Menelusuri Jejak Arkeologi Gerak: Menyingkap Akar Maskulinitas dan Bela Diri dalam Wayang Topeng Malang


Ki Soleh Adi Pramono dan Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. foto bersama (Foto ist.)


Damariotimse. TUMPANG – Di bawah naungan cahaya bulan dalam gelaran Macapat Padhang Mbulan ke-83, suasana Desa Tumpang berubah menjadi ruang kontemplasi budaya yang khusyuk pada Rabu malam, 8 April 2026. Acara yang diselenggarakan di Mesem Cafe & Art Gallery ini bukan sekadar rutinitas bulanan, melainkan sebuah simposium estetika untuk menyongsong Hari Tari Sedunia. Fokus utamanya sangat spesifik dan mendalam: membedah anatomi gerak tari Malangan yang selama ini dikenal gagah, tegas, dan penuh wibawa.

Acara dibuka dengan pemaparan filosofis mengenai esensi Macapat oleh Ki Soleh Adi Pramono, pimpinan Padepokan Seni Mangundharmo. Sebagai sosok penjaga gawang kebudayaan di Malang Timur, Ki Soleh menekankan bahwa Macapat bukan sekadar tembang, melainkan suluh kehidupan yang menuntun manusia pada pemahaman jati diri. Suasana semakin syahdu saat para cantrik dan mentrik padepokan secara bergantian melantunkan berbagai bentuk tembang macapat, menciptakan vibrasi spiritual yang merambat hingga ke sudut-sudut galeri.

 

Dialektika Dua Maestro: Persahabatan Sejak 1978

Puncak acara ditandai dengan sesi sarasehan yang mempertemukan dua tokoh besar seni pertunjukan: Ki Soleh Adi Pramono dan Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. Kehadiran keduanya memberikan warna emosional tersendiri. Terungkap sejarah panjang yang mengikat mereka sejak tahun 1978, ketika Prof. Robby masih menjadi cantrik di Sanggar Laras Budi Wanita, Jalan Kawi, Malang.

Perjalanan mereka berlanjut sebagai teman satu kampus di ASTI Yogyakarta, hingga akhirnya menjadi sejawat sebagai pengajar dan pegawai negeri di Universitas Negeri Malang (UM). Hubungan yang melampaui sekadar kolega ini—sebagai sesama penari dan praktisi seni—menjadi fondasi kuat dalam diskusi yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga berakhir tepat pukul 23.00 WIB.

 

Arkeologi Gerak: Napas Bela Diri dalam Tubuh Penari

Dalam makalah bertajuk "Menelusuri Jejak Akar Gerak Tari dalam Wayang Topeng Malang: Sebuah Deskripsi Arkeologi Gerak Tari", Prof. Robby Hidajat membedah struktur terdalam dari tarian khas Malang. Ia menegaskan bahwa Wayang Topeng Malang adalah sebuah "monumen gerak" yang menyimpan memori kolektif purba tentang ketangkasan fisik laki-laki.

Salah satu poin krusial yang dibahas adalah karakter "Mapak". Gerak tari Malang tidak lahir dari keinginan untuk terlihat gemulai, melainkan memancarkan aura maskulinitas yang kuat. Ada kaitan organik yang tidak terpisahkan antara seni tari dan seni bela diri. Di dalam tubuh seorang penari Topeng Malang, bersemayam insting seorang petarung.

 

Anatomi Kekuatan: Adeg-Adeg dan Vektor Progresif

Prof. Robby menjelaskan secara rinci tentang Adeg-Adeg (Tanjak) sebagai tumpuan kokoh di atas tanah. Berbeda dengan gaya tari Jawa Tengah yang cenderung simetris, penari Malang mengunci kekuatannya pada kaki kiri sebagai poros absolut.

"Secara visual dan anatomis, posisi ini identik dengan kuda-kuda dalam Pencak. Berat badan yang bertumpu pada satu sisi memungkinkan kaki kanan bergerak lincah untuk menyerang atau bermanuver," tulisnya dalam makalah tersebut.

Hal menarik lainnya adalah fenomena kinetik di mana tari Malang hampir tidak memiliki pola gerak mundur. Panggung dijelajahi dengan gerakan yang selalu progresif atau lateral (samping). Secara sosiokultural, ini merepresentasikan mentalitas yang pantang surut. Dalam kacamata bela diri, ini adalah strategi menutup celah lawan tanpa pernah menunjukkan punggung—sebuah simbol keberanian yang mendarah daging.

 

Artikulasi Siku dan Ritme Kembangan

Diskusi juga menyoroti aspek Dialektika Siku. Kekuatan visual tari Malang terletak pada artikulasi tangan yang membentuk sudut-sudut tajam dan fungsional. Ayunan tangan tokoh seperti Klana Sewandono atau Bapang tidak menyerupai belaian, melainkan tangkisan senjata yang kokoh.

Sinkronisasi antara gerak dan irama kendang disebut sebagai bentuk Kembangan. Setiap ketukan bukan sekadar pengiring, melainkan komando bagi otot. Penari seolah "menginjak" bit musik dengan hentakan kaki ke lantai, menciptakan efek dramatis yang bertujuan. Bahkan saat topeng dilepas, fokus (kemuada) penari tetap terjaga, memberikan "nyawa" pada karakter yang dibawakan.

 

Sintesis Gaya: Barat dan Timur

Meskipun terdapat perbedaan dialek estetika antara wilayah Malang bagian Barat (yang cenderung tegas) dan Timur (yang sedikit lebih lincah), keduanya tetap bermuara pada hulu yang sama: kemampuan bela diri laki-laki.

Kegiatan Macapat Padhang Mbulan ke-83 ini ditutup dengan sebuah refleksi mendalam melalui Meditasi Bersama di Candi Jago. Di bawah bayang-bayang candi bersejarah, para peserta diajak menyatukan kembali pemikiran yang telah didiskusikan dengan energi alam. Akar 'Pencak' inilah yang membuat tari Malangan tetap relevan dan memiliki daya hidup yang luar biasa, menjadi sumber inspirasi tak terbatas bagi generasi koreografer muda untuk terus menggali identitas seni Malang yang berangkat dari ketangguhan dan keberanian.

Acara ini sukses menjadi jembatan antara masa lalu yang heroik dan masa depan seni pertunjukan yang terus bertransformasi, membuktikan bahwa dalam setiap gerak tari Malangan, ada napas pejuang yang tak pernah padam.

 

Reporter : MAH

 

Posting Komentar untuk "Menelusuri Jejak Arkeologi Gerak: Menyingkap Akar Maskulinitas dan Bela Diri dalam Wayang Topeng Malang"