![]() |
| Tampilan koreografi "Teing Hang Kalong" tidak cukup atraktif. (Foto ist.) |
Damariotimes.
Pergelaran Seni Pertunjukan ke-XVII bertajuk “Infinity Fraternus (Two Souls,
One Horizon)” yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni
Pertunjukan, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang pada tahun 2026,
menjadi sebuah panggung akademis yang ambisius sekaligus ruang evaluasi yang
berharga. Di antara berbagai penyajian yang berusaha merajut harmoni Nusantara,
kelompok mahasiswa yang beranggotakan Afi, Hanif, Oliv, Jessie, Laras, Nadine,
Tia, Salsa, Yustina, Arif, Alvin, Rozi, Naurah, dan Stevania tampil menyuguhkan
sebuah karya koreografi berjudul "Teing Hang Kolang". Karya ini
secara konseptual dirancang sebagai sebuah representasi mendalam mengenai
kekayaan kultural, ritus, dan kisah masyarakat adat Indonesia Timur, dengan
fokus spesifik pada gaya Nusa Tenggara Barat. Melalui kuratorialnya, pertunjukan
ini menjanjikan sebuah perjalanan rasa yang membawa penonton menyelami
kedalaman spiritualitas serta kokohnya ikatan sosial masyarakat Timur dalam
menjaga warisan leluhur mereka. Namun, ketika gagasan tertulis tersebut
ditransformasikan ke atas panggung Gedung Graha Tirta, muncul sebuah
kesenjangan yang cukup signifikan antara intensitas konseptual dan realita
koreografis yang dihadirkan.
Secara visual, "Teing Hang Kolang" hadir murni
sebagai sebuah pertunjukan yang bertumpu pada aspek dance choreography. Sejak awal pertunjukan dimulai,
penonton disuguhkan oleh dominasi eksplorasi gerak tubuh yang bertenaga.
Sayangnya, penekanan yang terlalu masif pada aspek fisik ini membuat elemen
dramaturgi diabaikan secara total. Struktur narasi atau alur cerita yang seharusnya
menjadi jembatan bagi penonton untuk memahami nilai-nilai ritus dan
spiritualitas masyarakat Nusa Tenggara Barat justru dikesampingkan. Hubungan
antara satu ragam gerak ke ragam gerak berikutnya terasa berjalan linier tanpa
adanya motivasi dramatis yang jelas. Hal ini mengindikasikan bahwa tim penyaji
tampaknya belum mampu memahami dan mengimplementasikan konsep model koreografi
secara utuh dan mendalam. Sebuah model koreografi yang matang seharusnya tidak
hanya berbicara tentang bagaimana menyusun variasi gerak di dalam ruang dan
waktu, melainkan bagaimana gerak tersebut dipilih, dikembangkan, dan
didekonstruksi sedemikian rupa sehingga mampu berbicara mewakili gagasan yang
diusung. Ketika cerita diabaikan dalam sebuah karya yang menggunakan latar
belakang masyarakat adat, maka tarian tersebut kehilangan jangkar emosionalnya
dan terjebak menjadi sekadar parade estetika fisik yang kering akan makna
tersembunyi.
Kelemahan dalam pemahaman struktur koreografi ini semakin
terlihat jelas ketika pertunjukan mulai bergerak menuju bagian akhir. Sebuah
karya seni pertunjukan yang ideal membutuhkan bangunan intensitas yang
dirancang secara bertahap demi mencapai sebuah puncak ketegangan. Namun, dalam
karya ini, penciptaan klimaks terasa bukan lahir dari perkembangan motif gerak
yang organik, melainkan sekadar wujud pemenuhan tuntutan formalitas agar
seluruh rangkaian koreografi dapat segera diselesaikan. Penonton tidak
merasakan adanya akumulasi energi atau eskalasi emosi yang menuntun mereka pada
titik kulminasi tersebut. Kegagalan ini diperparah ketika bagian klimaks yang
direncanakan mengusung tema tragedi justru sama sekali tidak dapat diwujudkan
melalui bahasa gerak. Koreografer dan para penari tidak mampu mengeksplorasi
kualitas gerak, dinamika, maupun manipulasi tenaga yang dapat menyimbolkan
sebuah penderitaan atau kehancuran dramatis. Akibat tubuh yang tidak mampu
mengartikulasikan rasa tragedi tersebut secara koreografis, tim penyaji mencoba
mengambil jalan pintas dengan menghadirkan pola atraksi verbal di atas
panggung.
Penggunaan
elemen verbal, baik berupa teriakan, vokal, maupun rapalan tertentu, pada
kenyataannya tidak memberikan dampak positif terhadap pertunjukan. Kehadiran
atraksi verbal tersebut terkesan berdiri sendiri dan terpisah dari konsep tubuh
yang sedang bergerak. Karena tidak didasari oleh motivasi koreografis yang kuat
dan gagal disinkronkan dengan struktur dramatik, pola atraksi verbal ini
kehilangan fungsi komunikatifnya di hadapan penonton. Alih-alih membantu
penonton memahami pesan tragedi atau sakralitas ritus yang sedang terjadi,
suara-suara tersebut justru terdengar sebagai kegaduhan yang membingungkan dan
tidak memiliki arti yang dapat dicerna secara logis maupun emosional. Penonton
hanya disuguhi oleh kontradiksi visual dan auditori, di mana tubuh penari tidak
menunjukkan impresi tragedi, sementara suara yang dihasilkan berusaha keras
mengesankan adanya situasi yang mencekam.
Secara keseluruhan, ulasan kritis terhadap penampilan
"Teing Hang Kolang" menunjukkan bahwa karya akademis ini masih
memerlukan proses kedewasaan yang panjang, terutama dalam hal penyelarasan
antara ide, tubuh, dan bentuk pertunjukan. Sebagai mahasiswa bentukan Program
Studi Pendidikan Seni Pertunjukan Universitas Negeri Malang, pemahaman mengenai
manajemen ruang, waktu, tenaga, serta dramaturgi tari harus dipelajari kembali
secara lebih mendalam. Menampilkan budaya Indonesia Timur bukan sekadar
memindahkan atribut visual atau meniru gerak-gerak yang energik, melainkan
tentang bagaimana menangkap esensi spiritualitas lokalitas tersebut dan
mentransformasikannya menjadi materi gerak yang memiliki relevansi kuat.
Evaluasi ini diharapkan dapat menjadi catatan reflektif yang berharga bagi
seluruh anggota penyaji agar dalam proses berkarya selanjutnya, mereka tidak lagi
terjebak pada eksploitasi gerak lahiriah semata, melainkan mampu melahirkan
sebuah pertunjukan yang utuh, di mana setiap jengkal gerak dan suara memiliki
urgensi yang dapat menyentuh sekaligus menggugah jiwa penontonnya.
Penulis: R.Dt.

Posting Komentar untuk "Koreografi "Teing Hang Kolang": Ketika Ambisi Gagasan Indonesia Timur Terjebak dalam Keringnya Bahasa Tubuh dan Dramaturgi Panggung"