![]() |
| Caver buku Tari Bapang (Foto ist.) |
Damariotimes.
Kekayaan tradisi Nusantara merupakan kristalisasi nilai filosofis, historis,
dan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur. Di tengah
derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang kian mendistorsi eksistensi
kebudayaan lokal, upaya dokumentasi tertulis menjadi sebuah keharusan kultural
yang mutlak. Berangkat dari kesadaran arif tersebut, Prof. Dr. Robby Hidajat,
M.Sn., seorang akademisi sekaligus budayawan, menghadirkan sebuah karya
literasi monumental berjudul "TARI TOPENG BAPANG: Warisan Budaya Tak
Benda Wayang Topeng Asmarabangun dari Desa Kedungmonggo Kabupaten Malang".
Buku
yang diterbitkan oleh Media Nusa Creative (MNC) Malang pada Maret 2026 ini merupakan
dokumen akademis-kultural yang mengupas secara mendalam entitas, struktur,
anatomi gerak, serta dinamika salah satu karakter paling ikonik dalam khazanah
seni pertunjukan Wayang Topeng Malang, yaitu tokoh Bapang Jayasentika. Melalui
metodologi yang tajam serta kedekatan empiris yang intens terhadap subjeknya,
Prof. Robby Hidajat berhasil memetakan ekosistem Wayang Topeng langsung dari
basis kulturnya di Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji,
Kabupaten Malang. Buku ini menjadi oase literatur yang krusial bagi para
peneliti, pendidik, praktisi seni, serta generasi muda yang bertekad menjaga
agar api peradaban lokal Malang Raya tetap menyala.
Asal-Usul
Tradisi: Dari Ritus Sakral Menuju Seni Pertunjukan
Secara
historis, seni topeng dalam lanskap kebudayaan Jawa memiliki akar yang sangat
dalam, bermula sebagai media ritus dan sarana pemujaan terhadap roh leluhur.
Prof. Robby Hidajat mengurai akar sejarah ini dengan sangat runut, memaparkan
transisi fungsi topeng yang semula bersifat sakral hingga bertransformasi
menjadi seni pertunjukan yang estetis-profan. Pada masa lampau, topeng
berfungsi sebagai jembatan metafisik untuk menghadirkan entitas suci nenek
moyang dalam upacara keselamatan desa, atau yang dikenal sebagai ritual suguh
pundhen. Di Kabupaten Malang, khususnya di Dusun Kedungmonggo, tradisi
ritual ini dijaga ketat dari generasi ke generasi sebelum akhirnya bertumbuh
menjadi sebuah pertunjukan teater rakyat yang terstruktur dalam format Wayang
Topeng Malang.
Buku
ini menyajikan peta kronologis yang komprehensif mengenai sejarah dan jalur
persebaran Wayang Topeng di tanah Malang. Penulis secara jeli menyoroti peran
strategis para maestro terdahulu yang mengorbankan dedikasi hidupnya demi
tegaknya panji-panji tradisi ini. Tokoh-tokoh legendaris seperti almarhum Mbah
Karimoen, Taslan Harsono, dan Chattam AR., ditempatkan sebagai pilar historis
utama yang mengokohkan pondasi Wayang Topeng Asmarabangun.
Tidak
hanya terjebak pada romantisme masa lalu, narasi dalam buku ini bergerak dinamis
dengan mengapresiasi para tokoh masa kini yang masih konsisten bergerak dalam
jalur pelestarian, seperti Moch Soleh Adi Pramono, Soeroso, dan Tri Handoyo,
serta dukungan dari kolektor topeng berkomitmen tinggi seperti Yudit
Pradananto. Kehadiran pusat-pusat persebaran seni di berbagai desa menegaskan
bahwa Wayang Topeng bukan sekadar komoditas hiburan yang terisolasi, melainkan
sebuah jaringan sosial-budaya yang hidup dan bernyawa di tengah masyarakat.
Karakteristik,
Struktur, dan Makna Filosofis Tokoh Bapang
Fokus
utama dari buku ini terletak pada pembedahan mendalam terhadap karakter Bapang
Jayasentika. Dalam konstelasi lakon Panji, tokoh Bapang menempati posisi yang
sangat unik dan selalu menjadi magnet yang dinantikan oleh penonton. Dengan
ciri fisik topeng yang khas—mata yang melotot (kedelen), hidung panjang
menjulur (bapangan), serta warna merah dominan yang melambangkan
keberanian, ketegasan, sekaligus sifat ekspresif—Bapang melambangkan penasihat
atau tokoh berkarakter gagah yang memiliki dinamika gerak yang sangat kaya dan
bebas.
Prof.
Robby Hidajat secara detail membongkar struktur gerak Tari Bapang. Pembaca
diajak memahami ragam gerak kaki yang kokoh merendah (mendhak),
bentangan tangan yang lebar (ngetrancat), hingga gerak dinamis kepala
dan bahu yang mengesankan sifat jenaka, cerdik, namun penuh kewaspadaan. Setiap
detail gerak tersebut ternyata mengandung makna filosofis yang mendalam.
Penulis mengajak pembaca untuk melihat melampaui keindahan visual (estetika)
menuju ranah makna simbolik (etika). Tari Bapang merepresentasikan sifat
manusia yang jujur, terbuka, apa adanya, dan menolak kepalsuan—sebuah karakter
yang sangat lekat dengan identitas sosial-kultural masyarakat Malang yang
dikenal egaliter dan berani. Ketepatan penempatan Tari Bapang dalam setiap
fragmen lakon Panji menunjukkan bahwa karakter ini berfungsi sebagai
penyeimbang, memberikan dinamika humor sekaligus ketegangan dramatis yang
memperkaya kualitas pertunjukan.
Revitalisasi
dan Komitmen Keberlanjutan Tradisi
Pada
bab-bab akhir, buku ini membawa pembaca pada realitas kontemporer yang dihadapi
oleh seni tradisi. Prof. Robby Hidajat dengan kritis mengulas tantangan
regenerasi di era digital, di mana perhatian generasi muda kerap terfragmentasi
oleh penetrasi budaya asing. Masalah pelestarian tidak lagi bisa dibebankan
secara sepihak kepada para seniman di pedepokan, melainkan menuntut adanya
sinergi pentaheliks yang melibatkan instansi pemerintah, akademisi, komunitas,
media, dan pelaku industri kreatif.
Penulis
mendesak perlunya kebijakan strategis untuk memasukkan Tari Topeng Bapang dan
Wayang Topeng Malang secara masif ke dalam kurikulum bahan ajar lembaga
pendidikan formal sebagai muatan lokal, sekaligus menjadikannya materi hiburan
masyarakat yang adaptif. Melalui buku ini, terkandung sebuah seruan atau ajakan
moral yang kuat bagi seluruh elemen masyarakat Malang Raya untuk bangga dan
secara aktif merawat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ini agar mendapatkan
pengakuan yang kokoh di tingkat nasional. Penerbitan buku oleh Media Nusa Creative
ini menjadi bukti nyata komitmen literasi dalam mendukung pelestarian
kebudayaan Nusantara agar tak lekang oleh waktu dan zaman yang terus berganti.
Reporter : MAH

Posting Komentar untuk "Menyingkap Tari Topeng Bapang: Kontekstualisasi dan Pelestarian Warisan Budaya Tak Benda Kabupaten Malang"