Konsep Tumpang Sari Kreativitas: Menenun Identitas Musik di Tengah Perubahan Lanskap Budaya Global

Joko Porong sedang menyampaikan gagasannya (Foti ist.)

 

Damariotimes. Gedung Sasana Krida Universitas Negeri Malang menjadi pusat perhatian pada tanggal 30 April 2026. Dalam sebuah perhelatan akademik dan artistik yang khidmat, Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik, Departemen Seni dan Desain, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang menggelar seminar besar untuk memperingati tiga momentum penting sekaligus: Hari Tari Sedunia, Hari Musik Nasional, dan Hari Teater. Acara ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah ruang refleksi kritis bagi para akademisi dan praktisi seni dalam menghadapi disrupsi budaya. Salah satu sesi yang paling dinanti adalah presentasi dari Joko Winarko, atau yang lebih akrab disapa Joko Porong dari UNESA Surabaya, yang membedah konsep pemikiran kreatif dalam musik melalui kacamata yang sangat unik.

Dalam paparannya, Joko Porong memperkenalkan "Tumpang Sari" sebagai sebuah metode berpikir sekaligus strategi praktik dalam penciptaan musik kontemporer. Analogi ini diambil dari teknik pertanian yang menanam berbagai jenis tanaman dalam satu lahan demi menciptakan keseimbangan dan efisiensi sumber daya. Dalam konteks musik, tumpang sari dimaknai sebagai cara berpikir kreatif yang menggabungkan berbagai elemen secara sadar dan terukur. Praktik hibriditas ini dipandang sebagai pendekatan analogis untuk memahami bagaimana seorang musisi tidak harus terjepit dalam pilihan biner yang kolot, seperti harus memilih antara tradisi atau modernitas, maupun lokal melawan global. Sebaliknya, musisi masa kini dituntut mampu mengelola tradisi, teknologi, dan pengalaman personal menjadi satu kesatuan yang utuh dan bermakna.

Pendekatan tumpang sari yang ditawarkan Joko Porong ini memiliki akar teoretis yang kuat, bersinggungan dengan konsep remix culture milik Lawrence Lessig yang menekankan bahwa kreativitas lahir dari pengolahan ulang sumber-sumber yang sudah ada. Hal ini juga sejalan dengan pemikiran Yasraf Amir Piliang tentang ruang percampuran tanda di era posmodern, serta kajian Sumarsam yang menunjukkan bahwa musik tradisional kita sendiri sebenarnya telah lama berkembang melalui proses adaptasi lintas budaya. Namun, Joko menekankan bahwa tumpang sari bukanlah sekadar mencampur elemen secara acak. Metode ini menuntut kesadaran penuh mengenai alasan di balik pemilihan setiap elemen dan bagaimana makna dihasilkan dari pertemuan tersebut.

Secara teknis, penerapan metode tumpang sari dapat diawali melalui teknik pelapisan atau layering. Di sini, musisi membangun karya secara bertahap, memberikan ruang bagi ritme tradisional, harmoni global, hingga desain suara elektronik untuk berinteraksi tanpa kehilangan identitas asalnya. Proses ini kemudian diperdalam melalui teknik translasi, di mana musisi berperan sebagai penghubung yang menerjemahkan idiom musik daerah ke dalam format digital seperti MIDI atau sequencer. Lebih jauh lagi, terjadi proses hibriditas yang lebih intens, di mana batas antar elemen menjadi kabur dan melahirkan identitas musikal baru yang transformatif, sebagaimana konsep hibriditas Homi K. Bhabha tentang lahirnya makna baru dari pertemuan budaya.

Namun, di tengah melimpahnya akses teknologi dan referensi global, Joko Porong mengingatkan pentingnya aspek kurasi dan eksperimen yang terbatas. Kemampuan untuk memilih elemen yang benar-benar relevan dan membuang apa yang tidak mendukung konsep adalah kunci agar karya tidak terjebak dalam penumpukan ide tanpa arah. Eksperimen tetap diperlukan, namun harus dilakukan dalam kerangka yang terarah agar keseimbangan karya tetap terjaga. Sebagai penutup dari proses kreatif tersebut, tahap refleksi menjadi sangat krusial. Seorang musisi harus mampu mengevaluasi karyanya secara kritis untuk memastikan bahwa setiap elemen yang digabung benar-benar saling mendukung dan mencerminkan identitas yang jujur, bukan sekadar tempelan estetika belaka.

Melalui seminar ini, Joko Porong memberikan pesan kuat bahwa tantangan utama musisi saat ini bukanlah tentang bagaimana memproduksi musik dengan teknologi canggih, melainkan bagaimana menghadirkan makna di balik kemudahan tersebut. Di era digital yang sangat terbuka ini, identitas dan kesadaran budaya menjadi jangkar agar musisi tidak kehilangan arah. Pada akhirnya, musik bukan hanya tentang apa yang tertangkap oleh indra pendengaran, tetapi tentang bagaimana sebuah karya mampu dihidupi dan dirasakan sebagai refleksi dari pengalaman manusia yang kompleks. Seminar di Universitas Negeri Malang ini berhasil membuka cakrawala baru bahwa dengan metode tumpang sari, keberagaman elemen budaya justru menjadi kekuatan untuk melahirkan karya-karya yang lebih bermakna dan relevan bagi zaman.

 

Reporter: R.Dt.

Posting Komentar untuk "Konsep Tumpang Sari Kreativitas: Menenun Identitas Musik di Tengah Perubahan Lanskap Budaya Global"