Menakar Kelayakan Akademik Serta Strategi Peningkatan Mutu Proposal Tesis Magister Pendidikan Seni Universitas Negeri Semarang


Poster kegiatan Pameran Data Penelitian (Foto ist.)


Damariotimes. Membaca proposal tesis mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Seni Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (UNNES) menyuguhkan sebuah kerja intelektual yang mengagumkan mengenai kekayaan budaya Nusantara. Evaluasi terhadap sebelas proposal penelitian yang berfokus pada seni tari dan seni pertunjukan ini mencerminkan upaya kolektif dalam menyeimbangkan antara kajian tekstual seni yang adiluhung dengan implementasi praktis di dunia pendidikan. Melalui pisau analisis yang mencakup ketepatan pendekatan, aplikasi teori, kelayakan akademik, serta perumusan strategi peningkatan kualitas, tulisan ini membedah kontribusi ilmiah para mahasiswa baik dalam ranah teoritis maupun aplikatif.

Penelitian pertama diajukan oleh Sri Murwati yang mengeksplorasi makna gerak dan simbolik Tari Persembahan Makan Sirih Melayu Riau di Kabupaten Siak. Menggunakan pendekatan etnokoreologi dan semiotika, penelitian kualitatif ini mengaitkan secara kontekstual teks gerak dengan jejak historis Kesultanan Siak Sri Indrapura. Secara akademik, proposal ini sangat layak karena kuat dalam membongkar nilai kesantunan komunal, meskipun memerlukan perbaikan administratif terkait pencantuman identitas pada draf awal. Agar relevan dengan capaian lulusan magister, Sri Murwati perlu mempertegas batas sosiologisnya serta menerjemahkan fungsi peran sosial masa lalu ke dalam rekomendasi kurikulum atau bahan ajar seni di sekolah formal.

Selanjutnya, Dinasti mengangkat keunikan sosiokultural melalui penelitian Makna Simbolik Tari Piring Dua Belas sebagai representasi identitas kebudayaan Lampung Pesisir atau Masyarakat Adat Saibatin di Kabupaten Tanggamus. Proposal ini dinilai layak karena berhasil menangkap isu krusial mengenai ketidakoptimalan regenerasi vertikal seni tradisi dalam jalur keluarga. Strategi penguatan untuk draf ini terletak pada penajaman analisis struktural semiotika gerak serta penyusunan matriks adaptasi nilai budaya Saibatin ke dalam model pembelajaran kontekstual di sekolah untuk menutupi kegagalan transmisi keluarga tersebut.

Keunikan lain muncul dari proposal Winkie yang mendekonstruksi karakter antagonis melalui gerak Tari Topeng Bapang dalam Wayang Topeng Malang. Dengan memadukan semiotika visual dan sosiologi pertunjukan di Padepokan Seni Tari Asmoro Bangun, penelitian ini bernilai tinggi karena berani mengambil objek tokoh ugal-ugalan yang melambangkan hawa nafsu duniawi remaja. Objek ini sangat jarang diteliti dalam skema pendidikan karakter yang biasanya didominasi oleh tokoh protagonis. Guna meningkatkan kualitas naskah, Winkie disarankan mengeksplorasi visualisasi gerak kasar tersebut sebagai media katarsis dan refleksi kritis yang preventif bagi pembentukan moralitas peserta didik.

Di sisi lain, Alvin menawarkan kebaruan teoritis yang sangat kuat melalui kajian interdisipliner bertajuk Transformasi Gender Tari Rangguk Kerinci dari Tradisi Lelaki ke Ekspresi Perempuan. Berpijak pada teori gender, politik tubuh, dan studi pertunjukan, proposal ini sangat layak karena berhasil memotret pergeseran peran penari di tengah negosiasi norma sosial-keagamaan yang ketat. Namun, agar tidak bias menjadi penelitian sosiologi murni, Amin wajib mengarahkan kontribusi kajiannya ke ranah pendidikan seni dengan mendeskripsikan dampak transformasi gender ini terhadap model pewarisan tari di lembaga formal maupun nonformal.

Isu ketahanan budaya di era disrupsi teknologi juga ditangkap dengan baik oleh Ani Nur yang meneliti makna dan fungsi Mpa'a Manca di Desa Maria, Bima. Melalui pendekatan fungsionalisme struktural dan sosiologi media, proposal ini mengkaji tentang kesenian tradisional bertahan di tengah arus digitalisasi. Langkah strategis yang perlu diambil oleh peneliti adalah memperluas kajian pada pemanfaatan teknologi sebagai ruang pengarsipan digital sekaligus merancang platform alternatif untuk pembelajaran apresiasi seni di sekolah menengah.

