Damariotimes.
Pada perhelatan seminar Hari Tari Sedunia yang diselenggarakan pada 30 April
2026 di Sasana Krida Universitas Negeri Malang, Drs. Suryo Wido Minarto, M.Pd.,
yang akrab disapa Cak Wido, memaparkan visi mendalam mengenai masa depan seni
pertunjukan. Sebagai salah satu pakar seni pertunjukan terkemuka di Malang,
beliau membawa diskursus ini melampaui sekat-sekat teknis panggung
konvensional. Beliau menegaskan bahwa esensi dari pertunjukan modern, khususnya
dalam konteks Hari Tari Sedunia, harus mampu menyentuh aspek fenomenologi yang
imersif, di mana gerak tidak lagi berdiri sendiri sebagai estetika visual,
melainkan bertransformasi menjadi memori sensorik yang menetap dalam diri
setiap orang yang menyaksikannya.
Dalam
paparannya, Cak Wido menyoroti sebuah pergeseran paradigma yang fundamental,
yakni transisi dari teater representasi menuju apa yang beliau sebut sebagai
teater peristiwa. Menurut pemikiran beliau, selama ini panggung sering kali
terjebak dalam upaya mensimulasikan realitas yang membuat penonton berjarak dan
hanya menjadi pengamat pasif. Beliau menawarkan gagasan bahwa sebuah
pertunjukan seharusnya menjadi sebuah "peristiwa" yang utuh dan
langsung. Mengacu pada konsep restored behavior, beliau menjelaskan
bahwa meskipun sebuah gerak atau adegan adalah tindakan yang diulang-ulang,
setiap pengulangannya di atas panggung Sasana Krida harus mampu melahirkan
makna baru yang segar dan relevan dengan pengalaman hidup penonton saat ini.
Lebih
lanjut, beliau membedah landasan filosofis mengenai keterkaitan antara tubuh
dan ruang yang intim. Terinspirasi dari semangat teater yang jujur dan lugas,
Cak Wido menekankan pentingnya menanggalkan kemewahan artifisial yang sering
kali justru menghalangi transmisi rasa. Beliau berargumen bahwa tubuh aktor
harus menjadi pusat pengalaman sensorik yang mampu mengguncang kesadaran
audiens. Dalam pandangan beliau, seni tidak seharusnya hanya memanjakan logika,
melainkan harus mampu dirasakan secara fisik melalui getaran napas dan
ketegangan otot, sehingga penonton tidak sekadar pulang dengan pikiran tenang,
melainkan membawa pengalaman batin yang transformatif.
Dalam
konteks ruang pertunjukan yang imersif, Cak Wido membayangkan panggung bukan
sebagai benda mati, melainkan sebagai sebuah organisme hidup. Beliau mendorong
integrasi antara teknologi modern, tata cahaya emosional, serta stimulasi indra
lainnya seperti aroma dan frekuensi bunyi untuk meruntuhkan "dinding
keempat" yang selama ini membatasi interaksi. Beliau menegaskan bahwa
ketika batas antara pemain dan penonton hilang, audiens tidak lagi sekadar
menonton, melainkan menjadi saksi hidup yang terlibat langsung dalam ekosistem
pertunjukan. Inilah yang beliau yakini sebagai kekuatan teater masa depan yang
mampu menciptakan keterlibatan emosional total.
Mengenai
peran aktor, Cak Wido menekankan konsep The Embodied Actor atau tubuh
yang benar-benar "mengada" di ruang panggung. Beliau berpendapat
bahwa keringat dan kelelahan fisik seorang penampil adalah medium komunikasi
yang paling jujur. Beliau sering kali merujuk pada prinsip bahwa hal yang
paling penting bukanlah bagaimana manusia bergerak secara teknis, melainkan
kekuatan emosional apa yang menggerakkan mereka. Bagi beliau, kejujuran dalam
gerak adalah kunci untuk mentransfer energi dari panggung ke hati penonton, sebuah
prinsip yang beliau pegang teguh dalam proses kreatif dan akademisnya di
Universitas Negeri Malang.
Sebagai
penutup presentasinya, Cak Wido memberikan refleksi bahwa sebuah pertunjukan
seni yang berhasil tidak akan pernah selesai hanya karena lampu panggung telah
padam. Sebaliknya, sebuah karya yang matang akan terus berdenyut dalam memori
sensorik penonton dan terbawa dalam kehidupan sehari-hari mereka. Seni
pertunjukan, dalam kacamata kepakaran beliau, adalah sebuah perjalanan bersama
dalam ruang rasa yang melampaui batas fisik. Seminar ini pun diakhiri dengan
pesan puitis yang menekankan kerendahan hati dalam berkarya, mengingatkan bahwa
setiap ekspresi seni adalah upaya untuk menyentuh hakikat kemanusiaan yang
paling dalam melalui perjumpaan yang tulus di atas panggung.
Reporter: R.Dt.
Posting Komentar untuk "Fenomenologi Panggung Imersif: Melampaui Gerak Menuju Memori Sensorik di Hari Tari Sedunia 2026"