![]() |
| salah satu koreografi yang mencapai estetika komperhensif (Foto ist.) |
Damariotimes. Malang, 9 Mei 2026. SMP N 3 Kepanjen Kab. Malang sebagai Penyelenggaraan Festival
dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tahun 2026; kompetisi seni siswa tingkat Kabupaten
Malang yang dilaporkan ini adalah cabang Seni Tari Kreasi; pelaksanaan kegiatan akbar ini telah menjadi panggung yang menarik untuk
memotret sejauh mana perkembangan kreativitas koreografis di tingkat sekolah
menengah pertama. Melalui pengamatan terhadap para penyaji, muncul gambaran
komprehensif mengenai peta kekuatan teknik; kepenarian, bekal materi, dan
sensitivitas kinetika; musikalitas; pola ritmikal, melogi, vocal, dan fungsinya
sebagai ilustrasi atau pengiring tari, dan kreativitas; inovasi, dan kemampuan
dalam membentuk tampilan sebagai sebuah kesatuan artistic yang harmonis.
Berdasarkan hasil rekapitulasi nilai akhir, terlihat korelasi yang jelas antara
kematangan konsep gaapan dengan peringkat yang diraih oleh masing-masing
sekolah. Adapun sebagai dewan pengamat Robby Hidajat; dosen PSP FS UM, dan
Davin; seniman dan praktisi seni pertunjukan.
Dominasi
Teknik dan Kedalaman Eksplorasi
Aspek
kemampuan teknik menjadi fondasi utama yang sangat menentukan kualitas sebuah
karya tari. Dalam kompetisi kali ini, SMPN 1 Tirtoyudo dengan karya
"Dal Etreng" penampil yang secara komperhensif mampu mencapai
komulatif poin dalam kategori mencapai tingkat bagus. Keberhasilan ini didorong
oleh nilai teknik individu yang nyaris sempurna. Penari pada kelompok ini tidak
hanya sekadar hafal gerak, namun telah mencapai taraf kesiapan fisik untuk
mengekspresikan tema secara total, di mana interaksi kelompok terbangun dengan
sangat organik.
Pencapaian
penyajian yang baik juga ditunjukkan oleh SMPN 2 Wagir yang menampilkan karya
berjudul: "Ngrabut Warddi". Tenaga penari mampu mencapai intensitas
yang dibutuhkan tema, mengubah bentuk-bentuk konvensional menjadi sajian
koreografis yang kuat. Di posisi berikutnya, SMPN 1 Tumpang yang mencapai
tampil bagus; dengan membuktikan hasil
kerja tim yang solid dan penghayatan topik yang dramatik mampu memberikan
dukungan besar pada representasi tema.
Namun,
evaluasi teknis juga mencatat adanya kesenjangan. Beberapa sekolah masih
terjebak pada persoalan ketidakyakinan gerak dan komposisi yang
"kotor". Sekolah-sekolah yang berada di peringkat bawah umumnya
memiliki kendala pada ketidaktuntasan gerak dalam membentuk pola tenaga,
sehingga pesan koreografis tidak tersampaikan dengan maksimal kepada penonton
maupun dewan pengamat.
Musikalitas
sebagai Ruh Pertunjukan
Musik
dalam tari kreasi seharusnya berfungsi sebagai mitra dialog bagi gerak, bukan
sekadar pengiring. Evaluasi pada aspek musik menunjukkan bahwa sekolah-sekolah
di peringkat atas adalah mereka yang mampu menyatukan musikalitas dengan
motivasi gerak. SMPN 1 Tirtoyudo dan SMPN 2 Wagir kembali membuktikan bahwa
musik yang dikomposisi secara matang dapat menjadi penguat tematik yang sangat
representatif.
Sebaliknya,
pada beberapa penyaji di papan tengah dan bawah, musik seringkali tampil
dominan namun hanya sebagai ilustrasi ritmik, bahkan melodi yang hanya ingin
menyampaikan pesan tematik. Hal ini menyebabkan penari kehilangan potensi penghayatannya
karena variasi tema musikalitas yang tidak padat. Catatan penting muncul untuk
kelompok yang masih menggunakan vokal atau dialog yang tidak ditempatkan secara
tepat, yang justru mengganggu alur dramatik tarian dan berdampak pada penurunan
skor di aspek musikalitas.
Kreativitas:
Kunci Inovasi Tematik
Aspek
kreativitas menjadi pembeda antara karya yang visioner dengan karya yang
imitatif. Di kompetisi tahun ini, inovasi yang paling menonjol adalah
keberanian mengeksplorasi properti dan kostum. SMPN 4 Kepanjen yang baik
dalam menyampaikan koreografi berjudul "Sukuran Tumpeng", menjadi
contoh cerdas tentang pemanfaatan kostum dapat menciptakan variasi adegan yang
dinamis meskipun dengan pola musik yang sederhana.
Kreativitas
juga terlihat pada SMPN 2 Pagak yang dapat perhatian bagus. Penggunaan
properti caping dan integrasi vokal doa mampu menghidupkan suasana koreografi
yang otentik. Namun, bagi penyaji yang berada di peringkat di bawah 10 besar,
terdapat catatan kritis mengenai penggunaan properti yang hanya bersifat
"mainan" bahkan “fungsional” tidak ada keberanian untuk
menginterpertasikan, atau mengeksplor lebih mendalam. Property tanpa fungsi
koreografis yang jelas. Banyak adegan yang masih bersifat pantomimik stereotip,
yang menurut evaluasi juri, justru mengurangi kedalaman interpretasi estetik.
Kesimpulan
dan Refleksi Kompetisi
Berdasarkan
hasil rekapitulasi, terlihat bahwa SMPN 1 Tirtoyudo, SMPN 2 Wagir,
SMPN 1 Tumpang, dan SMPN 4 Kepanjen telah mampu menetapkan
standar tinggi dalam integrasi teknik, musik, dan kreativitas. Peringkat yang
diraih merupakan cerminan dari keseriusan dalam proses eksplorasi dan riset
tematik, serta membawa penarinya mencapai proses dalam mencapai kemampuan
mengekspresikan tematik yang dipilih.
Bagi
peserta lainnya, hasil ini merupakan bahan evaluasi yang berharga. Fokus
perbaikan di masa depan harus diarahkan pada pengolahan tubuh agar gerak lebih
bertenaga, penciptaan musik yang mampu membangun emosi, serta keberanian untuk
meninggalkan pola-pola konvensional demi mencapai kreativitas yang lebih segar
dan inovatif. FLS2N 2026 Kabupaten Malang telah membuktikan bahwa tari kreasi
adalah ruang bagi kecerdasan gerak dan kedalaman rasa yang harus terus diasah
oleh setiap siswa yang memiliki bakat, dan kemauan untuk mencapai estetika
tubuh yang estetik.
Penulis: R.Dt.

Artikel ini sangat menarik karena memberikan evaluasi yang mendalam terhadap pertunjukan tari kreasi FLS3N 2026 Kabupaten Malang. Pembahasannya tidak hanya menilai teknik tari, tetapi juga musikalitas dan kreativitas koreografi secara komprehensif. Artikel ini dapat menjadi bahan refleksi dan motivasi bagi peserta didik maupun pelaku seni untuk terus mengembangkan kualitas karya tari yang inovatif dan estetis.
BalasHapus