Menjelajahi Jejak Kreatif Winarto Ekram; Sang Penggerak Tari dari Malang

 

Win Ekram (tengah berkopiah); kerja kreatif (Foto ist.)


Damariotimes. Dunia seni pertunjukan di Malang Raya barangkali terasa jauh lebih sunyi tanpa kehadiran sosok Wiranto S.Sn., atau yang lebih akrab disapa Win Ekram. Sebagai seorang Sarjana Seni Tari lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Win adalah seorang kreator visioner yang nafasnya berkarya. Sosoknya yang tegap, gempal, dan gagah, sering kali diasosiasikan dengan karakter tokoh Rahwana, namun di balik citra gagahnya itu, ia memendam kelembutan hati seorang cantrik kesayangan Ki Soleh Adi Pramono dari Padepokan Seni Mangun Dharma, Tumpang. Win Ekram adalah representasi dari seniman yang berani mendobrak pakem tanpa pernah melupakan akar; kekuatan yang membawanya melaju kencang, menembus batas-batas kreativitas hingga imajinasinya seolah mampu menyentuh ujung-ujung wilayah etnik di Indonesia dan manca negara.

Kehadiran Win dalam kancah seni tari lokal mulai mencuri perhatian publik secara luas lewat karya-karyanya yang kerap dianggap "nyleneh" namun penuh makna. Sebut saja Emban Edrek yang sempat viral pada tahun 2012, hingga mahakaryanya yang bertajuk Pengakuan Rahwana. Melalui Pengakuan Rahwana, Winarto menegaskan sebuah filosofi bahwa proses kreatif tidak selalu membutuhkan keterlibatan massa yang besar. Dengan tari solo tersebut, ia justru merasa lebih leluasa untuk menjelajahi sudut-sudut kampung, mendatangi para pelestari seni tradisi di berbagai daerah untuk sekadar "sowan" atau berbagi frekuensi. Baginya, setiap langkah menuju tempat para penjaga tradisi adalah upaya menjajaki kolaborasi dan merajut jalinan persaudaraan yang lebih dalam dari sekadar kerja profesional.

Keistimewaan Winarto pada jemarinya yang lincah menggerakkan jejaring melalui telepon genggam. Ia membuktikan bahwa di era modern ini, kemandirian seniman adalah kunci. Tanpa harus berpangku tangan menunggu kucuran dana hibah dari birokrasi, Winarto mampu memanggil para seniman dari berbagai pelosok Nusantara, mulai dari Madura, Banyuwangi, Ponorogo, hingga jauh ke Indramayu dan Bandung; hanya dengan kekuatan komunikasi dan rasa saling percaya. Hal ini terbukti nyata dalam peristiwa Gedrug Bumi di tepian Sungai Gopit, Kota Batu, di mana para seniman berbondong-bondong hadir membawa karya dan gagasan mereka hanya karena merasa memiliki frekuensi perjuangan yang sama dengannya.


Malang Dance dan  rombongan ke Jombang (Foto ist.)



Sebagai Direktur Malang Dance Company, Winarto terus bergerak laksana arus sungai yang tak terbendung. Pada awal tahun 2026, ia memimpin rombongan penarinya menuju Jombang dalam tajuk Malang Dance Sambang Dulur Jombang. Kegiatan anjangsana ini merupakan misi konsolidasi untuk memastikan bahwa gairah seniman Malang dalam merawat warisan leluhur tetap menyala. Ia percaya bahwa dengan terus "nyambangi" satu sanggar ke sanggar lainnya, hubungan antar-seniman menjadi lebih solid dan tak lekang oleh zaman.


kegiatan di bulan Romadhon: Melok Buko; Sonjo Dulur (Foto ist.)



Puncak dari diplomasi rasa yang dijalankan Winarto tercermin dalam kegiatannya yang diberi nama Melok Buko Sonjo Dulur. Di bulan Ramadhan yang suci, Win tidak ingin momen buka puasa hanya menjadi seremoni makan bersama yang dangkal. Ia mengubahnya menjadi ruang untuk saling menyapa, mengenal, dan menguatkan satu sama lain dalam bingkai "satu jiwa satu hati". Bagi Winarto, menjadi seniman adalah menjadi manusia yang utuh; manusia yang terus bergerak, merajut kebersamaan, dan memastikan bahwa seni tradisi tidak akan pernah mati selama masih ada hati yang saling melengkapi. Lewat semangat bajanya, Win Ekram terus membuktikan bahwa dari sebuah sanggar kecil di Tumpang, seorang seniman bisa menggerakkan dunia dengan cara yang paling bersahaja namun bertenaga.

 

Kontributor: Marsam

 

Posting Komentar untuk "Menjelajahi Jejak Kreatif Winarto Ekram; Sang Penggerak Tari dari Malang "