Menyingkap Teori Struktural-Simbolis dalam Seni Tari

 

Topeng Malang yang digunakan sebagai subjek penelitian teori Struktur Simbolik (Foto ist.)


Damariotimes. Dalam cakrawala pemikiran seni di Indonesia, teori Struktural-Simbolis yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Robby Hidajat muncul sebagai jembatan intelektual yang menghubungkan raga seni dengan jiwanya. Secara mendalam, teori ini memandang pertunjukan tari bukan sekadar tontonan visual yang mengandalkan kemahiran fisik, melainkan sebuah sistem komunikasi yang sangat kompleks, serupa dengan sebuah teks yang dapat dibaca dan dibedah makna terdalamnya. Melalui pendekatan ini, sebuah tarian dipahami dalam dua lapisan yang saling mengunci, yakni struktur sebagai wadah formal dan simbol sebagai muatan filosofis yang menghidupkannya.

Lapisan pertama dalam pemikiran ini adalah aspek struktural, yang menjadi fondasi atau arsitektur dari sebuah karya tari. Dalam pandangan Prof. Robby, struktur mencakup segala sesuatu yang tampak secara empiris dan dapat diukur, mulai dari susunan motif gerak, pola lantai, hingga irama musik yang mengikatnya. Struktur ini berfungsi sebagai kerangka yang menjaga keutuhan pertunjukan agar tidak tercerai-berai. Tanpa struktur yang kuat, sebuah tarian akan kehilangan identitas bentuknya. Namun, teori ini menegaskan bahwa struktur tidak pernah hadir secara hampa; setiap patahan gerak dan garis komposisi yang diciptakan oleh seorang koreografer selalu membawa beban makna tertentu yang mengarah pada lapisan kedua, yaitu aspek simbolis.

Aspek simbolis inilah yang memberikan "nyawa" atau substansi batiniah pada setiap elemen struktural yang ada. Dalam konteks kebudayaan, khususnya pada seni tradisi seperti Wayang Topeng Malangan, simbol merupakan kristalisasi dari nilai-nilai sosial, moral, dan spiritual masyarakatnya. Setiap warna pada topeng, sorot mata, hingga volume gerak tangan merupakan representasi dari sifat-sifat manusia dan tatanan kosmos. Melalui lensa simbolis, kita diajak untuk memahami bahwa gerak yang lambat dan stabil bukan hanya soal estetika tempo, melainkan simbol dari pengendalian diri dan kearifan batin. Di sini, estetika tari bertransformasi menjadi sebuah etika yang divisualisasikan.

Keunggulan dari teori Struktural-Simbolis ini terletak pada hubungan dialektis antara keduanya. Prof. Robby mengajarkan bahwa struktur dan simbol adalah dua sisi dari satu koin yang sama; struktur memberikan batasan logis agar simbol dapat dipahami dalam konteksnya, sementara simbol memberikan kedalaman yang mencegah struktur menjadi gerakan mekanis yang membosankan. Melalui teori ini, para peneliti seni memiliki pisau bedah yang objektif untuk mengurai kesenian tradisi yang seringkali dianggap mistis atau sulit dijelaskan secara ilmiah. Pada akhirnya, pemikiran Prof. Robby Hidajat ini menyimpulkan bahwa keindahan sejati dalam seni pertunjukan adalah hasil dari pertemuan yang harmonis antara logika bentuk yang presisi dengan kekayaan makna yang mendalam.

 

Pembahasa : MAH

 

Posting Komentar untuk "Menyingkap Teori Struktural-Simbolis dalam Seni Tari"