![]() |
| ludruk dunia yang sangat dicintai oleh Chattam AR. (foto ist.) |
Damariotims.
Pertemuan pertama saya (Totok Suprapto) dengan nama besar Chattam AR. terjadi
pada tahun 1968, sebuah masa di mana panggung Ludruk masih menjadi kiblat
hiburan rakyat yang penuh kehangatan. Kala itu, Chattam AR. telah mengukuhkan
posisinya sebagai pemain utama di Ludruk Anoraga, sebuah grup binaan Batalyon
513 Lawang. Saya masih mengingat momen di Gedung Bioskop Darmo, Surabaya, saat
Ludruk Duta Budaya Brimob sedang naik panggung. Di sana, Chattam AR. hadir
bukan sebagai penonton biasa, melainkan sebagai tamu kehormatan. Itulah potret
persaudaraan seniman masa lalu; meski berbeda daerah, hubungan antargrup
terjalin sangat erat melalui tradisi silaturahmi dan saling berbagi pengalaman.
Seiring
berjalannya waktu, garis takdir membawa saya hijrah ke Malang pada tahun 1970.
Di kota inilah, saya berkesempatan berada dalam satu naungan grup dengan sosok
yang saya kagumi tersebut. Meski nama Ludruk Anoraga telah bersalin rupa menjadi Ludruk Wijaya Kusuma Unit II
Inmindam VIII Brawijaya, pesona Chattam AR. tidak pernah pudar. Ia bukan lagi
sekadar pemain, melainkan seorang "Super Star". Ia menjadi idola bagi
para penonton, sekaligus kiblat bagi sesama seniman ludruk. Bagi saya pribadi,
beliau bukan hanya rekan sejawat, melainkan sosok kakak sekaligus guru sejati
yang bimbingannya mengantarkan saya merasakan manisnya masa kejayaan ludruk.
Sebagai
seorang guru, Chattam AR. dikenal dengan karakter yang keras namun jujur atau blaka
suta. Beliau tidak pernah menutup-nutupi penilaiannya; jika sebuah
penampilan dianggap buruk, ia akan mengatakannya dengan gamblang, begitu pula
sebaliknya. Meski sebagian rekan merasa sulit menerima gaya bicaranya yang
ceplas-ceplos, saya melihatnya sebagai bentuk kepedulian seorang visioner.
"Belajarlah terus, raihlah bintang di langit," pesan itu selalu ia
tanamkan agar kami tidak cepat puas. Ketekunan dan kreativitasnya yang tak
kenal putus asa menjadi fondasi bagi kami untuk terus berkarya.
Dinamika
seni Chattam AR. terus berkembang melampaui batas panggung ludruk. Pada tahun
1973, ia mulai mendalami seni tari klasik dan Bali di bawah asuhan maestro
seperti Pak Amiseno dan Pak Mardiman, hingga akhirnya memperdalam ilmu ke
Padepokan Seni Bagong Kussudiardja di Yogyakarta. Sekembalinya dari Yogyakarta,
konsentrasi beliau mulai terfokus pada dunia tari, sehingga peran-perannya di
panggung ludruk secara perlahan mulai diamanatkan kepada saya sebagai kadernya.
Meskipun kemudian beliau menetap di Kota Malang dan mendirikan Sanggar Tari
Swastika, Chattam AR. tetaplah sosok "kacang yang tak lupa kulitnya".
Ia sering kembali ke grup hanya untuk melatih para pemain muda, membuktikan
bahwa meski fisiknya berada di luar, hatinya tetap tertambat di panggung
ludruk.
Persahabatan
kami semakin erat saat saya memutuskan tidak lagi aktif di panggung pada tahun
1990 dan tinggal di kawasan Sukun, Kota Malang. Kenangan terakhir yang paling
membekas adalah pada tahun 2013, ketika kami berdua dipertemukan kembali dalam
satu panggung dalam lakon "Sarip Tambak Oso". Di bawah arahan
sutradara Drs. Wido Minarto, saya memerankan Sarip sementara beliau memerankan
Paidi. Pertunjukan itu menjadi perpisahan manis sebelum sang guru berpulang.
Meski beliau kini telah tiada, keberhasilan dan semangatnya akan selalu menjadi
kebanggaan yang kami warisi. Selamat jalan kakakku, guruku; ketekunanmu akan
terus hidup dalam setiap langkah seni yang kami tapaki.
Reporter : Marsam

Posting Komentar untuk "Jejak Abadi Chattam AR. dalam Kenangan dan Dedikasi di Mata Totok Suprapto"