![]() |
| Menyantap Nasi Kandar di Penang (Foto ist.) |
Damarioitmes.
Pulau Pinang tidak hanya menawarkan pesona arsitektur kolonial yang estetis,
tetapi juga menyimpan narasi sejarah dalam setiap piring kulinernya. Dalam
sebuah perjalanan ke Malaysia beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menikmati
suasana malam di Penang bersama para kolega dan sahabat: Muhammad Affaf
Hasiymy, Harda Gumelar, dan Robby Hidajat. Pilihan kami jatuh pada
salah satu rumah makan Nasi Kandar, sebuah ikon kuliner yang menjadi simbol
otentisitas budaya India Muslim di semenanjung ini.
Dari
Bahu Pekerja Pelabuhan ke Meja Dunia
Sambil
menanti hidangan disajikan, percakapan kami mengalir pada asal-usul hidangan
ini. Nasi Kandar bukanlah sekadar menu biasa; ia adalah warisan pedagang Muslim
Tamil yang berhijrah dari India Selatan ke Penang pada awal abad ke-19. Nama "Kandar"
sendiri merujuk pada galah kayu yang dipikul di bahu. Dahulu, para pedagang ini
menjajakan nasi dan lauk-pauk dengan memikul dua bakul besar, menyusuri kawasan
pelabuhan untuk memberi energi bagi para buruh dan pekerja kasar.
Kini,
meskipun galah kayu tersebut telah berganti dengan etalase kaca yang modern,
esensi rasa yang dibawa dari resep asli Tamil Nadu tetap terjaga dengan ketat.

asal mula penjual nasi Kandar di Malaysia (Foto ist.)
Ritual
"Kuah Banjir"
Makan
malam bersama Muhammad Affaf, Harda, dan Robby terasa semakin hangat saat
piring-piring mulai memenuhi meja. Ciri khas Nasi Kandar terletak pada Nasi
Kukus yang harum, disandingkan dengan variasi lauk yang menggugah selera—mulai
dari ayam goreng yang renyah, daging kari yang empuk, hingga sotong dan bendi
(okra).
Namun,
puncak dari pengalaman makan Nasi Kandar adalah ritual "Kuah
Banjir". Sang pramusaji dengan cekatan mencampur berbagai jenis kuah
kari di atas nasi hingga meluap. Perpaduan rempah yang melimpah menciptakan
rasa umami yang kompleks; ada jejak rasa pedas, gurih, dan aroma rempah
yang tajam, mencerminkan akulturasi budaya yang kaya di tanah Melayu.
Bersantap
Malam
Bagi
kami, bersantap Nasi Kandar di Penang bukan hanya soal memuaskan rasa lapar.
Diskusi di sela-sela suapan malam itu menyentuh sisi sosiologis bagaimana
sebuah makanan kelas pekerja dapat bertransformasi menjadi identitas nasional
Malaysia Utara yang dibanggakan secara global.
Sebagaimana Nasi Kandar yang menyatukan berbagai jenis kuah dalam satu piring, perjalanan bersama Muhammad Affaf Hasiymy, Harda Gumelar, dan Robby Hidajat ini menyatukan berbagai pandangan dan persahabatan dalam satu meja yang penuh makna. Nasi Kandar adalah bukti nyata bahwa sejarah yang paling jujur sering kali dapat ditemukan di dalam piring-piring yang kita santap.
Reporter : R.Dt.

Posting Komentar untuk "Menyantap Gurihnya Nasi Kandar di Pulau Pinang"