Jejak Bakti Ki Kingsus Sungkowo dalam Komunitas Karawitan dan Dunia Pendidikan

 

Ki Kingsus Sungkono (Foti ist.)


Damariotimes. Di tengah derasnya arus modernisasi yang sering kali menghanyutkan identitas generasi muda, muncul sosok-sosok tangguh yang berdiri kokoh, menancapkan akar budaya sedalam mungkin ke dalam sanubari anak bangsa. Salah satu figur sentral yang menjadi mercusuar pelestarian tradisi di Kabupaten Malang adalah Kingsus Sungkowo, S.Pd. Beliau bukanlah sekadar pendidik biasa yang berdiri di depan papan tulis SD Negeri Panggung Rejo 1 Kecamatan Kepanjen; beliau adalah seorang maestro multi-talenta yang merajut benang-benang kearifan lokal melalui profesinya sebagai dhalang klasik, pranata adicara papan atas, hingga penggerak seni karawitan yang visioner. Bagi pria kelahiran tahun 1966 ini, budaya Jawa bukanlah artefak masa lalu yang statis, melainkan ruh yang harus terus ditiupkan ke dalam sistem pendidikan nasional.

Perjalanan intelektual dan spiritual Pak Kingsus, yang merupakan lulusan Universitas Kanjuruhan Malang (UNIKAMA), membawanya pada pemahaman mendalam bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya disuapi melalui teori-teori di buku teks. Sebagai seorang praktisi sastra Jawa yang memiliki vokal merdu dan ketangkasan jemari dalam memainkan wayang kulit, ia memahami bahwa seni adalah instrumen paling ampuh untuk membentuk moralitas. Dedikasinya tidak berhenti di ruang kelas sekolah dasar. Perannya sebagai Ketua Komite SMK Negeri 1 Kepanjen menjadi momentum krusial ketika ia menginisiasi pengadaan seperangkat gamelan Pelog Slendro di sekolah tersebut. Langkah berani ini didasari oleh keyakinan teguh bahwa seni karawitan mengandung nilai sejarah, moral, dan spiritual yang wajib diwariskan kepada generasi penerus agar mereka tidak kehilangan jati diri di tengah percaturan global.


Aktif dikomunitas Karawitan (Foto ist.)



Bersama H. Lasmono, M.Pd., selaku Kepala Sekolah, Pak Kingsus mewujudkan visi besar tersebut dengan mendirikan Paguyuban Seni Karawitan Kanesa Laras. Bagi beliau, belajar karawitan jauh melampaui sekadar memukul bilah saron atau menyanyikan lagu campursari. Di dalam setiap ketukan kendang dan dengungan gong, terdapat latihan kedisiplinan yang sangat ketat, asah kecerdasan ritmik, serta filosofi kebersamaan yang mendalam. Dalam karawitan, tidak ada instrumen yang menonjol sendirian; semua harus selaras, seirama, dan saling menghargai. Nilai-nilai inilah yang ia tanamkan kepada para siswa sebagai simulasi kehidupan bermasyarakat, di mana harmoni hanya bisa dicapai melalui toleransi dan kerendahan hati.

Di luar lingkungan formal sekolah, kesibukan Ki Kingsus Sungkowo sebagai abdi negara tidak lantas memadamkan api kreativitasnya di ranah publik. Sebagai Ketua Sanggar Ngesti Laras, ia menjadi dirigen yang mengoordinasi para seniman karawitan dan pedalangan di wilayah Kepanjen. Di sela-sela kepadatan jadwalnya, ia tetap meluangkan waktu untuk duduk melingkar dalam diskusi-diskusi hangat bersama para maestro lain seperti Ki Marsudi, Ki Yaji, Ki Eko Luhur, dan Cak Samadiyanto. Pertemuan-pertemuan ini bukan sekadar ajang kangen-kangenan, melainkan dapur strategis untuk merancang pemajuan seni tradisi agar tetap relevan dan diminati oleh kaum milenial serta Gen Z.

Keandalan Pak Kingsus sebagai seorang Pranata Adicara atau pembawa acara adat juga patut menjadi teladan bagi para praktisi komunikasi. Di panggung-panggung terhormat Kabupaten Malang, ia dikenal sebagai sosok yang mampu manjing ajer ajer, sebuah konsep dalam budaya Jawa yang berarti kemampuan untuk menempatkan diri dengan luwes namun tetap berwibawa dalam berbagai situasi. Ia sangat peka terhadap kondisi audiens; tahu kapan harus menggunakan tutur kata yang agung dan kapan harus menyelipkan humor yang menyegarkan. Baginya, tugas seorang pranata adicara bukan sekadar membacakan susunan acara, melainkan memastikan tuan rumah merasa bahagia dan martabat sebuah prosesi adat terjaga dengan mulia.

Integritas Pak Kingsus sebagai seorang pendidik terpancar dari caranya bersikap tegas namun bijaksana. Ia menuntut kedisiplinan tinggi dari anak didiknya, namun selalu memberikan teladan melalui tindakan nyata. Inovasi yang ia lakukan di bidang seni pertunjukan tidak pernah meninggalkan pakem, namun tetap memberikan ruang bagi pembaruan agar seni tradisi tidak terkesan usang. Konsistensinya dalam mencintai budaya Jawa adalah bentuk nasionalisme yang nyata. Ia tidak berteriak tentang cinta tanah air di podium-podium politik, melainkan mengaplikasikannya melalui denting gamelan, narasi wayang kulit, dan pengajaran sastra Jawa yang adiluhung.

Menengok sosok Ki Kingsus Sungkowo adalah menengok potret ideal seorang guru bangsa yang utuh. Ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu yang megah dengan masa depan yang penuh tantangan. Melalui Paguyuban Ngesti Laras dan segala kiprahnya di dunia pendidikan, ia terus membuktikan bahwa nilai-nilai kebangsaan dapat tumbuh subur jika disirami dengan air seni dan budaya. Kabupaten Malang beruntung memiliki putra daerah yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kaya secara kultural, yang dengan seluruh hidupnya memastikan bahwa suara gamelan dan petuah bijak dari jagat pewayangan akan terus menggema, melintasi zaman, dan menetap abadi di hati generasi muda.

 

Konteeributor : Marsam

 

Posting Komentar untuk "Jejak Bakti Ki Kingsus Sungkowo dalam Komunitas Karawitan dan Dunia Pendidikan"