![]() |
| Foto bersama maestro Ludruk Malang (Foto ist.) |
Damariotimes. Sabtu
Kliwon tanggal 3 Januari 2025. Suasana di Padepokan
Seni Mangun Dharma hari ini terasa begitu istimewa, seolah dinding-dinding
kayunya ikut bernapas lega menyaksikan para maestro berkumpul kembali. Tak
tanggung-tanggung, wajah-wajah legendaris ludruk Malang Raya hadir memenuhi
undangan Putri tercinta Ki Soleh Adi Pramono, hasil buah cintanya dengan
Elisabeth, perempuan asal Amerika yang telah lama menyatu dengan budaya Jawa.
Terlihat Mak Ngatiyar dari Sepanjang, Cak Wandi Kali Bakar, hingga Cak Benu
Dampit duduk bersanding. Tak ketinggalan sosok-sosok sepuh seperti Cak Wito Hs,
Cak Rawi Pajaran, Cak Miskam Tumpang, Cak Sukirno Pagelaran, hingga Mama
Chandra dari Gondanglegi. Semuanya hadir dengan senyum merekah, membawa
kerinduan yang mendalam pada panggung yang membesarkan nama mereka.
![]() |
| Cak Suroso, Ketua DKJI memberi sambuatan (Foto ist.) |
Acara dibuka dengan penuh khidmat melalui ritual Ruwatan yang dipimpin
langsung oleh sang tuan rumah, Ki Soleh Adi Pramono. Sebagai dalang pangruwatan
kenamaan, Ki Soleh meruwat putrinya sendiri, Condro Lukitosari, di hadapan para
saksi hidup sejarah ludruk. Di balik kepulan asap dupa dan doa-doa tulus, ada
harapan besar agar studi Tesis yang sedang ditempuh Condro berjalan mulus. Tak
hanya soal akademik, doa-doa yang dipanjatkan oleh Cak Sukirno dan Pak Rawi
juga terselip keinginan orang tua agar sang putri segera dipertemukan dengan
jodoh yang diidam-idamkan.
Setelah prosesi spiritual usai, suasana formal pun mencair menjadi
obrolan "gayeng" dalam sesi bawa rasa atau diskusi ludruk.
Dipandu oleh duet Moderator Cak Wido dan Mama Elok, diskusi ini berubah menjadi
panggung nostalgia sekaligus tempat menumpahkan unek-unek yang selama ini
tersimpan. Di tengah tawa dan canda, muncul sebuah gagasan besar yang lahir dari
keresahan Condro Lukitosari: keinginan untuk mendirikan sekolah ludruk di
Malang. Condro bermimpi agar Padepokan Mangun Dharma bisa menjadi kawah
candradimuka bagi regenerasi ludruk, sama halnya seperti Seni Tari, Karawitan,
atau Teater yang sudah memiliki wadah belajar resmi seperti SMKI maupun ISI.
![]() |
| suasana yang hangat ketika ramah tamah (Foto ist.) |
Kekhawatiran akan kepunahan ludruk memang nyata dirasakan oleh Mama
Elok. Sebagai tandak yang saat ini tengah naik daun, ia menyadari bahwa
rata-rata pemain ludruk yang tersisa sudah berusia di atas 50 tahun. Jika tidak
segera mencetak tenaga muda, ludruk terancam hanya akan menjadi dongeng masa
lalu. Senada dengan hal itu, Cak Wito Hs yang merupakan mantan pemain Ludruk
Wijaya Kusuma Unit II, menegaskan bahwa kunci kejayaan ludruk sebenarnya ada
pada konsep "Tobongan" atau gedung pertunjukan keliling. Baginya,
tanpa ada panggung permanen atau gedongan tempat seniman mengasah
kreativitas setiap malam, upaya pelestarian ludruk hanyalah mimpi di siang
bolong. Ia pun berharap pemerintah tak tinggal diam dan bisa memfasilitasi
kembalinya kejayaan ludruk gedongan seperti di era 1960-an.
Diskusi yang hangat ini juga mendapat perhatian serius dari Cak Suroso,
Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Malang (DKKM). Ia mengingatkan kembali
langkah-langkah yang sudah diambil DKKM, termasuk rangkaian workshop ludruk
yang pernah digelar di berbagai tempat pada tahun 2025 lalu. Cak Suroso
berjanji bahwa aspirasi yang muncul dari Padepokan Mangun Dharma hari ini akan
ia bawa sebagai rekomendasi resmi ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten
Malang. Sepanjang acara, Mbak Elok terus menjaga suasana tetap hidup dengan
banyolan-banyolan cerdasnya yang mengundang tawa, membuat diskusi yang serius
ini terasa begitu menyenangkan dan penuh harapan bagi masa depan kesenian
rakyat Malang.
Kontributor : Cak Marsam



Posting Komentar untuk "Hangatnya Reuni Para Maestro Ludruk dan Mimpi Mendirikan Sekolah Ludruk di Tumpang"