![]() |
| Davit Harijono, S.Pd., M.Pd. (Foto ist.) |
Damarioitimes.
Di tengah arus modernisasi yang kian deras, menjaga akar budaya bangsa bukanlah
perkara mudah bagi dunia pendidikan. Namun, bagi Davit Harijono, S.Pd., M.Pd.,
atau yang akrab disapa Pak David, seni dan budaya bukan sekadar pelengkap
kurikulum, melainkan denyut nadi dalam pembentukan karakter anak bangsa.
Perjalanan dedikasi ini bukanlah cerita yang baru dimulai kemarin sore. Jauh
sebelum ia memegang tongkat komando di tempatnya sekarang, Pak David telah
menunjukkan keberpihakannya pada kearifan lokal saat masih mengabdi di SMP
Negeri 1 Gondanglegi. Di sana, ia memulai langkah berani dengan menginisiasi
ekstrakurikuler karawitan sebagai pilihan wajib bagi siswa. Baginya, karawitan
adalah wahana ampuh untuk menanamkan budi pekerti, sebuah ruang di mana nilai-nilai
luhur diajarkan melalui harmoni nada dan ketukan. Untuk memastikan kualitas
yang mumpuni, ia tak segan menggandeng seniman profesional sebagai mitra
pembina, menegaskan bahwa ia tidak sedang bermain-main dengan gagasannya.
Kini,
setelah berpindah tampuk kepemimpinan sebagai Kepala Sekolah di SMP Negeri 2
Sumberpucung, posisi strategis sebagai pemegang otoritas kebijakan memungkinkan
Pak David untuk mewujudkan angan-angan yang selama ini tertahan di balik
keterbatasan. Dengan bekal pengetahuan yang mumpuni serta dukungan sarana dan
prasarana yang memadai, ia mendeklarasikan SMP Negeri 2 Sumberpucung sebagai
Sekolah Budaya. Langkah ini bukanlah sebuah upaya pencitraan belaka atau
sekadar label kosong. Ini adalah keputusan matang yang lahir dari visi konkret
untuk mengubah wajah sekolah. Sekolah yang dulunya mungkin tampak biasa saja,
kini disulap menjadi ruang kreativitas yang luar biasa, tempat di mana
dinding-dinding sekolah seolah ikut bernapas dalam irama tradisi.
Pak
David adalah sosok pemimpin yang memiliki kepekaan tajam dalam memetakan
potensi. Ia sangat jeli melihat talenta seni yang tersebar di kalangan siswa
serta sumber daya manusia yang tersedia di lingkungan sekolahnya. Ia tidak
menyia-nyiakan kehadiran tenaga pengajar lulusan Program Studi Pendidikan Seni
Pertunjukan Universitas Negeri Malang maupun alumni Institut Seni Indonesia
Surakarta. Justru, peran mereka dioptimalkan sepenuhnya untuk mendukung
berkibarnya panji Sekolah Budaya. Hasilnya, berbagai cabang seni kini hidup
subur di sekolah yang terletak di Jalan TGP No. 9, Dusun Pakel, Desa
Sumberpucung ini. Mulai dari seni tari, karawitan, teater ludruk, hingga wayang
topeng dan seni pedalangan, semuanya dipelajari dengan antusias. Tak
ketinggalan, keterampilan tangan seperti seni batik, seni lukis, dan seni ukir,
hingga olah vokal seperti tembang macapat, menjadi bagian tak terpisahkan dari
keseharian siswa.
![]() |
| Mengembangkan budaya membatik di lingkungan sekolah (Foto ist.) |
Saat
melangkahkan kaki ke gerbang sekolah yang berdiri sejak 11 Juni 1990 ini, kita
akan disambut dengan suasana yang berbeda. Di setiap sudut halaman, ruang
kelas, hingga aula, siswa-siswi terlihat begitu ceria mengekspresikan bakat
seni mereka. Sekolah yang secara historis akrab disebut warga sebagai SMP
TGP—merujuk pada organisasi militer Tentara Genie Pelajar yang berjasa besar
dalam sejarah kemerdekaan—kini telah menemukan napas barunya sebagai pusat
pelestarian kebudayaan. Di sini, Pak David mengelola dana BOS dengan cermat dan
tepat guna, mengarahkannya demi kemajuan pendidikan dan pemajuan kebudayaan
yang berdampak langsung pada pertumbuhan karakter siswa.
Latar
belakang pendidikan Pak David sendiri menjadi landasan kokoh bagi kiprahnya.
Lulusan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa IKIP Surabaya dan S2 Magister
Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang ini
memang memiliki "darah" seni yang kental. Ia bukan hanya seorang
manajer pendidikan, tetapi juga pelaku seni yang aktif bermain ketoprak, mahir
menabuh gamelan, dan seorang pakar dalam merangkai geguritan. Pengalaman
panjangnya sebagai Ketua MGMP Daerah, pembina MGMP, hingga menjabat sebagai
Ketua Perkumpulan Pendidik Bahasa Daerah Indonesia wilayah Jawa Timur,
membuktikan kapasitasnya sebagai sosok yang dihormati di bidangnya.
Jabatan-jabatan yang diembannya tidak pernah ia jadikan beban, melainkan pemantik
semangat untuk terus mentransformasikan pengalaman demi kejayaan pendidikan
nasional.
Davit
Harijono adalah potret pemikir budaya yang idealis dan patut diapresiasi
tinggi. Di tangan dinginnya, rasa nasionalisme generasi Z di SMP Negeri 2
Sumberpucung tumbuh semakin kokoh. Melalui kreativitas, totalitas dalam
mencintai seni tradisi, serta upaya berkelanjutan dalam merawat nilai-nilai
kearifan lokal, ia telah membuktikan bahwa pendidikan yang bermartabat adalah
pendidikan yang tetap membumi pada jati diri bangsa sendiri. Ia telah
menunjukkan bahwa dengan kepemimpinan yang berani dan visioner, sekolah mampu
menjadi benteng terakhir yang menjaga marwah budaya Indonesia agar tetap jaya,
lestari, dan relevan di tengah peradaban yang terus berubah.
Konteributor: Marsam


Posting Komentar untuk "Davit Harijono; Menanam Benih Budaya Inspiratif di SMP Negeri 2 Sumberpucung"