![]() |
| makanan adalah cara berdialog dengan alam (sumber AI) |
Damariotimes.
Makanan sering kali dianggap hanya sebagai pemenuh kebutuhan biologis atau
komoditas ekonomi yang berpindah dari pasar ke piring saji. Namun, di balik
aktivitas sederhana mengunyah dan menelan, terdapat struktur bahasa yang sangat
kompleks yang mendefinisikan manusia manusia dalam bermasyarakat. Melalui
kacamata Claude Lévi-Strauss, bapak strukturalisme, dan diperkaya oleh
perspektif Prof. Robby Hidajat, M.Sn. mengenai struktur simbolis, kita dapat
melihat bahwa pola pangan, mulai dari yang mentah, direbus, hingga dibakar
merupakan manifesto kebudayaan yang mampu menuntun manusia modern dalam
menyikapi jati dirinya di tengah arus globalisasi.
Lévi-Strauss
memperkenalkan konsep "Segitiga Kuliner" (Culinary Triangle)
sebagai alat untuk membedah tentang manusia mentransformasikan alam menjadi
kebudayaan. Dalam skema ini, ada tiga kutub utama: yang mentah (raw),
yang masak (cooked), dan yang busuk (rotted). Bagi Lévi-Strauss,
tindakan memasak adalah bahasa universal. Sesuatu yang "mentah"
merepresentasikan alam (nature) yang belum tersentuh tangan manusia.
Ketika manusia mulai mengolahnya, mereka sedang melakukan tindakan budaya (culture).
Namun, cara manusia mengolahnya memberikan makna yang berbeda.
Memasak
dengan cara merebus, menurut pandangan ini, adalah tindakan budaya yang sangat
"beradab" karena memerlukan perantara berupa wadah (teknologi) dan
air. Ini menunjukkan adanya jarak antara manusia dan alam, sebuah bentuk
kontrol yang rapi. Sebaliknya, membakar atau memanggang adalah proses yang
lebih "alami" karena api bersentuhan langsung dengan bahan makanan
tanpa perantara. Di sini, kita melihat bahwa pilihan teknik memasak bukan
sekadar masalah selera, melainkan sebuah pernyataan posisi manusia terhadap
alam semesta.
Menyambung
fondasi struktural tersebut, Prof. Robby Hidajat membawa kita pada pemahaman
yang lebih dalam mengenai struktur simbolis. Dalam pandangannya, kebudayaan
tidak hanya dilihat sebagai artefak fisik, melainkan sebagai tatanan nilai,
etika, dan estetika yang termanifestasi dalam tindakan. Pangan dalam perspektif
ini adalah pertunjukan seni kehidupan. Prof. Robby sering menekankan bahwa
setiap gerak dan pilihan dalam tradisi memiliki makna simbolis yang kuat.
Ketika masyarakat memilih untuk mempertahankan cara memasak tradisional seperti
merebus dalam kuali tanah liat atau membakar dengan kayu tertentu, mereka
sebenarnya sedang merawat struktur simbolis yang menghubungkan mereka dengan
leluhur, Tuhan, dan sesama manusia.
Lantas,
bagaimana relevansi struktur simbolis pangan ini bagi manusia modern? Di era
digital yang serba instan, masyarakat modern sering kali kehilangan kontak
dengan asal-usul apa yang mereka konsumsi. Makanan cepat saji dan makanan
olahan pabrik telah memutus rantai "proses" yang dalam teori
Lévi-Strauss merupakan inti dari kebudayaan. Manusia modern cenderung
mengonsumsi produk tanpa memahami proses transformasinya dari
"mentah" menjadi "masak". Akibatnya, terjadi krisis
identitas; manusia merasa terasing dari lingkungan alamiahnya.
Dengan
memahami pola mentah-rebus-bakar, manusia modern diajak untuk kembali
menghargai "proses". Memperhatikan kembali struktur pangan berarti
melatih kepekaan terhadap ritme kehidupan. Misalnya, tren gaya hidup sehat yang
mengedepankan makanan mentah (raw food) atau proses perebusan yang
minimalis bukan sekadar tren diet, melainkan upaya bawah sadar manusia modern
untuk kembali mendekatkan diri pada kemurnian alam (nature) setelah
sekian lama terjebak dalam kompleksitas industri yang artifisial.
Selain
itu, struktur simbolis dalam pangan membantu manusia modern dalam
menegosiasikan identitas sosialnya. Di tengah kepungan budaya global, ritual
makan bersama—seperti tradisi nyadran atau kenduri yang sering dibahas
dalam konteks seni dan budaya oleh Prof. Robby Hidajat—menjadi ruang di mana
struktur simbolis itu bekerja. Dalam acara tersebut, sajian yang direbus atau
dibakar memiliki urutan dan tata cara penyajian yang ketat. Bagi orang modern,
mengikuti atau setidaknya memahami ritual ini adalah cara untuk tetap memiliki
"jangkar" budaya. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap penyeragaman
budaya dunia yang cenderung tawar dan tanpa makna.
Lebih
jauh lagi, pemahaman struktur ini memungkinkan untuk bersikap lebih bijak
terhadap lingkungan. Jika kita menyadari bahwa setiap makanan yang kita olah
adalah bentuk dialog antara diri kita dengan alam, maka kita akan lebih
selektif dalam memilih bahan dan cara pengolahan. Kita tidak akan lagi
memandang makanan sebagai benda mati, melainkan sebagai bagian dari siklus
kehidupan yang sakral.
Sebagai
kesimpulan, teori Lévi-Strauss tentang segitiga kuliner dan pemikiran Prof.
Robby Hidajat tentang struktur simbolis memberikan gambaran "peta"
untuk memahami posisi kita dalam sejarah peradaban. Pola mentah-rebus-bakar
adalah alfabet yang menyusun kalimat-kalimat kebudayaan kita. Bagi manusia
modern, menyikapi kebudayaan melalui pangan berarti berani berhenti sejenak
dari kegilaan dunia instan untuk meresapi setiap rasa dan proses. Dengan
memahami apa yang ada di piring kita, kita sebenarnya sedang memahami siapa
diri kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana kita seharusnya memperlakukan
dunia tempat kita berpijak. Pangan adalah jembatan antara perut yang lapar dan
jiwa yang merindukan makna.
Pembahas: MAH

Posting Komentar untuk "Meja Makan sebagai Cermin Peradaban: Dialektika Simbolis Pangan dalam Kehidupan Modern"