Observasi Teknis Peningkatan Potensi Pembinaan Sanggar Tari Senaputra Malang


Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. diterima oleh pengurus sanggar Senaputra di kantornya (Foto ist.)


Damariotimes. Malang, 10 Mei 2026. Langkah awal dalam pelestarian seni budaya tradisional sering kali bermula dari pengamatan mendalam terhadap institusi yang secara konsisten menjadi garda terdepan pendidikan nonformal masyarakat. Sebagai bagian dari pelaksanaan awal kegiatan pengabdian kepada masyarakat, sebuah observasi teknis komprehensif dilaksanakan di Sanggar Tari Senaputra Malang. Sanggar legendaris ini menyimpan nilai historis yang luar biasa, merekam dinamika perkembangan seni gerak di wilayah Malang Raya selama lebih dari empat dekade. Didirikan sejak era 1980-an oleh Bapak Roestam yang kala itu mengelola Taman Rekreasi Senaputra Malang, lembaga ini telah tumbuh menjadi episentrum pelestarian kebudayaan Jawa yang kokoh di tengah gempuran modernisasi yang kian gencar menghantam ruang kreativitas generasi muda.

Perjalanan panjang Sanggar Tari Senaputra selama kurang lebih tiga puluh hingga empat puluh tahun terakhir bukanlah sebuah jalan yang selalu mulus. Dalam perkembangannya, sanggar ini telah mengalami dinamika pasang surut yang sangat menantang, termasuk beberapa kali perpindahan lokasi latihan demi menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi infrastruktur kota. Saat ini, aktivitas olah seni sanggar bertempat di Balai Kelurahan Klojen yang beralamat di Jalan Panglima Sudirman Nomor 18, Malang, sementara pusat administrasinya dikelola melalui sekretariat di Jalan Urip Sumoharjo F. 12, Kota Malang. Walaupun secara fisik tempat berlatih mereka berpindah-pindah, satu hal yang sangat mengagumkan adalah antusiasme serta minat masyarakat yang tetap luar biasa tinggi. Fakta ini membuktikan bahwa kebutuhan kolektif warga Malang akan ruang ekspresi tradisi masih sangat kental, melintasi sekat-sekat perubahan zaman yang terjadi di sekitarnya.


Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. meninjau administrasi sanggar Senaputra (Foto ist.)


Melihat potensi yang begitu masif beriringan dengan adanya berbagai keterbatasan teknis, Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn., seorang guru besar dan pakar seni pertunjukan dari Universitas Negeri Malang, bersama tim Pengabdian Kepada Masyarakat UM menginisiasi kunjungan observasi teknis. Kehadiran beliau bukan sekadar untuk melakukan pendataan formal, melainkan membawa misi yang jauh lebih visioner. Langkah ini dirancang sebagai jembatan awal untuk merumuskan sebuah kerja sama formal yang sifatnya strategis antara pihak Sanggar Tari Senaputra dengan Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan Universitas Negeri Malang. Hubungan emosional dan akademis antara kedua institusi ini sebenarnya sudah lama terjalin secara organik. Hal tersebut dibuktikan dengan fakta di lapangan bahwa beberapa siswa senior sanggar saat ini sedang menempuh studi lanjut di program studi tersebut, bahkan beberapa alumni Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan Universitas Negeri Malang telah mendedikasikan ilmu mereka dengan kembali ke sanggar untuk bertindak sebagai tenaga pengajar atau pelatih tetap.


Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. meninjau pelaksanaan pembelajaran siswa sanggar (Foto ist.)

Secara struktural, Sanggar Tari Senaputra dikelola dengan manajemen personalia yang sangat berdedikasi demi menjaga kelangsungan proses pembelajaran harian. Kepemimpinan sanggar saat ini diamanahkan kepada Kresno Utomo selaku Ketua Sanggar, didampingi oleh Siti Sofiana, S.Pd. yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pelatih. Kelancaran administrasi dan operasional keuangan berada di bawah pengawasan Nowo Setyo Rini, S.Pd. sebagai Sekretaris dan Endang Uriani sebagai Bendahara. Kekuatan utama dari sanggar ini terletak pada jajaran pelatihnya yang mengombinasikan keahlian para pakar senior dengan energi segar para alumni perguruan tinggi. Di samping Siti Sofiana dan Nowo Setyo Rini yang bertindak sebagai pelatih senior, terdapat Bagus Suwarno yang mengampu bidang spesifik karawitan dan pedalangan, serta Sindy Chitra Dewi, seorang alumni Universitas Negeri Malang yang membawa pemikiran instruksional baru. Kinerja pengajaran ini didukung pula oleh asisten pelatih muda seperti Reza Andi Wijaya dan Zahra Naila Putri, serta Adika yang secara khusus menangani bidang olah tubuh bagi para siswa.

