Identifikasi Fungsi Sosial Penutup Kepala Kain dalam Ruang Publik Masyarakat di Kota Malang

 

Penulis: Robby Hidajat

 

Damariotimes. Penutup kepala berbahan kain, atau yang secara luas dikenal dalam masyarakat Asia Tenggara sebagai pelindung kepala tradisional, memiliki kedalaman makna yang melampaui fungsi primernya sebagai pelindung fisik. Di wilayah Malang Raya, utamanya di Kota Malang penutup kepala kain; baik dalam bentuk iket, udeng, maupun tekes merupakan artefak budaya yang merekam jejak transformasi sejarah, struktur sosial, hingga laku spiritual masyarakatnya. Secara etimologis, terdapat perdebatan menarik mengenai istilah udeng yang sering kali dikaitkan dengan kata sifat mudeng atau "mengerti". Meskipun secara filosofis dipahami tentang pengguna udeng adalah bagi mereka yang telah memiliki kebijaksanaan, korelasi langsung antara kesadaran kognitif dengan fungsi fisik penutup kepala sering kali dianggap kurang tepat secara teknis. Istilah yang jauh lebih relevan dengan fungsi materialnya adalah iket (Ikat), yang berasal dari kata kerja "menali" atau mengikat, menalikan. Hal ini merujuk pada selembar kain segi empat yang difungsikan untuk mengikat rambut atau kepala agar tampil rapi dan tampil sopan di depan umum.

Tradisi mengikat kepala ini bersifat purba, seperti yang terekam pada relief arca di Candi Penataran yang menunjukkan figur dengan kain bersimpul ( tali wangsul) di kepala. Bagi masyarakat tropis di Nusantara, penggunaan iket awalnya didorong oleh kebutuhan praktis untuk menghalangi peluh dari kepala agar tidak menetes ke mata saat beraktivitas di bawah terik matahari. Secara teknis, kain segi empat tersebut dilipat menjadi segitiga atau disebut sebagai sigaran untuk memudahkan proses pengikatan. Dalam perkembangannya di Malang Raya, bentuk penutup kepala kain ini kemudian mengerucut pada dua jenis utama yang menonjolkan keunikan ekspresi penggunanya, yakni bentuk tertutup atau tutup liwet (kain yang menutup seluruh kepala penggunanya) dan bentuk terbuka atau kemplengan (ikatan kain yang tidak menurup seluruh kepala).



Udeng tutup liwet (Foto ist.)


Bentuk tutup liwet dicirikan dengan bagian atas kepala yang tertutup sepenuhnya oleh kain, sebuah gaya yang secara tradisional dikaitkan dengan Kanjeng Sunan Kalijaga. Berbeda dengan gaya Yogyakarta atau Ponorogo yang memiliki tonjolan atau mondolan di bagian belakang, gaya ini lebih rata dan bersahaja, melambangkan kedewasaan serta kemampuan seseorang dalam menjaga pengetahuan agar tidak membahayakan orang lain. Sebaliknya, bentuk terbuka seperti kemplengan atau lancuran menampilkan sisa kain yang mencuat tegas ke atas atau ke belakang, serupa dengan gaya Sakerahan yang identik dengan laki-laki Madura. Gaya terbuka ini secara historis banyak digunakan oleh para prajurit untuk memberikan kesan gagah, ekspresif, dan berani.


udeng kemplengan (Foto ist.)


Di ruang publik modern Malang, penutup kepala mengalami pergeseran fungsi yang sangat dinamis. Jika pada masa lalu ia murni menjadi penanda identitas kelompok, kini di tempat-tempat seperti Pasar Kebalen, penutup kepala kain lebih sering muncul sebagai representasi religiusitas melalui hijab bagi perempuan atau fungsi pragmatis pelindung suhu dingin bagi laki-laki. Namun, dalam ranah seni pertunjukan, penutup kepala kembali menemukan "marwah" simbolisnya melalui penggunaan istilah tekes. Merujuk pada kajian sejarah mengenai pertunjukan Raket atau Dramatari Panji, tekes bertransformasi menjadi elemen vital yang menghubungkan masyarakat Malang masa kini dengan kemegahan era Majapahit, sebagaimana terlihat pada relief Candi Jago yang menggambarkan tokoh punakawan menggunakan penutup kain dengan rambut dikuncir.

Secara sosial dan spiritual, penutup kepala kain di Malang Raya mengemban misi sebagai penanda hirarki dan pengendalian diri. Penggunaan warna gelap biasanya diperuntukkan bagi orang tua sebagai simbol kebijaksanaan, sementara warna terang digunakan oleh orang muda sebagai representasi semangat. Secara spiritual, lipatan segitiga pada bagian belakang kain merupakan adaptasi dari tradisi Hindu yang diyakini sebagai simbol "tolak balak" atau pelindung dari marabahaya. Oleh karena itu, tindakan mengikat kepala bukan sekadar urusan fashion, melainkan sebuah laku kehormatan untuk menghormati sesama dan menjaga etika sosial. Melalui selembar kain batik, masyarakat Malang mengekspresikan kedewasaan pikir dan kesantunan budi yang diikat kuat dalam tradisi yang terus diwariskan secara turun-temurun.

 

 

 

 

 

Posting Komentar untuk "Identifikasi Fungsi Sosial Penutup Kepala Kain dalam Ruang Publik Masyarakat di Kota Malang"