![]() |
| Samadiyanto maestro Karawitan di Kabupaten Malang (Foto ist.) |
Damariotimes.
Samadiyanto, atau yang lebih akrab disapa Cak Samad, merupakan sosok pakar
Karawitan Malangan yang dedikasinya tetap menyala hingga hari ini. Perjalanan
seninya bermula bukan dari bangku sekolah formal, melainkan dari tempaan
otodidak di Perkumpulan Wayang Topeng Desa Lowok. Desa ini bertetangga dekat
dengan kediaman sang dhalang legendaris, Mbah Karimun, yang menjadi guru
spiritual sekaligus pemberi wejangan luhur bagi Samad. Satu nasihat Mbah Mun
yang selalu terpatri dalam sanubarinya adalah bahwa seorang pengrawit tidak
boleh sekadar mahir memukul gamelan, tetapi wajib meresapi isi serta makna
mendalam dari setiap gending yang dibunyikan.
Dalam
pengembaraan batinnya di dunia karawitan, Cak Samad mendalami empat gending
utama yang dianggap sakral, yakni Eling-eling, Kerangehan, Loro-loro,
dan Gondel. Keempat gending ini bukan sekadar rangkaian nada, melainkan
sebuah penghormatan kepada leluhur dan tuntunan hidup. Eling-eling
mengajarkan manusia untuk selalu ingat kepada Sang Pencipta dalam keheningan
batin, sementara Kerangehan membakar semangat untuk menjalankan dharma
kehidupan dengan kejujuran. Adapun gending Loro-loro melambangkan
dualitas dunia yang menyatu dalam konsep Manunggaling Kawula Gusti, dan
gending Gondel menjadi pengingat agar manusia memiliki pegangan kuat
pada kebajikan serta nilai Pancasila.
Kepiawaian
Cak Samad dalam memainkan bonang dengan variasi yang kaya akhirnya menarik
perhatian Cak Sumantri, yang kemudian memboyongnya bergabung ke Sanggar
Senaputra di Kota Malang. Di sana, kolaborasi hebat tercipta saat ia bertemu
dengan Abu Hasan, seorang pengrawit ludruk yang kreatif. Sinergi antara seniman
Wayang Topeng dan Ludruk ini membawa nama Senaputra berkibar hingga ke tingkat
nasional, termasuk tampil memukau di Taman Ismail Marzuki Jakarta pada tahun
1987. Meski telah memiliki nama besar, Cak Samad tetap rendah hati dan terus
menimba ilmu, terutama saat ia mulai mendalami teknik Rebab, Kendang, dan
Gender (RKG) dari sosok Mustopo.
Kini,
di usianya yang telah menyentuh 70 tahun, totalitas Cak Samad tidak pernah
luntur. Selain telah mengabdi selama 10 tahun sebagai Kamituwo di Desa Lowok, dan menjadi pengrajin
udeng serta blangkon yang berkualitas. beliau dikenal sebagai satu-satunya pengrawit yang sangat
telaten membukukan notasi gending. Dokumentasi tersebut ia wariskan sebagai panduan
bagi generasi muda agar tidak kehilangan jejak tradisi. Semangatnya terus
bersemi melalui pengajaran yang ia berikan kepada kelompok karawitan ibu-ibu di
Sanggar Manunggaling Rasa dan Puri Widyo Laras, membuktikan bahwa ilmu
karawitan adalah pengabdian seumur hidup yang melampaui batas zaman.
Kontributor : Marsam

Posting Komentar untuk "Cak Samad: Sang Maestro Karawitan dari Desa Lowok Kabupaten Malang"