![]() |
| Dohir Sindu Herlianto, S,Pd. sosok yang berkarakter (Foto ist.) |
Damariotimes.
Dunia panggung tidak hanya tampak sederetan lampu sorot atau riuh rendah tepuk
tangan untuk seorang aktor, bernama Dohir Sindu Herlianto, S.Pd. Bagi pria yang
popular dipanggil Cak Sindu memang memiliki karismatik karakteristik keaktoran
yang khas; panggung teater merupakan ruang kontemplasi, tempat teori-teori
akademis melebur dengan kejujuran ekspresi kerakyatannya. Cak Sindu tampil
dengan sosok yang nyentrik dan familier di kancah teater Malang. Perjalanan berkeseniannya
tidak dalam waktu yang singkat, atau instan; ia merupakan hasil dari perjalanan
panjang yang bermula dari peruangan menaklukan panggung ludruk, semula telah
dirintis di pinggiran jalanan Probolinggo
hingga menjadi salah satu pemikir kreatif dalam teater modern di Malang.
Perjalanan
estetis Cak Sindu berakar dari masa kanak-kanaknya di Kampung Kraksaan,
Probolinggo. Di sana, matanya terbiasa merekam gerak-gerik pemain ludruk,
telinganya akrab dengan cengkok Jula-Juli, dan batinnya terpikat pada teater
rakyat mampu menyatukan masyarakat. Namun, panggilan dunia seni pertunjukan
rakyat secara lebih terstruktur membawanya hijrah ke Malang. Di bawah bendera
Teater Uniga (Universitas Gajayana), Cak Sindu mulai membedah anatomi drama
melalui kacamata Dramaturgi. Ia mempelajari struktur, konflik, dan
karakterisasi secara ilmiah. Uniknya, alih-alih menjadi kaku karena teori, ia
justru menggunakan ilmu modern tersebut untuk memperkuat pemahamannya terhadap
akar tradisi yang sudah dimiliki sejak kanak-kanak.
![]() |
| Cak Sindu, aktingnnya tak diragukan lagi (Foto ist.) |
Bagi
Cak Sindu, belajar ludruk memiliki filosofi; Sinau Urip atau belajar
hidup. Ia memandang bahwa dalam tampilan ludruk; setiap banyolan dan tampilan lakon
ludruk, terkandung nilai-nilai kemanusiaan, ketegaran, dan kejujuran dalam
menghadapi realitas sosial. Keyakinan inilah yang membuatnya sangat rendah hati,
terutama ketika harus berhadapan dengan para seniman senior, mereka telah sepuh;
mereka memang layak disesep (dihisap). Di komunitas Ludruk Cap Jempol, ia duduk
bersimpuh bersama tokoh-tokoh seperti Cak Wito HS, Cak Yono, Mak Kadam, hingga
Pak Jamil. Meski ia seorang sarjana, Cak Sindu dengan tulus menyebut para
maestro ini sebagai "Profesor Ludruk" yang sesungguhnya, karena
mereka adalah orang-orang professional; pemilik ilmu kehidupan yang tidak
diajarkan di bangku kuliah mana pun; celetuknya: ludruk tidak ada sekolahannya.
![]() |
| Ini bukan akting, menikmati hidup (Foto ist.) |
Langkah
Cak Sindu semakin lebar ketika mulai berkolaborasi dengan tokoh penting ludruk
Malang, Cak Marsam Hidayat. Kedekatan mereka bukan sekadar hubungan
profesional, melainkan sinergi dua pemikiran yang saling mengisi. Salah satu
tonggak sejarahnya adalah saat ia dipercaya menjadi asisten sutradara sekaligus
pemeran tokoh Madura dalam pagelaran Akbar Pekan Teater Nasional V di
Yogyakarta tahun 2017. Peren ini sangat cocok, karena penampilannya memang
sangat pas, orang Probolinggo asli itu mengalir darah Madura, dia melebihi
mereka yang disebut orang Pendalungan. Karena darah etnik Arab juga mengalir
ditubuhnya. Dengan dialek Maduranya yang medhok dan natural, Cak Sindu
berhasil menghidupkan karakter tersebut hingga memukau penonton di Taman Budaya
Yogyakarta. Keberhasilan ini mengukuhkan posisinya sebagai bagian dari tim
kreatif Ludruk Lerok Anyar, sebuah kelompok yang kini berjuang membawa ludruk melangkah
dari batas-batas konvensional.
Cak
Sindu adalah sosok yang sangat terbuka dan anti-apriori. Tampilannya tidak
pernah membatasi dirinya pada satu sekat keilmuan saja. Sebagai pegiat teater
modern, ia sangat antusias ketika berbicara mengenai strategi membawa ludruk
masuk ke dalam kampus. Ia bermimpi agar generasi muda tidak hanya melihat
ludruk sebagai teater "kuno"; kampungan, akan tetapi sebagai
identitas yang keren dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Di sela-sela
waktu "ngopi" bersama rekan-rekan budayawan di Malang; sering kali
lupa waktu jika sudah berdiskusi mengenai konsep ludruk masa depan. Baginya,
ludruk harus tetap ada, bernapas, dan berkembang mengikuti denyut nadi jiwa zaman.
Melalui
sosok Cak Sindu, sudah barang tentu dapat belajar tentang kecintaan pada
tradisi yang dapat membantu kemajuan
intelektual. Cak Sindu menjadi jembatan hidup antara kelenturan seni pertunjukan
rakyat dan ketajaman dramaturgi modern. Dengan keramahan yang khas dan semangat
yang meluap-luap. Cak Sindu terus melangkah, melatih komunitas
"Emak-emak" hingga membimbing generasi muda, demi memastikan tentang kidung
ludruk yang terus terdengar, membawa pesan-pesan kehidupan yang abadi.
Kontributor: Marsam



Posting Komentar untuk "Menenun Dramaturgi dalam Kidung Ludruk, Sebuah Perjalanan "Sinau Urip" Cak Sindu"