![]() |
| Ki Suroso menjaga pelestarian seni tradisi (Foto ist.) |
Damariotimes. Di tengah deru
modernisasi yang kian kencang, upaya menjaga akar budaya bangsa membutuhkan
sosok yang tidak hanya memiliki keahlian teknis, tetapi juga keteguhan
ideologis. Suroso, S.Pd., M.Si., atau yang lebih akrab disapa Ki Suroso, muncul
sebagai figur sentral dalam ekosistem kebudayaan Jawa Timur. Beliau bukan
sekadar seorang organisator yang memimpin Dewan Kesenian Kabupaten Malang
(DKKM) periode 2021-2026 dan Ketua Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT)
2024-2029, melainkan seorang garda depan yang mendedikasikan hidupnya untuk
memastikan Wayang Topeng Malangan tetap menjadi tuan rumah di tanah
kelahirannya sendiri sekaligus bersinar di panggung Nusantara.
Nama besar Maestro Mbah Karimun
yang melekat kuat di pundaknya bukan sekadar beban sejarah, melainkan amanah
suci yang ia emban dengan penuh takzim. Sebagai penasehat Padepokan Asmoro
Bangun Karang Pandan, Pakisaji, Ki Suroso memahami betul bahwa Wayang Topeng
Malang adalah representasi identitas Bumi Kanjuruhan yang tidak boleh lekang
oleh waktu. Melalui gerak tari, tata gending, hingga penyutradaraan, beliau
merajut kembali helai-helai tradisi yang sempat terserak, menjadikannya sebuah
pertunjukan yang tetap relevan tanpa kehilangan kesakralan nilai-nilainya.
Sebagai seorang seniman muda yang
supel dan energik, Ki Suroso dikenal sebagai sosok yang "naka" atau
berada di mana saja ada rembuk budaya. Beliau adalah jembatan penghubung antara
generasi tua penjaga tradisi dengan generasi muda yang haus akan jati diri. Di
lingkungan Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (HPK),
beliau dihormati sebagai sosok yang dituakan. Pemandangan masyarakat berbusana
sorjan dan blangkon yang mendekat untuk mencium tangannya dalam setiap
sarasehan kejawen adalah simbol nyata dari bakti dan pengakuan atas
kegigihannya merawat spiritualitas kebudayaan Jawa yang adiluhung.
![]() |
| Ki Suroso memperhatikan kelangsungan seni pertunjukan tradisional (Foto ist.) |
Namun, dedikasi Ki Suroso tidak
hanya terbatas pada sanggar dan panggung pertunjukan. Sebagai seorang Aparatur
Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Kota Batu, beliau menunjukkan etos kerja luar
biasa. Di sela-sela kesibukan birokrasi, beliau tak pernah lelah berkeliling
kecamatan untuk melakukan konsolidasi budaya. Baginya, pemajuan kebudayaan
harus dimulai dari akar rumput, memantapkan kelembagaan kesenian agar para seniman
memiliki wadah yang kokoh untuk berkarya. Kerja kerasnya yang tanpa henti ini
menjadi bukti bahwa pengabdian pada negara dan pengabdian pada budaya adalah
satu nafas perjuangan yang tak terpisahkan.
Kepiawaiannya sebagai penari
Klono Topeng Kedung Monggo telah membawanya melintasi batas-batas negara. Sejak
tahun 1993 di Leiden Belanda, hingga ke Bangkok pada 2013 dan Chungju Korea
Selatan pada 2014, Ki Suroso telah memperkenalkan keindahan Wayang Topeng
Malang kepada dunia. Di tangan beliau, topeng kayu yang kaku menjadi hidup,
bercerita tentang kepahlawanan, cinta, dan kebijaksanaan hidup manusia. Misi
kesenian luar negeri yang ia jalankan bukan sekadar pertunjukan, melainkan
diplomasi budaya untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan seni pertunjukan
yang tak tertandingi kualitasnya.
Pengakuan atas dedikasi Ki Suroso
juga datang dari berbagai pemangku adat di Nusantara. Bahunya yang kokoh kini
menyandang puluhan gelar kehormatan, mulai dari Kesultanan Palembang, Kerajaan
Kutai Kartanegara, hingga Keraton Mangkualam Yogyakarta dan Keraton Surakarta
Hadiningrat. Gelar-gelar ini merupakan bentuk apresiasi atas konsistensi beliau
dalam menjaga marwah tradisi. Selain itu, keterlibatannya yang aktif di
berbagai organisasi seperti Majelis Cendekiawan Nusantara (KMCN), Kadin, hingga
Masyarakat Adat Nusantara (MATRA), mempertegas posisinya sebagai tokoh
intelektual budaya yang memiliki visi strategis bagi kemajuan bangsa.
Melalui
kiprahnya yang mentereng, Ki Suroso memiliki obsesi besar untuk membawa DKKM
dan DKJT menjadi motor penggerak kreativitas yang tidak pernah padam. Beliau
ingin agar Wayang Topeng Malang tidak hanya berhenti sebagai tontonan, tetapi
menjadi tuntunan hidup bagi masyarakat luas. Baginya, melestarikan tradisi
bukanlah tentang menyembah abu masa lalu, melainkan tentang menjaga api
semangat agar terus berkobar di masa depan. Beliau adalah sosok seniman
profesional yang penuh dedikasi, yang dengan setiap gerak tarinya, sedang
menuliskan kembali sejarah kejayaan seni pertunjukan Nusantara.
Berkat prestasi dan jabatan yang diembannya, Ki Suroso kini
menjadi rujukan utama sebagai juri maupun narasumber dalam berbagai festival
dan workshop kesenian. Namun, di atas semua gelar dan jabatan tersebut, Ki
Suroso tetaplah seorang abdi budaya yang rendah hati, yang selalu siap turun ke
lapangan demi memastikan bahwa suara kendang dan rupa topeng malangan akan
terus terdengar dan terlihat oleh generasi anak cucu kita nantinya.
Konteributor:
Marsam


Posting Komentar untuk "Ki Suroso: Menjaga Marwah Wayang Topeng Malangan dalam Arus Pelestarian Seni Pertunjukan Nusantara"