Dampak sosial yang nyata dalam pendidikan inklusif dihadirkan oleh Chandra Dewi melalui studi kasus mengenai efektivitas metode dan media pembelajaran Tari Babalu pada peserta didik tunarungu di SLB Negeri Kabupaten Batang. Desain riset ini dinilai sangat layak karena sangat aplikatif dalam mentransformasikan kode irama auditif menjadi isyarat visual dan taktil berbantuan YouTube. Chandra Dewi hanya perlu mempertajam prosedur modifikasi tersebut dengan memberikan batasan operasional yang jelas tentang bagaimana ketukan musik dapat diubah menjadi stimulasi visual yang presisi di kelas.

Pedagogi budaya yang rapi dan terstruktur ditunjukkan oleh Stepen Pedro Ginting dalam penelitiannya mengenai internalisasi nilai karakter melalui Guro-Guro Aron bagi remaja masyarakat Karo di SMA Negeri 1 Juhar. Proposal ini mendapat apresiasi tinggi karena kelengkapan administratifnya yang sangat baik. Untuk meningkatkan kedalaman analisisnya, Stepen perlu membuat diferensiasi yang tegas antara pelaksanaan ritus di masyarakat dengan implementasi kurikuler di sekolah, serta merumuskan indikator keberhasilan nilai gotong royong agar instrumen evaluasinya dapat diukur secara rigid.

Kematangan epistemologis tingkat lanjut terlihat pada proposal Aura Yoga Aulia yang mengkaji konsep embodied learning dalam transmisi pengetahuan gerak pada transformasi estetika tari kontemporer Dian Bokir di Dimar Dance Theatre. Pendekatan fenomenologis sosiologi kognisi tubuh ini menawarkan kedalaman ilmiah yang tinggi dalam membedah pengetahuan non-verbal pada tubuh penari. Peneliti diharapkan dapat menyelaraskan analisis estetika ini dengan ranah edukasi praktis, sehingga metode bertubuh tersebut dapat diaplikasikan dalam pengajaran kreativitas gerak di perguruan tinggi atau sekolah formal.

Inovasi luar biasa juga datang dari Mira Fauziyah melalui riset pengembangan yang berorientasi pada isu lingkungan hidup dengan draf akhir Desain Culturally Responsive Teaching pada Tari Wiji Asih melalui Media Video untuk Meningkatkan Kepedulian Lingkungan Siswa SMP Negeri 12 Semarang. Riset ini sangat kontekstual karena mengintegrasikan krisis ekologis ke dalam materi seni tari di sekolah Adiwiyata. Sebagai penelitian pengembangan, strategi peningkatannya bertumpu pada penjabaran fase pengujian produk secara sistematis, termasuk validasi dari ahli koreografi dan ahli ekopedagogi untuk mengukur efektivitas kesadaran lingkungan siswa.

Terakhir, Anastasia Vitria Rilend memperluas diversifikasi keilmuan pertunjukan di UNNES dengan memasukkan unsur teater melalui pemanfaatan Mop Papua dalam penulisan naskah drama pendek di SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire. Pendekatan etnopedagogi yang memadukan tradisi lisan seni humor rakyat ini tertulis dengan sangat rapi dan lengkap. Untuk menyempurnakan penelitian ini, Anastasia perlu menajamkan prosedur konversi dengan merumuskan matriks panduan bagi guru agar cerita Mop yang bersifat cair dan spontan dapat diubah menjadi struktur naskah drama tertulis yang baku di kelas.

Secara kolektif, hasil evaluasi ini menghasilkan tiga rekomendasi strategis bagi kemajuan mutu akademik di lingkungan Program Studi Magister Pendidikan Seni UNNES. Pertama, pentingnya penguatan aspek administratif dan standardisasi ilmiah; pencantuman identitas diri mahasiswa harus dilakukan secara konsisten sejak awal pengajuan berkas demi menjaga akuntabilitas data. Kedua; perlunya harmonisasi yang tegas antara kajian tekstual seni dan kontekstual pedagogi. Mahasiswa tidak boleh berhenti pada dokumentasi kebudayaan semata, melainkan harus membangun jembatan konseptual yang menghasilkan luaran konkret berupa strategi pembelajaran atau modul instruksional di sekolah. Ketiga; program studi perlu mendorong pemanfaatan metodologi yang lebih variatif, seperti penelitian kuantitatif, eksperimental, Single Subject Research, maupun riset pengembangan murni, guna menyeimbangkan dominasi pendekatan kualitatif deskriptif yang ada saat ini.

 

Penulis: MAH

Posting Komentar untuk "Menakar Kelayakan Akademik Serta Strategi Peningkatan Mutu Proposal Tesis Magister Pendidikan Seni Universitas Negeri Semarang"