Kunjungi Taman Siswa Probolinggo; Prof. Sri Edi Swasono Kobarkan sosok Ki Hadjar Dewantara

 

Prof. Dr. Sri Edi Swasono kunjungi Taman Siswa Probolinggo (Foto ist.)


Damariotimes. Pada hari Senin yang bersejarah, tanggal 19 Januari 2026, suasana di Perguruan Taman Siswa Cabang Probolinggo terasa lebih khidmat dari biasanya. Kehadiran sosok Prof. Dr. Sri Edi Swasono, seorang Guru Besar Universitas Indonesia sekaligus Ketua Majelis Luhur Taman Siswa, membawa energi intelektual dan semangat kebangsaan yang luar biasa. Meski telah menginjak usia 86 tahun, menantu dari sang proklamator Bung Hatta ini masih menunjukkan dedikasi yang tak padam dalam dunia pendidikan. Beliau masih aktif mengajar dan memimpin perguruan, membuktikan bahwa semangat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tidak mengenal batas usia.



Disambut dengan hangat oleh siswa Taman Siswa Probolinggo (Foto ist.)



Rangkaian acara dimulai dengan apel bersama yang menyatukan guru dan murid dalam satu barisan semangat. Di tengah lapangan, Prof. Edi berdiri memberikan inspirasi yang menggugah jiwa para siswa. Beliau mengajak seluruh murid untuk menanamkan rasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar Taman Siswa. Dalam narasinya, beliau menyelipkan kisah awal berdirinya lembaga ini serta filosofi mendalam di balik Pasal 31 dan 32 UUD 1945 yang dirumuskan oleh Ki Hadjar Dewantara. Pesan beliau sangat tegas bagi generasi muda bahwa mereka adalah pewaris masa depan bangsa, sehingga saat kelak mereka dipercaya menjadi pemimpin, integritas harus dijaga dengan menjauhi praktik korupsi sekecil apa pun.


motivasi yang sangat besar bagi Sekolah Taman Siswa Probolinggo (Foto ist.)



Setelah prosesi apel berakhir, suasana berganti menjadi lebih intim saat para guru berkumpul untuk menerima pembekalan materi. Acara prapemaparan dibuka dengan manis oleh penampilan siswi TK Indria 1 yang membawakan tari piring dengan penuh keceriaan. Ketika Prof. Edi mulai memaparkan materinya, perspektif yang beliau bawa sungguh menarik. Meski beliau merupakan pakar ekonomi kerakyatan, perhatian beliau justru tertuju pada akar kebudayaan. Beliau menekankan bahwa kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 bukan sekadar pernyataan ideologi atau kedaulatan politik, melainkan sebuah pernyataan budaya yang fundamental. Perubahan status dari bangsa yang bermental "kuli" menjadi "tuan" di tanah air sendiri bukanlah perkara mudah karena memerlukan transformasi sikap, keberanian untuk bertindak benar, serta kesadaran nasionalisme yang tinggi agar tidak mudah tunduk pada kekuatan ekonomi global seperti Bank Dunia.

Lebih lanjut, Prof. Edi mengupas tuntas sosok Ki Hadjar Dewantara sebagai fondasi utama pendidikan Indonesia. Beliau membedah alasan mengapa bangsa ini harus memuliakan jasa Ki Hadjar melalui berbagai penghargaan negara, mulai dari pengangkatan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1959 hingga penetapan hari lahirnya sebagai Hari Pendidikan Nasional. Penjelasan mengenai simbol Tut Wuri Handayani yang kini menjadi identitas kementerian pendidikan mempertegas betapa besar pengaruh pemikiran Ki Hadjar. Esai pembekalan ini ditutup dengan penekanan pada pentingnya sistem pendidikan nasional yang tunggal. Beliau meyakini bahwa dalam kerangka Bhinneka Tunggal Ika, sistem pendidikan harus menjadi pengikat yang kuat agar keberagaman bangsa tetap berada dalam satu harmoni yang sistematis dan berdaulat.

 

Kontributor Probolinggo: Nooer

 

Posting Komentar untuk "Kunjungi Taman Siswa Probolinggo; Prof. Sri Edi Swasono Kobarkan sosok Ki Hadjar Dewantara"