![]() |
| Isi tidak seindah tampilan fisik (Foto ist._ |
Damariotimes.
Dinamika seni pertunjukan di lingkungan akademis sejatinya bukan sekadar ritual
pemenuhan nilai ujian akhir semester atau formalitas birokrasi kampus untuk
menggugurkan kewajiban kurikulum. Lebih dari itu, panggung akademik merupakan
sebuah ruang kontemplasi budaya yang sangat krusial, di mana idealisme murni
mahasiswa dipertemukan langsung dengan realitas peradaban yang terus bergolak
dan berkembang. Pada hari Rabu, tanggal 20 Mei 2026. Gedung Graha Tirta menjadi saksi
bisu tentang Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan, Departemen Seni dan
Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, berhasil mentransformasikan
kurikulum berbasis kewirausahaan seni menjadi panggung ekspresi yang megah dan
penuh daya hidup. Melalui Pergelaran Seni Pertunjukan ke-XVII yang bertajuk Infinity
Fraternus dengan sub-tema Two Souls, One Horizon, lebih dari dua
ratus mahasiswa dari angkatan 2023 dan 2024 saling bersinergi demi merajut
harmoni Nusantara. Mereka berupaya menembus batas zaman lewat eksplorasi
koreografi serta komposisi musik yang impresif, sekaligus menyajikan wacana
estetis yang mengundang perdebatan intelektual mendalam mengenai batas
pelestarian dan modifikasi bentuk tradisi.
Di
tengah riuhnya keragaman karya yang ditampilkan, salah satu sajian yang menarik
perhatian secara personal dan menyentuh emosi terdalam penonton adalah
repertoar berjudul Juwita Atmaka. Karya tari yang bernuansa gaya Jawa
Tengah ini menyuguhkan narasi emosional yang sangat personal, berfokus penuh
pada keteguhan jiwa seorang manusia dalam menghadapi pahitnya penolakan dan
pengabaian hidup. Melalui struktur gerak yang lirih, subtil, namun sarat akan
penekanan emosi yang mendalam, penonton diajak untuk menyelami kedalaman
penderitaan seseorang yang mencintai dalam keheningan diam dan terpaksa menelan
luka batinnya sendirian. Pada titik paling rapuh di tengah pertunjukan,
struktur koreografi mengalami transformasi yang sangat signifikan,
menggambarkan momen spiritual mengenai pelepasan ego manusia dan rasa sakit
yang telah lama mengendap. Dari puing-puing kehancuran emosional tersebut,
lahirlah sebuah kekuatan baru yang terasa sangat megah, yang secara berangsur
mengubah keputusasaan purba menjadi sebuah keteguhan jiwa yang mandiri, tegar,
dan berdaya. Sinopsis karya ini diwujudkan secara sangat simbolis, menepis anggapan
umum dan dengan tegas tidak menceritakan tentang jalinan rasa asmara klasik
yang terpendam antara tokoh mitologis Dewi Amba dan Resi Bisma dalam wiracarita
Mahabharata.
Kendati
demikian, interpretasi panggung dari kelompok repertoaris ini memicu diskusi
kritis yang cukup tajam ketika dihadapkan pada persoalan ortodoksi atau pakem
tradisi. Pilihan estetika yang mengacu pada gaya Jawa Tengah pada kenyataannya
memunculkan bentukan tampilan yang memiliki nuansa campuran yang gamang antara
dua gaya besar, yaitu Yogyakarta dan Surakarta. Kegagalan dalam mencapai
sintesis yang utuh dari kedua kiblat tersebut menyebabkan produk estetiknya
beralih makna menjadi apa yang dapat diartikan secara berseloroh sebagai gaya
Prambanan. Istilah ini bukan merujuk pada gaya mapan yang biasa ditarikan oleh
para maestro di panggung internasional Candi Prambanan, melainkan sebuah bentuk
hibrida lokal yang lebih dekat pada karakter geografis prambanan-muntilan.
