Cak Marsam dan Dedikasi Seni untuk Kabupaten Malang


Siswa yang menjadi penari-penari Cak Marsam Hidayat (Foto ist.)


Damariotimes. Seni pada hakikatnya merupakan pantulan jiwa manusia yang paling murni, sebuah resonansi batin yang mencari jalan keluar untuk menyapa dunia melalui medium-medium estetis. Ia adalah bahasa tanpa kata yang diekspresikan melalui spektrum warna yang berani, gerak tubuh yang ritmis, serta alunan suara yang menyentuh kalbu. Dalam jagat kreativitas, seorang pelukis berbicara melalui tarian kuas dan tumpahan cat di atas kanvas yang sunyi. Seorang koreografer mengukir ruang dan waktu melalui liukan tubuh manusia yang dinamis. Sementara itu, seorang komposer atau seniman musik merajut keindahan melalui harmoni bunyi, baik yang bersumber dari resonansi internal dalam diri maupun dari berbagai instrumen eksternal yang tersedia di alam semesta. Namun, keindahan ide tersebut seringkali menemui tembok tebal ketika ia hanya terperangkap dalam ruang imajinasi tanpa adanya medium fisik untuk mewujudkannya.

Seorang pelukis hebat, betapapun jenius visinya tentang warna dan komposisi, tidak akan pernah bisa melahirkan karya agung tanpa kehadiran kanvas dan cat. Tanpa medium tersebut, eksperimen idenya hanya akan berakhir sebagai angan-angan yang memudar ditelan waktu. Fenomena yang sama berlaku bagi seorang koreografer; tanpa kehadiran tubuh-tubuh penari yang digerakkan oleh arahan kreatifnya, ia hanyalah seorang penari tunggal yang terjebak dalam narsisme gerak diri sendiri, tidak mampu membangun narasi visual yang lebih luas dan kolosal. Seni musik pun tidak luput dari hukum kolaborasi ini. Walaupun sumber bunyi melimpah di sekelilingnya, seorang komposer memerlukan bantuan orang lain sebagai mitra berekspresi untuk mencapai derajat musikalitas yang maksimal. Kesimpulannya, seorang kreator sejati mutlak memerlukan mitra sebagai peraga: tubuh bagi sang koreografer, cat dan kanvas bagi pelukis, serta manusia-manusia penghasil bunyi bagi seorang komposer.

Inilah filosofi yang dipegang teguh oleh Cak Marsam, seorang penggiat seni yang memahami bahwa karya besar tidak lahir dari isolasi. Baginya, seorang seniman yang tidak memiliki murid atau orang lain sebagai medium peraga hanyalah seniman wacana, sosok yang hanya besar dalam angan namun kerdil dalam realita karya. Kesadaran inilah yang mendorong Cak Marsam untuk melintasi batas-batas geografis di wilayah Kabupaten Malang. Ia rela mondar-mandir dari Gondanglegi, Turen, hingga Kepanjen seharian penuh, bukan sekadar untuk bepergian, melainkan untuk mencari mitra yang bisa membantu memantulkan getaran jiwanya. Bersama anak-anak didiknya, Cak Marsam menemukan laboratorium kreativitas yang hidup. Di sana, ia bisa bereksperimen dengan leluasa, mengubah gagasan abstrak menjadi pertunjukan yang nyata dan menyentuh.

Realitas ini mengungkap sebuah kebenaran penting dalam ekosistem kesenian: bahwa panggung pementasan dan festival seni merupakan kebutuhan primer bagi para kreator. Tanpa adanya wadah seperti festival, pemikiran dan gagasan inovatif para seniman akan kehilangan arah dan tujuan. Festival adalah muara di mana semua keringat latihan dan pergulatan ide bertemu untuk diapresiasi. Oleh karena itu, memasuki bulan Maret dan April tahun 2026 ini, Cak Marsam bertransformasi menjadi sosok yang teramat sibuk. Jadwalnya padat merayap, berpindah dari satu titik ke titik lain dengan semangat yang tak kunjung padam. Ia tidak mengenal lelah, bahkan ketika langit Malang mengguyur bumi dengan hujan deras, langkahnya tetap tegap karena ia membawa beban tugas suci sebagai seorang kreator.

