![]() |
| Kartika Cahaya Arisant jebolan Universitas Negeri Malang (Foto ist.) |
Damarioitmes
Di balik gemerlap lampu panggung dan riuhnya tepuk tangan penonton, terdapat
sosok perempuan muda yang membawa nafas tradisi dengan begitu elegan. Kartika
Cahaya Arisanti, atau yang lebih akrab disapa Mbak Tika, bukan sekadar nama
baru di jagat kesenian Jawa Timur. Ia adalah representasi nyata dari semangat
generasi Z yang tidak hanya mencintai, tetapi juga mendedikasikan seluruh
hidupnya untuk merawat akar budaya bangsa. Lahir pada 19 April 2000, perempuan
cantik asal Kota Malang ini telah membuktikan bahwa memegang teguh tradisi
bukanlah sebuah penghalang untuk menjadi pribadi yang dinamis, modern, dan
berprestasi di berbagai lini kehidupan.
Perjalanan artistik Tika bukanlah sebuah keberuntungan
sesaat, melainkan hasil dari tempaan waktu yang panjang dan penuh disiplin.
Ketertarikannya pada seni tari mulai tumbuh subur sejak ia duduk di bangku
Sekolah Menengah Pertama. Dengan ketekunan yang luar biasa, ia terus mengasah
kemampuannya melalui jenjang SMA hingga akhirnya memantapkan hati untuk
mendalami ilmu secara akademis di Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik
(PSTM), Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Malang. Di kampus
inilah, bakat alamnya bertemu dengan teori dan teknik yang mumpuni,
membentuknya menjadi seorang penari profesional yang memiliki kelenturan tubuh
luar biasa.
Dedikasi Tika di dunia tari membawanya melanglang buana ke
berbagai panggung bergengsi. Berkat kedisiplinan dan tanggung jawab yang ia
tanamkan dalam setiap gerak, Tika seringkali dipercaya untuk mewakili daerahnya
dalam berbagai lomba dan festival, mulai dari tingkat kota, kabupaten,
provinsi, hingga panggung nasional. Namanya kian bersinar ketika ia mulai
berkolaborasi dengan koreografer-koreografer muda kenamaan seperti Win Ekram
dan Eko Ujang. Bersama mereka, Tika telah mencicipi panggung-panggung besar di
kota-kota pusat kebudayaan seperti Surabaya, Solo, Yogyakarta, Bandung, hingga
Jakarta. Kehadirannya di atas panggung selalu dinanti, sebab ia memiliki
kemampuan unik untuk menerjemahkan ide-ide cemerlang sang koreografer menjadi
gerakan yang bernyawa dan penuh pesona.
Namun, talenta Tika tidak berhenti pada gerak tubuh semata.
Seolah mendapatkan anugerah suara yang merdu dari sang Ibu yang juga seorang
penyanyi, Tika merambah dunia tarik suara dengan cara yang tak terduga. Menjadi
seorang Sinden awalnya mungkin tak pernah terlintas dalam benaknya, namun
ketertarikannya pada ekstrakurikuler karawitan sejak sekolah menengah telah
membawanya pada takdir yang berbeda. Kini, ia dikenal sebagai salah satu sinden
muda paling berbakat di Malang. Suaranya yang khas dan kemampuannya dalam
membawakan tembang-tembang sulit membuatnya dipercaya oleh dalang-dalang
kondang seperti Ki Ardi Purbo Antono, Ki Hadi Siswoko, hingga Ki Andi Bayu
Sasongko.
Keunikan Mbak Tika terletak pada keseriusannya dalam
mendalami identitas lokal. Sebagai murid kesayangan dari maestro Cak Sumantri,
ia tidak hanya sekadar menyanyi, tetapi juga tekun mempelajari sastra luhur
seperti tembang Macapat Malangan, kidungan Jula-Juli, serta lagu-lagu khas Malang
karya Mbah Mantri. Kedalaman pemahamannya terhadap budaya lokal inilah yang
membuat penampilannya memiliki "rasa" yang kuat dan autentik. Tidak
heran jika kemudian ia direkrut oleh pelawak fenomenal Cak Percil untuk
bergabung dalam grup Campursari Guyon Maton sejak tahun 2017. Di sana, Tika
tidak hanya menunjukkan kemampuan vokalnya, tetapi juga sisi jenakanya yang
cerdas, selaras dengan hobinya yang gemar melawak.
Dunia peran pun menjadi arena lain bagi Tika untuk
berekspresi. Kecerdasannya dalam berakting membuatnya sering didapuk sebagai
pemeran utama dalam berbagai pementasan. Baik dalam lingkup teater bersama
Komunitas Kendo Kenceng maupun saat bermain ludruk di Ludruk Lerok Anyar, Tika
selalu mampu menyihir penonton. Ia adalah sosok pemain ludruk yang cerdas,
mampu mengimbangi improvisasi pemain lain dengan akting yang menawan. Bagi para
sutradara, Tika adalah "bahan baku" kreatif yang istimewa; ia cepat
menangkap arahan dan mampu mengaplikasikan ide-ide kreatif ke dalam peran yang
ia mainkan dengan sangat natural.
Di luar panggung yang megah, Kartika tetaplah seorang
pendidik yang memegang teguh nilai-nilai intelektualitas. Keberhasilannya
menyelesaikan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) pada tahun 2023 dan
menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru (PPG) pada tahun 2024 menunjukkan bahwa
ia adalah sosok yang seimbang antara bakat seni dan tanggung jawab akademis.
Sebagai seorang guru, ia memiliki misi mulia untuk mentransfer semangat
kelestarian budaya kepada anak didiknya. Ia memahami betul bahwa estafet kepemimpinan
dalam pengembangan seni tradisi kini berada di pundak generasinya, dan ia
memilih untuk memikul tanggung jawab itu dengan penuh bangga.
Kisah hidup Kartika Cahaya Arisanti yang beralamat di Jl.
Simpang Sulfat Utara XI 18B ini adalah sebuah inspirasi bagi anak muda lainnya.
Melalui jejak langkahnya, kita diingatkan bahwa menjadi modern tidak berarti
harus meninggalkan tradisi. Tika adalah bukti bahwa dengan disiplin, kerja
keras, dan kecintaan yang tulus, seni tradisi bisa tampil begitu segar, relevan,
dan membanggakan di mata dunia. Sosoknya patut diapresiasi dan diteladani,
karena di tangan anak muda seperti Mbak Tika inilah, masa depan kesenian
Indonesia akan terus berpijar dengan cahaya yang gemilang.
Contributor:
Marsam

Posting Komentar untuk "Mengenal Sosok Kartika Cahaya Arisanti: Sarjana Pendidikan Seni Tari dan Musik Jebolan Universitas Negeri Malang"