![]() |
| Cak Ambul dengan Cak Unyil; tampil sebagai dagelan ludruk (Foto ist.) |
Damariotimes.
Malam di Desa Plandi pada dekade 1970-an bukanlah malam yang benderang oleh
lampu neon, melainkan malam yang akrab dengan aroma minyak tanah dan desis
lampu setrongking. Di halaman rumah Pak Jasmono, ingatan masa kecil anak Pak
Wartam masih terekam jelas. Ia teringat bagaimana ayahnya mengajaknya menembus
kegelapan desa untuk menyaksikan sebuah keriuhan yang magis: pertunjukan ludruk
gebyak. Kala itu, panggung hanyalah papan kayu sederhana, dan para
pemainnya merias wajah dengan langes atau jelaga hitam yang dicorengkan
seadanya ke pipi. Tidak ada kostum mewah berbahan beludru, hanya pakaian ala
kadarnya yang dipadu semangat kesenian yang meluap-luap.
Di
sinilah, di bawah temaram lampu petromak, sejarah besar ludruk lereng Gunung
Kawi mulai berdenyut. Kehadiran Cak Rajid, seorang pembina ludruk kawakan,
menjadi magnet bagi pemuda-pemuda desa. Plandi dan Pandan Ploso—atau yang lebih
dikenal sebagai Dusun Kacangan—mendadak menjadi kawah candradimuka bagi para
seniman muda. Nama-nama seperti Supiyan, Wadiran, hingga Samelan mulai mengasah
bakat mereka diiringi denting gamelan besi yang suaranya terkadang tidak laras,
dimainkan dengan penuh perasaan oleh Pak Wartam, Sariyat, dan Deri sebagai para
panjak.
Dari
rahim kreativitas Cak Rajid inilah, muncul sosok-sosok tangguh yang di kemudian
hari menjadi pilar ludruk Malang. Salah satu yang paling fenomenal adalah Cak
Ambul. Perjalanan hidup Cak Ambul bukanlah sebuah keberuntungan yang datang
dalam semalam. Ia adalah produk dari ketekunan yang luar biasa. Terlahir dari
keluarga seniman—dengan kakak pertamanya Samelan yang merupakan tandhak
tersohor dan kakak keduanya Wardi Bogel seorang pelawak hebat—darah seni
mengalir deras dalam nadinya. Namun, Cak Ambul memilih jalannya sendiri dengan
merangkak dari bawah.
Sekitar
tahun 1980-an, Cak Ambul memutuskan untuk hijrah ke Sidoarjo. Di sana, ia
bergabung dengan Ludruk Warna Jaya Balung Bendo. Jika sebelumnya ia sempat
mencicipi peran sebagai tandhak, di Sidoarjo ia bertransformasi menjadi
aktor pria atau pemain lanang yang sangat menonjol. Cak Ambul dikenal
sebagai pemain yang "dhokoh"—sebuah istilah untuk seniman yang serba
bisa dan tidak pernah menolak peran apa pun yang diberikan sutradara. Ia adalah
penari remo yang handal sekaligus aktor watak yang kuat. Puluhan tahun ia
menempa diri di perantauan, menyerap setiap ilmu panggung hingga akhirnya pada
awal tahun 2000, ia memutuskan kembali ke tanah kelahirannya di Malang.
Kepulangan
Cak Ambul membawa angin segar bagi Ludruk Armada pimpinan maestro melegenda,
Bagor Mustajab. Di grup yang bermarkas di Desa Rembun ini, Cak Ambul tidak lagi
sekadar pemain, melainkan sosok yang dituakan. Kini, di bawah kepemimpinan Eros
Jarot, putra mendiang Bagor Mustajab, Cak Ambul menduduki posisi istimewa
sebagai pelawak fenomenal yang kehadirannya selalu dinanti oleh seluruh
perkumpulan ludruk se-Malang Raya.
Namun,
di balik riuh rendah tawa penonton dan gemerlap panggung, Cak Ambul adalah
sosok yang tetap membumi dan bersahaja di Dusun Kacangan. Jangan terkejut jika
berkunjung ke rumahnya pada siang hari; Anda mungkin tidak akan menemukan sosok
pelawak terkenal dengan riasan wajah, melainkan seorang pria paruh baya yang
sibuk menyabit rumput. Cak Ambul adalah peternak kambing yang ulet. Di
sela-sela jadwal pentas yang padat, ia dengan telaten mengurus puluhan ekor
kambingnya, serta merawat ladang tebu dan parinya. Baginya, tanah dan ternak
adalah akar yang menjaganya tetap berpijak, warisan dari keluarganya yang
memang dihormati di Desa Plandi.
Semangat
berkesenian ini pun kini mulai estafet ke generasi berikutnya. Putranya, Antok,
telah mengikuti jejak sang ayah sebagai penari remo yang rajin belajar. Begitu
pula dengan menantunya, Ananda Karina. Meskipun merupakan lulusan Universitas
Brawijaya yang terbiasa dengan dunia akademis, Karina dengan cepat beradaptasi
di panggung Ludruk Lerok Anyar. Kualitas aktingnya yang mumpuni membuktikan
bahwa ludruk bukanlah kesenian yang tertinggal, melainkan ruang ekspresi yang
bisa merangkul siapa saja selama ada kemauan untuk belajar.
Kisah
Cak Ambul adalah bukti nyata bahwa kesenian tradisional, jika ditekuni dengan
sungguh-sungguh, mampu menjadi jalan hidup yang menyejahterakan sekaligus
membanggakan. Perjalanannya dari seorang penonton kecil di bawah lampu petromak
hingga menjadi legenda hidup ludruk Malang bukan sekadar tentang mencari sesuap
nasi. Lebih dari itu, setiap banyolan yang ia lempar di panggung dan setiap
langkah tari remonya adalah ikhtiar tanpa henti untuk memastikan bahwa suara
gamelan ludruk akan terus bergema, menjaga agar warisan budaya leluhur tidak
padam ditelan zaman. Cak Ambul telah membuktikan bahwa menjadi seniman adalah
tentang menjaga marwah dan dedikasi yang tak kunjung padam, layaknya lampu
petromak yang dulu menerangi masa kecilnya.
Kontributor: Marsam

Kisah inspiratif Cak Ambul menggambarkan dedikasi luar biasa menjaga kesenian ludruk tetap hidup dan bermakna.
BalasHapus