Jejak langkah Cak Marsam tersebar di berbagai institusi dan pusat kebudayaan. Ia hadir di tengah keriuhan SMA Negeri 1 Turen dan SMK Negeri 1 Kepanjen untuk menularkan virus kreatif kepada generasi muda. Ia juga merawat akar tradisi di Sanggar Karawitan Manunggaling Rasa Cepoko Mulyo Kepanjen serta Sanggar Karawitan Lintang Trenggono di Putat Lor, Gondanglegi. Bahkan, ruang publik seperti Rumah Makan Bojana Puri Ngadilangkung melalui Sanggar Karawitan Puri Madyo Laras pun menjadi saksi bisu dedikasinya. Cak Marsam percaya bahwa kesempatan tidak akan datang kepada mereka yang hanya berdiam diri di rumah. Seorang seniman kreatif harus memiliki mentalitas "jemput bola", berani bergerak aktif untuk mengambil peluang dan menciptakan momentumnya sendiri.

Bagi Cak Marsam, ajang pementasan bukan sekadar pameran kebolehan, melainkan wahana untuk mendokumentasikan perjalanan kariernya. Setiap interaksi dengan murid dan rekan-rekan yang memiliki frekuensi jiwa yang sama adalah lembaran-lembaran sejarah yang ia bukukan dalam ingatan dan karya. Saat berada di mana saja, pikiran Cak Marsam tidak pernah diam; alam pikirannya terus mengembara, menjelajahi samudra imajinasi tanpa batas. Namun, pengembaraan itu selalu menemukan pelabuhannya saat ia berhadapan dengan para muridnya. Di sanalah impian-impian yang liar itu menjadi terfokus dan mewujud dalam bentuk karya kreatif yang terstruktur.

Kini, dari rahim kegelisahan kreatif dan kerja keras tersebut, lahirlah sebuah karya monumental yang diberi judul "BARIS". Karya ini bukan sekadar susunan elemen seni biasa, melainkan sebuah barisan kalimat bermakna, barisan nada irama yang mengandung jiwa, serta barisan gerak yang tertata dengan sangat apik. "BARIS" merupakan ungkapan mendalam tentang semangat kedisiplinan dan kebersamaan masyarakat Kabupaten Malang yang dikenal toleran, saling menghargai, dan selalu bersinergi dalam semangat persatuan membangun negeri. Melalui karya ini, Cak Marsam ingin menyampaikan pesan bahwa kekuatan sejati terletak pada keteraturan dan harmoni dalam keberagaman.

Keistimewaan dari karya "BARIS" ini terletak pada sentuhan khas Cak Marsam yang tetap mempertahankan akar budaya lokal. Meski dikemas dalam dinamika dan komposisi bunyi yang modern dan tertata, nuansa tradisi tetap terasa kental. Unsur Jula-juli kluyuran dan Macapat Malangan yang menjadi jati diri seninya tetap meresap ke dalam setiap pori-pori karya tersebut. Karya ini dijadwalkan akan dipersembahkan dalam ajang FLS3N 2026 Tingkat Kabupaten Malang yang akan diselenggarakan pada tanggal 20 April 2026. Bertempat di SMA Taruna Desa Gampingan, Kepanjen, karya "BARIS" akan menjadi bukti nyata bahwa seni adalah jembatan yang menghubungkan angan-angan dengan realitas, sekaligus pengingat bahwa dedikasi seorang seniman seperti Cak Marsam adalah nafas bagi kehidupan budaya di Kabupaten Malang. Melalui "BARIS", Cak Marsam membuktikan bahwa dengan terus bergerak dan berkolaborasi, seorang seniman tidak akan pernah menjadi sekadar wacana, melainkan cahaya yang terus menyala dalam panggung peradaban.

 

Reporter : MAH

 

Posting Komentar untuk "Cak Marsam dan Dedikasi Seni untuk Kabupaten Malang"