![]() |
| Cak Sukirno mantan pemain ludruk (Foto ist.) |
Damariotimes.
Di balik kerutan wajah yang menyimpan ribuan tawa, tersimpan sebuah narasi
panjang tentang pengabdian tanpa batas pada seni tradisi. Cak Sukirno bukan
sekadar pelawak ludruk biasa; beliau adalah personifikasi dari sejarah hidup
kesenian rakyat Malang yang tetap berpijak bumi meski pernah mencicipi gemerlap
panggung lintas wilayah. Lahir pada tahun 1950, pria yang kini genap berusia 76
tahun tersebut membawa memori kolektif tentang masa kejayaan ludruk yang penuh
disiplin, spiritualitas, dan persaudaraan yang kental. Perjalanannya adalah
sebuah garis lurus yang menghubungkan masa lalu yang heroik dengan masa kini
yang penuh dengan ketenangan batin.
Langkah kaki Cak Sukirno di dunia seni peran bermula dari
sebuah keberanian besar di tahun 1960-an. Kala itu, beliau bergabung dengan
Ludruk Angkatan Laut, sebuah kelompok besar yang menjadi kawah candradimuka
bagi banyak seniman papan atas. Di sanalah beliau menjalin kedekatan dan berbagi panggung dengan
nama-nama besar seperti Tarzan Royan dan Bedor. Namun, yang membentuk karakter
kesenimanannya hingga menjadi begitu dalam adalah sentuhan tangan dingin para
guru legendaris. Cak Sukirno merupakan murid dari Mbah Semo, tokoh ludruk
legendaris yang juga merupakan guru spiritual bagi Mas Chatam AR. Tak hanya
berhenti di situ, ia juga menyerap kecerdasan melawak dari Cak Lasianto, sang
pelawak visioner dekade 60-an yang dikenal dengan leluconnya yang berisi dan
penuh makna.
Jiwa seniman "nobong" atau berkelana dari
panggung ke panggung benar-benar mendarah daging dalam dirinya. Cak Sukirno
telah merasakan getir dan manisnya menjadi seniman keliling yang menjamah
pelosok Malang, Lumajang, Jember, Pasuruan, Probolinggo, hingga Blitar. Namanya
bahkan harum hingga ke Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sebuah puncak kenangan yang
selalu simpan dengan rapi adalah saat tampil dalam ajang Kongres Bahasa Jawa
Se-Dunia di Yogyakarta tahun 2001 bersama Paguyuban Ludruk Malang (POL MA).
Penampilannya yang memukau kala itu membawa tawaran yang sangat menggiurkan:
kontrak untuk membina kesenian ludruk di Suriname dengan gaji yang fantastis.
Namun, takdir berkata lain melalui restu sang istri, Bu Warsini. Sebagai
seorang guru di SDN Banjarejo 1, beliau melihat bahwa kesejahteraan keluarga sudah
lebih dari cukup, sehingga Cak Sukirno memilih untuk tetap mengabdi di tanah
kelahirannya, menjaga akar budayanya sendiri daripada mengejar materi di negeri
seberang.
Kekayaan materi sejatinya bukanlah hal baru bagi Cak
Sukirno. Berbeda dengan stereotip seniman yang berangkat dari garis kemiskinan.
Beliau lahir dari keluarga yang sangat
mapan di Desa Pagelaran; kakeknya adalah seorang Aris (pejabat desa) dan orang
tuanya merupakan petani sukses yang sangat disegani. Latar belakang inilah yang
membentuk mentalitasnya sebagai seniman yang "selesai dengan dirinya
sendiri". Baginya, panggung bukan sekadar tempat mencari makan, melainkan
tempat mengabdi. Nilai-nilai inilah yang kini membawa pada saat menjadi sosok
yang dituakan di Kampung Mataraman, Desa Pagelaran.
Alih-alih memilih masa tua yang santai dengan hanya
menimang cucu, Cak Sukirno justru semakin sibuk dalam peran barunya sebagai
pemangku adat dan spiritual. Belau kini dikenal sebagai Dalang Pangruwatan
paling laris di wilayah Malang Selatan. Di daerah Mentaraman, tradisi Ruwatan
atau Murwakala masih dijaga dengan sangat teguh, dan Cak Sukirno adalah
pelaksana utamanya. Kehadirannya selalu dinanti, seperti pada Jumat, 3 April
2026 silam, pada saat beliau dengan bersama
mitra setianya, Cak Marsam, melaksanakan prosesi ruwat di Desa Wonokerto,
Bantur. Keunikan Cak Sukirno sebagai dalang terletak pada kesederhanaannya. Ia
tidak pernah mematok harga dan tidak menuntut peralatan yang rumit. Baginya,
ruwatan adalah panggilan jiwa untuk membersihkan sengkala, sehingga cukup
dengan iringan gender dari Cak Marsam dan ubarampe secukupnya yang dimaknai sebagai simbol
belaka.
![]() |
| Cak Sukirno ketika sedang meruwat salah satu warga (Foto ist.) |
Sisi kemanusiaan Cak Sukirno adalah bagian yang paling
menyentuh hati. Ia mungkin satu-satunya pelawak yang memiliki kebiasaan unik
dalam membagikan rejeki. Setiap kali selesai meruwat, ia selalu menyisihkan
sebagian penghasilannya untuk janda-janda tua dan rekan seniman sepuh di
sekelilingnya. Bahkan, sajen
yang secara tradisi merupakan hak milik seorang dalang, tidak pernah bawa
pulang. Beliau memberikan kepada sesepuh
desa atau tamu yang hadir. Kedermawanannya meluap hingga ke jalanan; siapa pun
pengamen yang mampir ke rumahnya tidak hanya diberi uang lebih, tetapi
seringkali diajak duduk bersama, dibelikan rokok, hingga diajak makan di meja
makannya tanpa memandang kasta.
Kebaikan yang ia tanam selama puluhan tahun kini berbuah
manis pada keberhasilan putra-putrinya. Putra sulungnya, Yudha Mahendra, yang
namanya diberikan oleh tokoh ludruk Benny Wahyudi, kini mengabdi sebagai ASN di
Dinas Sosial. Sementara putri bungsunya, Indra Paramita Dewi Indraningtyas,
merupakan lulusan S2 Unesa yang kini menjadi pengajar Bahasa Jawa di SMA Taruna
Telogowaru. Keduanya tidak hanya mapan secara ekonomi, tetapi juga mewarisi
darah seni sang ayah; Yudha mahir ngidung Jula-Juli, sementara Indra piawai
dalam seni drama.
Kedekatannya dengan Mak Kadam, maestro tandak ludruk
legendaris, seolah menyempurnakan filosofi hidupnya tentang welas asih. Cak
Sukirno adalah bukti nyata bahwa menjadi seniman bukan hanya soal bakat di atas
panggung, melainkan soal bagaimana menjaga kemanusiaan di bawah panggung.
Kerendahhatian dan keluwesannya dalam bermasyarakat menjadi pelajaran berharga
bagi generasi muda. Bahwa pada akhirnya, merawat kebaikan kepada sesama adalah
cara paling ampuh untuk merawat keabadian keluarga dan kehormatan diri di masa
tua. Di Mentaraman, nama Cak Sukirno akan terus bergema, bukan hanya sebagai
pelawak yang lucu, tapi sebagai pembebas sengkala yang berhati emas.
Konteributor :
Cak Marsam


Posting Komentar untuk "Cak Sukirno Pemain Ludruk yang menjadi dalang Pangruwatan di Kabupaten Malang "