![]() |
| Poster festival Garodea (Foto ist.) |
Damariotimes.
Warisan budaya bukanlah sekadar benda mati yang dipajang untuk dipandang dari
balik kaca etalase atau tumpukan batu candi yang membisu. Sejatinya, kebudayaan
hidup saat kita mampu memahami maknanya, merasakannya, dan menghadirkannya
kembali dalam denyut kehidupan masa kini. Indonesia, sebagai negara dengan
kekayaan peradaban yang luar biasa, menyimpan sistem nilai, simbol, dan narasi
yang menjadi fondasi identitas bangsa. Namun, tantangan besar muncul ketika
warisan tersebut hanya diposisikan sebagai objek wisata tanpa kedalaman
literasi.
Guna
menjembatani kesenjangan tersebut, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah
XI Jawa Timur menghadirkan sebuah inisiatif kultural strategis: Festival
Garudeya Mahambara. Festival ini merupakan panggilan terbuka bagi para
seniman, pelaku budaya, sanggar, dan komunitas kreatif untuk menggali kembali
narasi agung Garudeya dan mentransformasikannya ke dalam karya pertunjukan yang
dinamis.
![]() |
| Tanggal penting (Foto ist.) |
Menggali
Akar Narasi: Kisah Perjuangan dan Bakti
Kisah
Garudeya bukanlah narasi asing dalam benak masyarakat Nusantara. Berakar dari
tradisi epik Hindu, Mahabharata, kisah ini mengisahkan perjuangan heroik Garuda
dalam membebaskan ibunya, Winata, dari perbudakan akibat tipu daya kaum naga.
Misi pencarian Tirta Amerta—air suci keabadian—menjadi ujian bagi
kekuatan, kecerdikan, dan keteguhan batin Garuda.
Di
Jawa Timur, narasi ini mengalami proses lokalisasi dan akulturasi yang
mendalam. Visualisasi paling ikonik dapat ditemukan pada relief Candi Kidal di
Malang. Relief tersebut bukan sekadar hiasan arsitektural, melainkan media
komunikasi moral dan spiritual bagi masyarakat pada masanya. Garudeya di Candi
Kidal merepresentasikan simbol pembebasan, pengorbanan, dan bakti kepada orang
tua yang tetap relevan hingga detik ini.
Festival
Garudeya Mahambara: Ruang Kreativitas Lintas Disiplin
Konsep
"Mahambara" dalam festival ini dimaknai sebagai ruang besar yang
terbuka luas bagi berbagai ekspresi kreatif. BPK Jawa Timur mengundang
partisipasi publik untuk melakukan reinterpretasi terhadap relief yang kaku
menjadi gerakan yang hidup. Seniman ditantang untuk membawa pesan-pesan
transendensi dan perjuangan dari batu candi ke atas panggung melalui media
tari, teater, musik, seni rupa, hingga multimedia.
Festival
ini menjadi jembatan antara tradisi dan kontemporer. Dengan pendekatan lintas
disiplin, kisah masa lalu diolah kembali agar mampu berbicara kepada generasi
modern yang sangat akrab dengan teknologi dan industri kreatif. Ini adalah
upaya nyata agar literasi budaya tidak berhenti pada teks sejarah, melainkan
berkembang menjadi pengalaman estetika yang menginspirasi.
Ketentuan
dan Lini Masa Pendaftaran
Festival
Garudeya Mahambara membuka kesempatan luas bagi masyarakat di wilayah Provinsi
Jawa Timur untuk terlibat. Dengan total hadiah mencapai Rp100.000.000,
ajang ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi ekosistem budaya lokal.
Berikut
adalah detail pendaftaran dan rangkaian kegiatan yang perlu diperhatikan oleh
calon peserta:
- Kategori Peserta:
Terbuka untuk Peserta Umum serta Kelompok/Sanggar/Grup/Komunitas Budaya
yang berdomisili di Jawa Timur.
- Pendaftaran:
Dibuka mulai 30 April hingga 19 Mei 2026.
- Temu Teknis:
Calon peserta akan mengikuti penjelasan teknis pada 20 Mei 2026.
- Produksi & Unggah Karya: Peserta diberikan waktu untuk berkarya dan mengunggah
video pertunjukan mereka pada 21 Mei – 21 Juni 2026.
- Seleksi Daring:
Tahap penilaian awal dilakukan secara daring pada 22 Juni – 29 Juni 2026.
- Pengumuman Seleksi:
Hasil kurasi akan diumumkan pada 2 Juli 2026.
- Pertunjukan Final:
Puncak acara dan penampilan karya terpilih akan dilaksanakan pada 22
Juli 2026.
Harapan
untuk Masa Depan Kebudayaan
Penyelenggaraan
Festival Garudeya Mahambara bukan sekadar kompetisi seni. Lebih dari itu,
festival ini berfungsi sebagai ruang edukasi dan refleksi kolektif. Melalui
serangkaian workshop dan diskusi yang menyertai, masyarakat diajak untuk
membaca kembali warisan leluhur mereka dengan kacamata yang baru.
Keterlibatan
aktif komunitas lokal menjadi kunci keberhasilan pelestarian ini. Saat narasi
Garudeya kembali dibicarakan dan dipertunjukkan, maka identitas budaya daerah
semakin kuat dan ekosistem ekonomi kreatif pun ikut bertumbuh.
Kini
saatnya Anda menjadi bagian dari gerakan budaya ini. Tunjukkan interpretasimu,
hidupkan ceritanya, dan jangan biarkan relief itu hanya membisu di dinding
candi. Segera daftarkan diri melalui saluran resmi Balai Pelestarian Kebudayaan
Jawa Timur dan jadilah saksi kembalinya kejayaan narasi Garudeya di panggung
Nusantara.
Untuk
informasi lebih lanjut, calon peserta dapat menghubungi nomor kontak +62
811-3118-131 atau mengunjungi situs resmi di www.budayajatim.com
serta akun Instagram @bp_kebudayaan_jatim. Mari berkarya dan
menghidupkan kembali warisan bangsa!
Reporter: R.Dt.


Posting Komentar untuk "Menghidupkan Kembali Narasi Garudeya: Membebaskan Warisan Budaya Lewat Kreativitas di Festival Mahambara"