![]() |
| Drs. Teguh Pramono, M.Pd.pendidik dan Seniman (Foto ist.) |
Damariotimes
Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan dan dinamika kesenian di Kabupaten
Malang, muncul sepasang nama yang menjadi buah bibir karena dedikasi tanpa
batasnya. Mereka adalah Drs. Teguh Pramono, M.Pd. dan Dra. Ida Diana, atau yang
lebih akrab dikenal dengan nama panggung Dian Prana. Pasangan suami istri ini
bukan sekadar pendidik biasa; mereka adalah perpaduan harmonis antara
intelektualitas akademis dan kepekaan rasa seorang seniman, yang berhasil
membuktikan bahwa tugas profesional dan panggilan jiwa dalam berkesenian dapat
berjalan beriringan dalam satu tarikan napas pengabdian.
Teguh
Pramono: Nahkoda Sekolah dengan Jiwa Dramaturgi
Drs.
Teguh Pramono, M.Pd. merupakan sosok pemimpin sekolah yang memiliki kapasitas
keilmuan yang telah teruji. Alumni Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas
Negeri Malang ini dikenal sebagai sosok manajerial yang handal namun tetap
rendah hati. Jejak kariernya sebagai Kepala Sekolah membentang luas, mulai dari
memimpin SMA Negeri 1 Pagak di wilayah penghasil tebu dan jagung, hingga
berpindah tugas mengemban amanah di SMAN 1 Sumbermanjing Wetan, SMAN 1 Dampit,
SMAN 9 Kota Malang, SMAN 1 Tumpang, dan kini berlabuh memimpin SMK Negeri 1
Turen.
Kelihaiannya
dalam mengelola tata kelola sekolah, termasuk transparansi Dana BOS,
menjadikannya teladan bagi para pendidik lainnya. Namun, di balik seragam
dinasnya, tersimpan jiwa seorang sastrawan. Pak Teguh adalah seorang pengarang
puisi yang produktif dan pegiat teater yang gigih. Di SMAN 1 Pagak, ia berhasil
menyulap ekstrakurikuler teater menjadi sebuah kekuatan yang disegani hingga
langganan menyandang gelar juara di tingkat kabupaten. Bagi Teguh, ilmu
dramaturgi bukan sekadar teori kampus, melainkan metode untuk membentuk
karakter dan kualitas diri anak didik. Kesibukannya sebagai Sekretaris Dewan
Kesenian Kabupaten Malang (DKKM) tidak menghalanginya untuk tetap menerbitkan
berbagai buku esai dan kumpulan puisi.
Ida Diana: Sang Penari Kreatif yang Awet Muda
Melengkapi
sang suami, Dra. Ida Diana atau Dian Prana adalah sosok perempuan pekerja keras
yang penuh energi. Sehari-hari, ia bertugas sebagai Guru Bimbingan dan
Konseling (BK) di SMA Negeri 1 Turen. Namun, saat musik gamelan mulai berbunyi,
sosoknya bertransformasi menjadi penari kreatif yang memukau. Sebagai pemilik
Sanggar Tari Turyantapada, dedikasinya terhadap seni tradisi tidak perlu
diragukan lagi, hingga ia didapuk menjadi Ketua Bidang Pengembangan dan
Pelestarian Seni Tradisi di DKKM.
Kunci
dari penampilan Bu Diana yang selalu tampak segar, semringah, dan awet
muda meski telah dikaruniai dua putri cantik—Licentia Diana Pramono Poetry dan
Mellinia Valentiningtyas Pramono—adalah kedisiplinannya dalam berolah tubuh
setiap pagi. Sebagai ibu bagi Licintia dan Mellinia, ia berhasil menyeimbangkan
peran domestik dengan tugas profesionalnya di sekolah dan tanggung jawab
sosialnya di lembaga kesenian. Baginya, menari adalah cara untuk merawat jiwa
sekaligus melestarikan akar budaya bangsa.

Romantika Roro Mendut & Pranacitra (Foto ist.)
Satu
hal yang paling mengesankan dari pasangan ini adalah keharmonisan rumah tangga
mereka yang sering disebut-sebut sebagai "Roro Mendut dan Pranacitra"
masa kini. Latar belakang yang sama sebagai pendidik dan seniman membuat komunikasi
di antara keduanya berjalan penuh cinta kasih dan saling pengertian. Meski
memiliki lokasi kerja yang terkadang berjauhan, Pak Teguh selalu menyisihkan
waktu di tengah kesibukannya yang padat untuk menjemput sang pujaan hati.
Kemanapun
mereka pergi, pasangan ini hampir selalu terlihat berdua dengan rona
kebahagiaan layaknya pengantin baru. Kekayaan intelektual yang mereka miliki
tidak membuat mereka menjadi kaku, justru saling melengkapi dalam menyelesaikan
setiap pekerjaan sesulit apa pun. Mereka membuktikan bahwa pekerjaan yang
dilandasi oleh pengabdian tulus dan kasih sayang akan membuahkan hasil yang
sempurna.
Inspirasi
dari Balik Meja Kerja dan Panggung Seni
Kisah
Teguh dan Diana adalah motivasi bagi para guru dan seniman di Indonesia. Mereka
menunjukkan bahwa integritas, kejujuran, dan tanggung jawab adalah modal utama
dalam meraih keberhasilan ganda. Dengan bekerja sepenuh hati, cita-cita
membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera bukan lagi sekadar impian,
melainkan realitas yang mereka jalani setiap hari.
Pasangan
ini adalah bukti nyata bahwa seni dan pendidikan adalah dua sisi mata uang yang
sama-sama bertujuan untuk memanusiakan manusia. Di tangan mereka, administrasi
sekolah menjadi rapi, dan di langkah kaki mereka, tradisi tetap lestari. Malang
patut bangga memiliki duet pejuang kebudayaan yang tetap romantis di sela-sela
bakti mereka untuk negeri.
Konteributor : Marsam

Posting Komentar untuk "Teguh Pramono & Ida Diana : Kisah Inspiratif Pasutri Pendidik di Panggung Kesenian Malang"