Berdasarkan data observasi teknis terbaru, sanggar ini mengelompokkan siswanya ke dalam lima jenjang kelas yang disesuaikan secara cermat berdasarkan usia dan tingkat perkembangan motorik anak. Kelompok pertama adalah Kelompok Persiapan Baru yang diperuntukkan bagi anak-anak usia PAUD dan TK dengan total siswa aktif sebanyak empat belas anak, di mana mereka fokus pada pengenalan dasar gerak pada hari Minggu pagi. Selanjutnya, terdapat Kelompok Persiapan yang menampung dua puluh dua siswa dari jenjang Sekolah Dasar kelas satu dan dua, di mana anak-anak ini selain belajar tari juga mulai diperkenalkan pada seni karawitan secara simultan. Pada tingkat menengah, terdapat Kelompok Indria Anak A yang diisi oleh dua puluh tiga siswa Sekolah Dasar kelas tiga dan empat, serta Kelompok Indria Anak B yang memiliki anggota sebanyak dua puluh siswa aktif dari kelas lima dan enam Sekolah Dasar. Terakhir, sanggar ini membina Kelompok Remaja yang mencakup sebelas siswa dari tingkat SMP, SMU, kalangan mahasiswa, hingga masyarakat umum yang mendalami teknik tari tingkat lanjut dan eksplorasi seni tradisi yang lebih kompleks.

Metode pengajaran yang diterapkan di Sanggar Tari Senaputra bersifat holistik, di mana kurikulum pembelajaran tidak hanya membatasi diri pada pengajaran tari tradisional dan klasik saja. Seiring berjalannya waktu, materi pengajaran telah diperluas ke arah tari kreasi baru, kelas karawitan jawa yang memanfaatkan satu perangkat gamelan lengkap berlaras pelog dan slendro, hingga dasar-dasar seni pedalangan wayang kulit. Dengan dukungan properti penunjang operasional seperti sistem pengeras suara yang memadai serta inventaris kostum atau busana tari yang variatif, proses belajar mengajar dapat diselenggarakan dengan atmosfer yang kondusif setiap hari Minggu. Seluruh proses pembelajaran ini dievaluasi secara berkala melalui mekanisme ujian semester yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali, yang fungsinya tidak hanya mengukur capaian teknis siswa tetapi juga melatih mental mereka lewat pementasan publik, seperti keterlibatan dalam agenda prestisius tahunan Malang Tempo Doeloe maupun berbagai festival tari daerah.

Melalui program observasi teknis yang diinisiasi oleh Universitas Negeri Malang ini, segala bentuk pasang surut kondisi pembelajaran diharapkan dapat dicarikan solusi berbasis akademik dan praktis. Hubungan kemitraan yang sedang dirintis ini ditargetkan mampu memperkuat sistem sertifikasi kompetensi tari siswa yang selama ini sudah berjalan dua tahun sekali melalui pelibatan tim penguji eksternal dari kalangan dosen dan seniman profesional. Dengan adanya sinergi formal antara dunia akademik kampus dengan sanggar akar rumput, implementasi nilai kebudayaan nusantara diharapkan tidak sekadar menjadi aktivitas pengisi waktu luang, melainkan bertransformasi menjadi sebuah gerakan pelestarian kebudayaan yang terstruktur, saintifik, dan memiliki keberlanjutan yang kuat demi masa depan generasi penerus bangsa di Kota Malang.

 

Reporter: MAH

 

Posting Komentar untuk "Observasi Teknis Peningkatan Potensi Pembinaan Sanggar Tari Senaputra Malang"