Tampilan yang demikian mengindikasikan kemungkinan kurangnya landasan riset
teknik yang mendalam dari para koreografer muda, sehingga gagal menunjukkan
ketepatan pilihan subjek gerak tari klasik yang semula dimaksudkan. Ekspresi
koreografinya tampak ambisius dalam menampilkan simbolisme atas kisah dilematik
Dewi Amba, sebuah fragmen yang penuh pergolakan batin dalam dunia wayang purwa
Jawa, namun pendekatan model Bedaya yang digunakan justru tidak mampu
merekonstruksi struktur tarian sebagaimana pakem aslinya, terutama pada bagian
krusial waktu tari perang.
Pola
dramatik yang bergerak naik turun tanpa kejelasan alur beralih menjadi
tantangan utama, menyebabkan pementasan ini kehilangan daya dalam mengungkapkan
pergulatan emosi terdalam yang sejatinya berkecamuk di dalam hati seorang Dewi
Amba. Ketidakselarasan ini semakin meruncing pada bagian akhir pementasan, di
mana karya tersebut tidak lagi setia dengan prinsip-prinsip gaya klasik Jawa
yang menjadi rujukan awalnya. Alih-alih mempertahankan konsistensi bentuk, yang
muncul justru adalah gerak kinetik murni yang sekadar berwujud ke-jawa-jawaan,
bahkan struktur artistiknya mengalami metamorfosis total menjadi sebuah
dramatari konvensional. Kehadiran siluet permainan wayang serta penempatan
gunungan secara simetris di sisi kanan dan kiri panggung pun dinilai tidak
efektif, karena alih-alih memperkuat atmosfer pertunjukan, elemen visual
tersebut cenderung mengganggu fokus penonton terhadap intensitas gerak penari.
Di
samping kendala teknis koreografi, muncul pula fenomena akademis yang cukup
mengusik ketenangan ruang belajar di balik layar. Kehadiran figur mentor dalam
beberapa karya yang tampil di atas panggung tampak mengganggu esensi murni dari
proses pembelajaran mandiri mahasiswa. Jika pada beberapa tahun yang lalu
eksistensi mentor dipahami sebatas sebagai pembimbing teknis bayangan bagi
mahasiswa yang melakukan proses kreatif di luar area kampus dan di luar jam
perkuliahan resmi, kali ini situasinya berkembang ke arah yang berbeda. Muncul
desas-desus serta bisik-bisik yang kurang sedap di lingkungan akademik, yang
mengindikasikan adanya keterlibatan mentor secara teknis yang terlalu jauh ke
dalam ranah penggarapan inti karya mahasiswa. Intervensi yang terlalu dominan
seperti ini tentu saja menjadi hal yang sangat tidak diharapkan oleh institusi
pendidikan, karena panggung ini sejatinya dirancang untuk menguji kemandirian
intelektual dan kreativitas orisinal mahasiswa.
Dr.
Tri Wahyuningtyas, M.Si., selaku salah satu dosen pembimbing karya, menegaskan
bahwa keterlibatan teknis semacam itu sama sekali tidak menjadi tuntutan dari
hasil akhir yang ditampilkan di depan publik. Lebih lanjut, beliau memberikan
penjelasan bahwa fenomena ini kuat dipicu oleh faktor emosional berupa
persaingan yang sangat ketat antar kelompok mahasiswa. Ego kelompok yang tidak
ingin kehilangan muka atau merasa inferior di hadapan kelompok sejawatnya
mendorong mereka untuk mencari jalan pintas artistik melalui bantuan luar.
Kendati menyisakan beberapa catatan kritis mengenai otentisitas teknik dan
etika proses, pergelaran Infinity Fraternus ini tetap berdiri sebagai
sebuah pencapaian akademis yang luar biasa, sebuah panggung evaluasi yang
jujur, serta potret nyata dari proses dialektika panjang dalam melahirkan
generasi baru praktisi dan pemikir seni yang tangguh di masa depan.
Penulis: R.Dt.

Posting Komentar untuk "Catatan Kritis Pergelaran Karya Juwita Atmaka pada pergelaran Infinity Fraternus Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan Universitas Negeri Malang"