![]() |
| Kepemimpinan berlandaskan rasa (Foto ist.) |
Damariotimes. Perjalanan pengabdian seorang pendidik sering kali
menyerupai sebuah siklus yang kembali ke titik mula, membawa kearifan yang
lebih matang. Begitulah gambaran sosok Pak Agus Harianto, M.Pd., seorang putra
daerah kelahiran Malang yang kini kembali menakhodai SMA Negeri 1 Turen.
Sebelum sempat berkelana memimpin SMA Negeri 1 Sumbermanjing Wetan, beliau
adalah guru Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah yang sama. Kepulangannya ke
"rumah asal" bukan sekadar menjalankan tugas birokrasi, melainkan
membawa misi kebudayaan yang luhur. Sebagai seorang pendidik yang juga dikenal
sebagai Pranatacara kondang dan penulis karya ilmiah, Pak Agus memahami
bahwa memimpin sebuah institusi pendidikan memerlukan sentuhan rasa dan seni
yang mampu menyatukan hati setiap koleganya.
![]() |
| Hj. Eny Retno Diwati, M.Pd. penggagas Sanggar Karawitan (Foto ist.) |
Lahirnya Sanggar Karawitan Guru Smanere pada 9 Februari 2026 menjadi
bukti nyata dari sebuah janji suci dan estafet cita-cita. Ide besar ini
sejatinya merupakan impian Ibu Hj. Eny Retno Diwati, M.Pd., yang belum sempat
terwujud karena beliau harus berpindah tugas ke SMA Negeri 2 Malang. Dalam
sebuah momentum emosional di Graha Srikandi, Pak Agus menegaskan komitmennya
untuk menghidupkan kembali gagasan tersebut. Melalui apa yang beliau sebut
sebagai "bisikan dari langit", keinginan tersebut akhirnya mewujud
menjadi aktivitas nyata yang disambut antusias oleh para guru. Kini, di
sela-sela kesibukan mendidik, para guru berkumpul bukan untuk rapat formal,
melainkan untuk melarutkan ego dalam dentingan gamelan laras Pelog dan Slendro
yang menentramkan jiwa.
![]() |
| para guru yang berlatih karawitan (Foto ist.) |
Memilih seni karawitan sebagai media merajut kebersamaan adalah sebuah
langkah yang sangat filosofis. Dalam karawitan, tidak ada instrumen yang
berdiri sendiri; semuanya adalah satu kesatuan organik yang menggambarkan
dinamika kehidupan. Kendang hadir sebagai pemimpin atau pamurba irama
yang mengatur jalannya gending, memberi aba-aba kapan harus melambat atau
berhenti. Di sisi lain, instrumen seperti Gong, Bonang, dan Kenong harus
memiliki kepekaan atau tanggap sasmita untuk merespons instruksi
tersebut secara presisi. Kedisiplinan tinggi dalam membaca notasi dan
menghitung ketukan secara kolektif menjadi cerminan bagaimana sebuah organisasi
sekolah seharusnya bergerak—sinergis, profesional, dan penuh tanggung jawab
demi mencapai satu harmoni yang indah.
Lebih dari sekadar pelestarian budaya, inisiatif Pak Agus ini merupakan
wahana penyegaran mental bagi para guru setelah menunaikan tugas mengajar yang
melelahkan. Beliau meyakini bahwa suara gamelan bukan sekadar bunyi, melainkan
terapi yang mampu menciptakan kedamaian hati dan menjaga semangat agar tetap
awet muda. Dengan semangat Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karya,
Tut Wuri Handayani yang diwariskan Ki Hajar Dewantara, Pak Agus mengajak
rekan-rekan sejawatnya untuk terus berkarya melalui seni. Melalui ketukan
kendang dan gema gong di sanggar tersebut, SMA Negeri 1 Turen kini tidak hanya
melahirkan kecerdasan intelektual, tetapi juga merawat kecerdasan rasa dan
kebersamaan yang abadi dalam balutan tradisi.
kontributor: Marsam



Artikel ini mengingatkan bahwa musik tradisi bukan sekadar hiburan, tetapi ruang bagi komunitas untuk berkumpul, saling mengenal, dan menghormati warisan budaya. Harmoni gending-gending yang dibawakan menunjukkan bahwa budaya lokal bisa hidup dan berkembang saat masyarakat diberi ruang untuk berekspresi bersama. Semoga semangat seperti ini terus tumbuh dan memberi warna bagi kehidupan kultural di Turen dan sekitarnya.
BalasHapus