![]() |
| Kepala Desa Plandi: Drs. Sutrisno (Foti ist.) |
Damariotimes.
Di bawah naungan megah lereng selatan Gunung Kawi, sebuah wilayah yang kental
dengan hembusan angin pegunungan yang sejuk, terbentang Desa Plandi di
Kecamatan Wonosari. Di tanah kelahiran inilah, sebuah babak baru kepemimpinan
dimulai dengan hadirnya sosok intelektual muda yang tidak hanya membawa ijazah
akademis, tetapi juga semangat membara untuk merawat akar budaya bangsa. Adalah
Drs. Sutrisno, M.E., seorang putra daerah yang kini memegang nakhoda sebagai
Kepala Desa Plandi, membawa angin perubahan yang signifikan namun tetap
berpijak pada nilai-nilai tradisi. Transformasi desa ini terasa nyata sejak
langkah pertama beliau menjabat; bangunan Balai Desa Plandi yang dulunya tampak
bersahaja layaknya rumah tinggal biasa, kini telah bersalin rupa menjadi sebuah
Pendopo yang gagah dan megah, mencerminkan martabat desa yang siap menyongsong
kemajuan tanpa melupakan jati diri.
Perubahan
yang diusung oleh pria yang akrab disapa Pak Tris ini tidak hanya berhenti pada
fisik bangunan semata, melainkan merambah hingga ke sistem birokrasi desa.
Dengan ketegasan seorang pendidik, beliau melakukan restrukturisasi perangkat
desa. Tenaga-tenaga lama yang sulit beradaptasi dengan tuntutan zaman digantikan
oleh generasi muda yang fasih teknologi dan memiliki dedikasi tinggi untuk
mengabdi. Langkah ini diambil bukan demi gaya hidup modernitas, melainkan agar
pelayanan masyarakat menjadi lebih cepat, transparan, dan efisien. Di bawah
komandonya, administrasi desa dikelola dengan ketertiban tingkat tinggi, sebuah
kebiasaan positif yang ia bawa dari pengalamannya selama bertahun-tahun
memimpin berbagai institusi pendidikan menengah di Kabupaten Malang.
![]() |
| Penulis bersama Kepala Desa Plandi: Drs. Sutrisno (Foto ist.) |
Sebagai
alumnus SMA Negeri 1 Kepanjen dan pemegang gelar Magister Ekonomi dari
Universitas Muhammadiyah Surabaya, Pak Tris memahami betul bahwa kemajuan
ekonomi harus berjalan beriringan dengan kelestarian budaya. Baginya, gamelan
bukan sekadar instrumen musik, melainkan alat pemersatu bangsa. Ia menyediakan
seperangkat gamelan di desa sebagai sarana hiburan sekaligus pendidikan
karakter bagi warga. Fenomena menarik terjadi setiap malam Rabu; rumah bergaya
Joglo miliknya tidak digunakan untuk rapat birokrasi yang kaku, melainkan
menjadi ruang publik tempat ibu-ibu PKK dan perangkat desa berkumpul untuk
berlatih karawitan. Di sana, suasana penuh kegembiraan tercipta, merajut
kebersamaan dalam setiap ketukan saron dan dentuman gong. Gending-gending Jawa
klasik yang mengalun dari kediamannya seolah menjadi pemanggil bagi talenta
seni yang tersembunyi. Tua maupun muda datang berduyun-duyun untuk berekspresi,
bahkan kerabat dari desa tetangga pun merasa terpanggil untuk ikut bersinergi
dalam harmoni yang ia ciptakan.
Sebelum
mengabdikan diri sepenuhnya untuk Desa Plandi, Pak Tris telah mengukir rekam
jejak yang cemerlang di dunia pendidikan. Beliau pernah dipercaya memimpin lima
SMP Negeri yang tersebar di wilayah Kabupaten Malang, mulai dari SMP Negeri 1
Ampelgading, SMP Negeri 1 Pagak, SMP Negeri 3 Kepanjen, SMP Negeri 1 Sumberpucung,
hingga SMP Negeri Wonosari. Selama masa jabatannya sebagai kepala sekolah, ia
sering kali menjadi subjek audit Inspektorat terkait pengelolaan Dana Bantuan
Operasional Sekolah (BOS). Namun, integritasnya yang seteguh karang membuatnya
selalu tenang; setiap sen dana pemerintah dikelola secara jujur, transparan,
dan tepat sasaran tanpa pernah menyalahgunakannya untuk kepentingan pribadi.
Prinsip amanah inilah yang kemudian ia bawa ke kantor desa. Dana Alokasi Dana
Desa (ADD) yang dikucurkan pemerintah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh
seluruh lapisan masyarakat Plandi, karena dikelola oleh tangan yang telah
teruji kejujurannya.
Kedekatan
Pak Tris dengan rakyatnya bukanlah sebuah pencitraan. Sebagai sarjana lulusan
Universitas Kanjuruhan Malang, ia memiliki kebiasaan unik yaitu
"blusukan" atau turun langsung ke lapangan. Beliau lebih sering
ditemui di gang-gang desa atau di sawah bersama petani ketimbang duduk manis di
balik meja kerja. Hal inilah yang membuat kebijakan-kebijakannya selalu berpihak
pada kepentingan rakyat kecil karena ia mendengar langsung keluh kesah mereka.
Dalam sebuah bincang santai dengan rekan media yang juga teman masa mudanya,
Pak Tris memaparkan visi visionernya untuk menjadikan Plandi sebagai "Desa
Budaya". Ia berobsesi menghidupkan kembali Pasar Plandi sebagai pusat
kebudayaan dan mengembangkan Ludruk Arek sebagai wahana pelestarian kesenian
asli Malang, mengingat Plandi memiliki akar sejarah yang sangat kuat dengan
kesenian ludruk.
Kehadiran
Pak Tris juga mencatatkan sejarah unik dalam mitos politik lokal di Desa
Plandi. Konon, menurut kepercayaan yang berkembang selama puluhan tahun, setiap
calon kepala desa yang bertempat tinggal di sisi barat desa selalu ditakdirkan
untuk kalah dalam kontestasi pemilihan. Namun, dengan dedikasi dan visi yang
nyata, Pak Tris berhasil mematahkan mitos tersebut. Dukungan mayoritas mengalir
deras dari wilayah Selabekiti, Tambak, hingga Kacangan Pandan Ploso,
membuktikan bahwa masyarakat kini lebih menghargai kapasitas dan integritas dibandingkan
sekadar mitos geografis. Beliau adalah simbol pemimpin masa kini: cerdas,
berintegritas, dan tetap rendah hati, yang menjadikan kekuasaan sebagai
jembatan untuk memajukan bumi kelahirannya di bawah kaki Gunung Kawi.
Konteributor: Cak Marsam


Posting Komentar untuk "Jejak Intelektual dan Budaya Kepala Desa: Drs. Sutrisno dalam Membangun Desa Plandi Kabupaten Malang"