![]() |
| menyusun latar belakang penelitian (sumber AI) |
Damariotimes.
Latar belakang adalah "pintu masuk" bagi pembaca untuk memahami
mengapa sebuah tarian atau teater rakyat layak diteliti di tengah gempuran
budaya modern. Berikut adalah 4 aspek utama untuk menyusunnya:
1.
Menjelaskan Ketertarikan Topik: Dari Pesona ke Problematika
Mulailah dengan narasi yang
menunjukkan keunikan seni tersebut dan mengapa Anda terpikat untuk menggali
lebih dalam. Gunakan observasi awal untuk membangun keresahan intelektual.
- Contoh:
"Seni pertunjukan Sintren di pesisir utara Jawa
bukan sekadar tarian magis; ia adalah sebuah teater rakyat yang memadukan unsur
spiritualitas, ketangkasan, dan kritik sosial. Ketertarikan saya muncul ketika
melihat bagaimana pertunjukan yang dulu dianggap sakral ini, kini harus
beradaptasi di pinggir jalanan kota besar untuk bertahan hidup. Fenomena ini
memicu pertanyaan besar: Apakah esensi spiritual Sintren masih terjaga ketika
panggungnya berpindah dari pelataran desa ke aspal lampu merah? Inilah yang
mendorong saya untuk menggali lebih dalam tentang negosiasi identitas para
senimannya."
2.
Menunjukkan Peta Penelitian & Kesenjangan (Gap)
Anda harus membuktikan bahwa Anda
sudah "membaca situasi". Sebutkan apa yang sudah diteliti orang lain,
lalu tunjukkan bagian mana yang mereka lewatkan.
- Contoh:
"Penelitian mengenai Wayang Orang selama ini didominasi
oleh pendekatan sejarah (Sudaryanto, 2017) dan aspek teknis dramaturgi
(Harsono, 2020). Beberapa artikel juga telah membahas strategi revitalisasi
Wayang Orang melalui platform digital (Pratama, 2022). Namun, terdapat kesenjangan
penelitian pada aspek sosiopsikologis para aktor muda. Belum ada studi
kualitatif yang secara mendalam mengeksplorasi motivasi batin generasi Z untuk
tetap menekuni Wayang Orang di tengah stigma 'kuno'. Penelitian ini hadir untuk
mengisi celah tersebut dengan memfokuskan pada proses internalisasi nilai-nilai
tradisi pada aktor muda di Sanggar Ngesti Pandowo."
- Contoh Referensi untuk Menunjukkan Gap:
- Sudaryanto, B. (2017). Sejarah
Perkembangan Wayang Orang Sriwedari. Jurnal Budaya Nusantara.
- Harsono, T. (2020). Estetika
Gerak dalam Pertunjukan Wayang Orang. Press Seni.
- Pratama, R. (2022). Digitalisasi
Seni Tradisional di Masa Pandemi. Jurnal Komunikasi Budaya.
3.
Menjelaskan Subjek Penelitian: Siapa Pemilik Ceritanya?
Dalam kualitatif, subjek bukan
sekadar angka. Jelaskan siapa mereka dan mengapa perspektif mereka sangat
krusial bagi penelitian Anda.
- Contoh:
"Subjek dalam penelitian ini adalah para penabuh
instrumen (niyaga) perempuan dalam kelompok Gamelan di Bali. Secara
tradisional, peran ini dominan diisi oleh laki-laki. Pemilihan subjek ini
sangat penting karena mereka adalah pendobrak sekat gender dalam ruang seni
yang dianggap kaku. Melalui pengalaman hidup dan sudut pandang mereka, kita
dapat memahami bagaimana konstruksi gender dinegosiasikan di atas panggung dan
di dalam masyarakat adat."
4.
Menargetkan Hasil Penelitian: Apa yang Ingin Diungkap?
Jangan sekadar mengatakan
"ingin mengetahui". Jelaskan kontribusi apa yang ingin Anda berikan
bagi kelestarian seni tersebut atau bagi teori ilmu pengetahuan.
- Contoh:
"Penelitian ini ditargetkan untuk menghasilkan sebuah peta
konsep tentang strategi adaptasi seniman Ludruk dalam menghadapi pergeseran
selera penonton milenial. Hasil akhirnya diharapkan dapat memberikan
rekomendasi model pertunjukan yang tetap 'pakem' namun memiliki daya pikat
kontemporer. Secara akademis, studi ini bertujuan memperkaya teori 'Resistensi
Budaya' melalui lensa seni pertunjukan rakyat Jawa Timur, menunjukkan bahwa
tradisi tidak selalu mati, melainkan bertransformasi."
Penulis: R.Dt.

Posting Komentar untuk "Trik Menyusun Latar Belakang Penelitian Kualitatif Seni Pertunjukan"