodologi penelitian di lapangan. Kasus pada proposal Ani Nur menunjukkan urgensi untuk memperluas fungsi digitalisasi dari sekadar isu eksternal menjadi instrumen pembelajaran aktif, misalnya dengan merancang platform digital sebagai media apresiasi seni tradisi. Di sisi lain, Evi Kristianingsih dalam proposalnya belum mempertegas jenis metode penelitian yang digunakan secara spesifik. Ketidakjelasan antara memilih metode kualitatif, Penelitian Tindakan Kelas (PTK), atau Research and Development (R&D) dapat mengaburkan langkah operasional di lapangan. Solusi untuk Evi adalah segera menetapkan batas-batas metodologis secara rigid agar instrumen pengumpulan data menjadi valid dan terarah sesuai prinsip Kurikulum Merdeka.

Tantangan keempat ditemukan pada penelitian yang memiliki desain metodologi tingkat lanjut, seperti studi kasus inklusif, fenomenologi tubuh, dan R&D. Proposal Chandra Dewi mengenai media pembelajaran bagi siswa tuna rungu memerlukan batasan operasional yang sangat presisi mengenai bagaimana stimulus taktil-visual diimplementasikan. Solusi alternatifnya adalah membuat prosedur modifikasi media yang detail, yang menjelaskan cara guru mentransformasikan ketukan musik audio menjadi isyarat visual yang akurat.

Untuk Aura Yoga Aulia, kedalaman teoretis mengenai embodied learning pada tari kontemporer harus diselaraskan dengan panduan aplikatif agar metode kognisi bertubuh tersebut dapat direplikasi dalam kelas kreativitas gerak di sekolah formal. Sementara itu, bagi Mira Fauziyah yang melakukan riset R&D ekopedagogi, dan Anastasia Vitria Rilend yang mengonversi Mop Papua menjadi naskah drama, solusi utamanya terletak pada validasi produk. Mereka harus memaparkan fase-fase pengujian produk secara sistematis, menyusun matriks panduan guru, serta melibatkan ahli koreografi, sastra, dan praktisi pendidikan demi mengukur efektivitas hasil pengembangan secara empiris.

Secara kolektif, peningkatan kualitas akademik program studi Magister Pendidikan Seni UNNES dapat dicapai melalui tiga strategi utama. Pertama, penguatan disiplin administratif sejak awal pengajuan proposal. Kedua, harmonisasi yang seimbang antara analisis tekstual seni dengan konteks pedagogi praktis agar luaran riset menghasilkan modul, metode, atau instrumen evaluasi yang nyata bagi sekolah. Ketiga, diversifikasi metodologi. Program studi harus mendorong keberanian mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman kualitatif deskriptif dan mulai mengeksplorasi metode kuantitatif, eksperimental, maupun Single Subject Research (SSR). Melalui perbaikan menyeluruh ini, proposal-proposal tahun 2026 ini tidak hanya layak secara akademik, tetapi juga siap memberikan kontribusi nyata yang inovatif bagi perkembangan pendidikan seni dan pelestarian budaya di Indonesia.

 

Repoerter : MAH

 

Posting Komentar untuk "Strategi dan Solusi Peningkatan Kualitas Proposal Tesis Magister Pendidikan Seni UNNES 2026"