![]() |
| sikap tanjak tokoh Bapang yang tegas dan kuat (Foto ist.) |
Robby Hidajat
Dipresentasikan pada Diskusi Padang Bulan #85
Rabu, 8 April 2026
Di Mesem Café & Art Galery
Jl. Wisnuwardhana no. 1 Tumpang
Napas
Maskulinitas dalam Kediaman Topeng
Wayang
Topeng Malang adalah pertunjukan dramatari yang menjadi monumen gerak,
didalamnya menyimpan ingatan (memori
kolektif) purba tentang ketangkasan fisik laki-laki. Sebagai sebuah akar gerak yang
terus menghidupi kreativitas koreografer muda hari ini, gerak dalam Wayang
Topeng Malang yang memiliki karakter yang sangat distingtif: tegas, lugas, dan
seolah-olah selalu siap untuk kontak fisik, Chattam AR. menyebut dengan istilah
“Mapak”. Karakter gerak ini memancarkan aura maskulinitas yang kuat, sebuah
sisa kejayaan tradisi seni tari dan seni bela diri; dua entitas yang tidak terpisah, karena satu dan
yang lain memiliki keteriktan yang memiliki napas yang sama.
Adeg-Adeg:
Tumpuan Kokoh di Atas Tanah
Jika
memperhatikan secara saksama, pondasi utama dari seluruh bangunan gerak Malang terletak
pada sikap Adeg (Tanjak). Berbeda dengan gaya tari klasik Jawa Tengah
yang sering kali membagi beban tubuh secara simetris atau menggunakan tanjak kiri
dan kanan. Penari Malang mengunci kekuatannya pada kaki kiri. Kaki kiri
bertindak sebagai poros penumpu tubuh; sebuah tumpuan absolut yang tidak
tergoyahkan.
Posisi
ini secara visual dan anatomis sangat identik dengan kuda-kuda dalam Pencak.
Berat badan yang bertumpu pada satu sisi memungkinkan kaki kanan untuk bergerak
lincah, entah itu untuk melakukan gejug, gedrug, maju-melangkah, maju-jeluwat, atau
ancang-ancang serangan. Di sini, gerak tari tidak lahir dari keinginan untuk
terlihat gemulai, melainkan dari efisiensi gerak seorang petarung yang harus
menjaga keseimbangan pada waktu menghadapi pertarungan.
Vektor
Gerak yang Pantang Surut
Salah
satu fenomena kinetik yang paling menarik dalam Wayang Topeng Malang adalah tidak
memiliki pola gerak mundur. Ruang panggung dijelajahi dengan pola yang selalu
progresif dan selalu berpusat pada tengah (center):
maju ke depan dengan gagah, atau bergeser secara lateral ke samping kiri dan
kanan. Secara sosiokultural, aspek ini merupakan representasi dari sifat mentalitas.
Dalam
kacamata bela diri, gerakan selalu maju atau menyamping adalah strategi untuk
menutup celah lawan atau mencari sudut serang baru tanpa pernah menunjukkan
punggung (mundur). Gerakan bergeser ini dilakukan dengan ritme yang patah-patah
namun bertenaga, menciptakan kesan bahwa penari tidak sedang menari di atas
panggung, melainkan sedang memenangkan ruang pertempuran.
Dialektika
Siku dan Ayunan Lengan
Kekuatan
visual tari Malang terpancar kuat dari artikulasi tangannya. Peran siku-siku
sangat dominan; penari tidak pernah terkulai lemas, melainkan selalu membentuk
sudut-sudut tajam yang fungsional. Ayunan tangan tokoh seperti Klana
Sewandono atau Bapang tidak menyerupai belaian angin, melainkan
lebih menyerupai ayunan senjata atau tangkisan yang kokoh.
Setiap
ayunan tangan memiliki bobot. Siku yang diangkat tinggi merupakan bentuk
stilasi dari teknik melindungi ulu hati atau kepala dalam pencak. Bahkan saat
melakukan gerak hiasan (ornamentik), sisa-sisa ketegasan otot masih terlihat
jelas, menandakan bahwa tubuh si penari memiliki memori otot (muscle memory)
sebagai seorang praktisi bela diri.
Kembangan:
Pertemuan Ritme dan Sukma
Kaitan
antara gending, pola kendangan, dan gerak dalam Wayang Topeng Malang adalah
sebuah sinkronisasi yang mutlak. Pola gerak yang bersifat ritmikal ini merujuk
pada tradisi Kembangan dalam pencak silat—sebuah fase di mana seorang
pesilat mendemonstrasikan kelenturan dan keindahan geraknya sebelum pertarungan
dimulai.
Setiap
ketukan kendang adalah komando bagi otot. Penari tidak hanya mengikuti irama,
tetapi "menginjak" bit musik tersebut dengan kaki penari yang
dihentikan ke lantai pentas. Hal ini menciptakan efek dramatis di mana setiap
gerak terlihat memiliki tujuan dan momentum. Bahkan ketika penari melepas
topengnya, konsentrasi mereka tetap terjaga pada satu titik fokus (kemuada),
sementara kepala bergerak bukan karena estetika semata, melainkan motivasi
untuk memberikan "nyawa" dan arah pandang bagi karakter topeng yang
ia kenakan.
Sintesis
Gaya: Dari Barat ke Timur
Meskipun
terdapat gradasi gaya antara seniman Wayang Topeng Malang bagian Barat yang
cenderung kuat dan tegas dengan seniman bagian Timur yang sedikit lebih lembut
dan lincah, keduanya tetap bermuara pada satu hulu: Kemampuan bela diri
laki-laki. Perbedaan tersebut hanyalah dialek estetika, namun struktur
dasarnya tetaplah sama. Akar 'Pencak' inilah yang membuat tari Malang tetap
relevan dan memiliki daya hidup yang luar biasa, menjadi sumber inspirasi tak
terbatas bagi generasi koreografer baru untuk terus menggali identitas seni
Malang yang berangkat dari ketangguhan dan keberanian

Posting Komentar untuk "Menelusuri Jejak Akar Gerak Tari dalam Wayang Topeng Malang: Sebuah Deskripsi Arkeologi Gerak Tari"